Menakar Format Karya Tulis Anda

Define it yourself; ketahuilah apakah format karya tulis Anda telah tepat?

eny erawati, 19092019

Betapa Mahalnya Mengurus Bangsa Ini

eny erawati, 12092019

Betapa mahalnya “biaya” yang harus dikeluarkan demi mengurusi bangsa ini.
Lahir sudah dengan budaya jadi, sebesar Borobudur di tengah pulau inti.
Tumbuh dengan budaya wali, ahli metalurgi mumpuni yang terbukti bukan cuma sakti, tapi juga sangat berseni.
Berkembang dengan dihiasi kebudayaan agung para santri yang menjadi kyai.
Mendewasa dengan memerdekakan diri ditemani ulama negeri.

Dari lahir, bangsa ini telah sangat mahal meminta bayarannya. Karena bangsa ini memang bukan bangsa kecil apalagi bangsa tanpa budaya. Bangsa ini, sudah besar sejak kelahirannya.
Maka, di setiap phase dalam tumbuh kembangnya, dia selalu meminta sesuatu yang sangat mahal, sebagai bayaran atas dayanya.

Kebodohanlah yang tak pernah lengah menyelimuti.
Luasan nusantara ini; selalu lebih luas papar kebodohannya dibanding luasan negerinya sendiri.

Tak akan menaik harkat manusia sebagai diri, manakala dia tak bisa menghargai.
Tak akan terhormat manusia sebagai diri sejati, manakala tak bisa bijak dalam membawa diri.
Berapa banyak manusia agung yang mati di negeri ini, setelah usai mengurusi bangsa sebesar ini.
Dua yang terbesar, mati di tahun ini.
“Biaya” untuk mengurusi bangsa ini, mahal sekali.

Hentilah menghujat sana sini, itu dan ini.
Jadilah bangsa, seperti manusia kala bangsa ini terlahir dikenal manusia seantero bumi.
Rabalah isi otakmu sendiri, apa kontribusimu bagi kehidupan ini; bagi hidupmu sendiri.
Bagaimana kau akan mempertanggung jawabkannya pada Penciptamu nanti; sebentar lagi.

Jangan menyibukkan dirimu pada suara receh yang tak punya rasa untuk berhenti.
Jangan menghiasi dirimu dengan aneka pemikiran yang tidak sejalan dengan laku berbudi, yang dicontohkan para wali.
Bahkan bangsa ini, lahir tanpa melalui era jahiliyah separah zaman nabi.
Meski anomali, adalah sesuatu yang pasti ada. Ke-jahiliyyah-an bangsa ini, melahirkan manusia manusia sakti yang masyhur sekali.

Maka, jika ke-jahiliyyahanmu tak mengandung kesaktian, sesungguhnya kau sungguh tak ada apa-apanya dibanding para pendahulu bangsa ini. Jangan coba-coba mengaku lebih berbudaya!
(jadi jahil saja gagal gitu kok)

Karena bagi desainer, gak ada yang namanya gagal desain. Yang ada adalah gagal fungsi.
Maka, jangan jadi manusia yang gagal fungsi in the name of penciptaan.

Kami Belajar Mengajarkan

eny erawati, 04092019

Di grup Warkop -grup fotografi yang berpusat-kedudukan di Malang- kami berdua belajar untuk mengajarkan tata cara berfotografi yang njamani -berdiri diatas zaman.

Adalah saya –eny erawati– dan Fadli Rozi yang nampak menjadi hulu ajar. Meski in-real-life kala kita sedang “bermain”, maka teman yang belajar lebih dululah yang mengajari dan/atau menemani praktek teman-temannya. Peer teaching, begitulah istilahnya. Sementara saya lebih berkonsentrasi pada apa yang secara hermeneutika disebut sebagai Verstehen, Fadli di lain sisi, lebih mengajak untuk praktek.
Prinsip bagi kami sederhana: Mastery itu ya harus pake praktek. Berbahasa itu ya pake foto; kan ngakunya fotografer. Dan kebenaran adalah jika apa yang kita bicarakan adalah sama dengan yang kita pandang. Sedangkan Art (sesuatu yang dikatakan bernilai seni) adalah cara kita dalam mem-bahasa-kan apa yang kita pikirkan.

Ketika kami bicara tentang matahari, maka akan segera nampak bahwa kami bicara tentang bagaimana kamera seharusnya memandang matahari SAMA DENGAN mata kita dalam memandangnya. Ini sebabnya saya menamakan grup ini sebagai “suku matahari”. Karena kebenaran bagi kami adalah ketika kita bisa membuat alat perekam, merekam apa yang dilihatnya seperti mata kita melihatnya. What you see is what you get.

Sejalan dengan waktu, Fadli mulai bicara tentang “inverse version dari matahari” yaitu bulan. Dan, sejalan dengan berkembangnya pengetahuan serta pengalaman, bahwa peralatan fotografi itu tak cuma “tools yang dijual di pasar riil” tapi termasuk tools yang harus dibuat untuk menyenyawa terhadap waktu. Karena prinsipnya adalah slow speed dan panning dalam satu frame.

Dan the ultimate achievementnya adalah ketika Fadli mulai bicara tentang bintang; “saudara kandung” matahari kita. Sampai disini, saya tidak mampu menemaninya mengajarkan verstehen dari perbintangan. Selain karena saya tidak punya alat dan pengalaman memotret bintang; pengetahuan astronomi saya juga nyaris nol. Bagi saya, it’s away too unseen to talk about. Tapi secara prinsip, saya masih menemani Fadli dalam mengajari teman teman-teman di Warkop.

Zaman dan kemilenialannya membuat kami harus membuat classification range demi memfasilitasi generation gap antar anggota. Maka, lahirlah Warkop Baby Beta. Dimana cara belajar anak-anak Beta memang berbeda dengan cara belajar anak-anak Alpha. Seperti fotografi yang berasal dari huruf latin (fotos-grafos), begitupula kami menamai generasi pertama sebagai alpha (huruf pertama dari bahasa latin), dan beta (huruf kedua dari bahasa latin).

Hari ini misalnya, saya membidani kelahiran nama dan pawujud maskot dari “anak Beta” dalam bentuk “mencetaknya pada aparel”. Kami belajar digital printing dan mengajarkan prinsip berpikir digital dalam rangka menubuh dengan teknologi. Kali ini, tentu saja, saya yang berposisi jadi hulu ajar praktek; karena background ke-DKV-an saya. Sementara Fadli yang mengajarkan verstehen dari “cara berpikir-yang-menubuh-dengan-teknologi”.

Maka, beginilah …

Filosofi Fotografi: Membaca foto

Eny Erawati, 18082019

Mari bersepakat soal istilahnya terlebih dahulu:
image = gambar,
terdiri dari picture = foto/potret, atau graphic = grafik dan/atau gambaran grafis.

Ketika dihadapkan pada sebuah dan/atau serangkaian gambar, maka pertanyaannya adalah how to read it, photographically? bagaimana membaca foto secara fotografikal?

Apa parameter yang dipakai sebagai ukuran untuk membacanya?
(Gunakan filosofi fotografi sebagai dasarnya)
Apa atau bagaimana hukum atau konsep dalam filosofi fotografi -dalam konteks membaca karya tersebut?
(four ways of conceptualizing technology: as objects, as knowledge, as actions, and as volitions)

Maka, pengajar fotografi harus dapat menjelaskan makna sebuah gambar dalam tataran fotografis yakni secara ontologis fotografi, epistemologis fotografi, metodologi fotografis, teleologis fotografi, dan etis estetis fotografi.
Oleh karenanya, foto dapat diuji oleh penguji yang memiliki keterampilan fotografis (teknis); sehingga foto dapat dinilai oleh penilai yang memakai dasar berpikir filosofi fotografi dalam melakukan penilaian.

The idea of logic is to have clear rules so that conclusions can be drawn unambiguously and consistently by different people.

Eugenia Cheng, Advantages of using logic, The Art of Logic in Illogical World. ISBN 978-1-5416-7250-5

“Ide logika adalah untuk memiliki aturan yang jelas sehingga kesimpulan dapat ditarik secara tidak ambigu dan konsisten oleh orang yang berbeda” Eugenia Cheng, Advantages of using logic, The Art of Logic in Illogical World. ISBN 978-1-5416-7250-5

Logika adalah aturan yang jelas sehingga kesimpulan dapat ditarik secara konsisten dan tanpa ambigu oleh orang yang berbeda

Referensi:
Teaching about Technology
Matematika Fotografi

Matematika Fotografi

Eny Erawati, 17082019

Manusia fotografi obsolet adalah yang berpikir bahwa “tak ada matematika di dalam fotografi.”

eny erawati

Hukum perkalian adalah matematika sederhana di fotografi.
Manusia fotografi zaman dulu mengaplikasikannya di kamar gelap.
Manusia fotografi digital HARUS memakainya di lapangan -saat memotret- karena kalkulator itu diciptakan untuk membantu matematika fotografi juga. Bukan untuk hiasan belaka.
Istilah (filsuf teknologi) Idhe, “Manusia itu menubuh dengan teknologi”.

Namun Benar adalah jika membandingkan gambar dengan EV yang sama.
Jika Anda mempelajari foto hanya dalam 1 matra saja, maka Anda tak akan bisa mempelajari matematika perkalian fotografinya.
Maka Anda tak akan bisa memahami hal itu, jika selama ini Anda membandingkan gambar yang tak sematra sebagai dasar kebenaran Anda.

Ketika ada matematika “perkalian” maka pasti ada matematika “pembagian”.

Manusia fotografi obsolet adalah yang berpikir bahwa "tak ada matematika di dalam fotografi."Hukum perkalian adalah…

Posted by Eny Erawati on Friday, August 16, 2019

Namun hukum kebenarannya tetap: EV berbeda jangan dibandingkan dengan yang EVnya sama.

Matematika Penjumlahan Fotografi.

Catatan tentang Bahasa Cahaya

Eny Erawati·Senin, 05 Agustus 2019

Ini tentang luminans dan illuminans dalam bahasa visual.
Brightness & shadow adalah bahasa yang berbeda dengan bahasa pencahayaan. Brightness adalah tentang kilau yang di fotografi berarti tercahayai paling banyak atau f/ paling rendah. Shadow adalah tentang bebayangan yang terdiri dari 2 hal, yakni bebayangan pada object dan bebayangan pada backround. Bahasa pencahayaan adalah tentang mendapatkan hitungan matematis keseluruhan pencahayaan pada scene tersebut.

Bahasan tentang brightness atau kilau bisa memakai analogika drawing berikut. Sedangkan bahasan tentang shadow atau bebayangan bisa memakai analogika shadowing berikut. Adapun tentang menggambar dengan memakai kilau sebagai mata pena, yakni: volume, flow, value, dan texture bisa dilihat di link berikut. Untuk memahami bagaimana menggambar dengan memakai bebayangan sebagai mata pena-nya, silahkan membaca analogika di page ini. Secara keseluruhan dibahas sebagai metodologi berbahasa (syntax) seperti analogika di laman ini.

Hanya, mohon diingat, bahwa baik menggambar dengan mata pena “kilau” ataupun dengan mata pena bebayangan, keduanya bukan sama dengan berbicara tentang pencahayaan keseluruhan gambar atau scene -yang dalam fotografi disebut sebagai exposure dengan satuan EV atau dibaca exposure value.

Catatan pentingnya adalah jika tentang kilauan terdapat terminologi core light, high light, dan mid-tones; maka tentang bebayangan terdapat terminologi core shadow, occlussion shadow, dan cast shadow. Agen lawan dari sumber cahaya adalah ambient, sedangkan agen lawan dari shadow adalah occlussion.
core light <> core shadow
high light <> occlusion shadow
mid-tones <> cast shadow
luminans <> ambient
illuminans <> occlusion