Jika Kau Muslim Ber Uang

Jika kau muslim dan ber-uang

Hati-hatilah teman.
Jika kau muslim dan mulai memiliki uang agak banyak, maka ini saatnya kau berhati hati. Dengarkan aku kali ini.

Jika kau memiliki simpanan beberapa puluh juta entah kau simpan dimana, lalu ada orang yang mendekatimu dengan balutan agama, maka saranku, menjauhlah.
Mundurlah dari berteman dengannya.

Tunggu apakah dia akan tetap mendekatimu ketika kau tak lagi memiliki beberapa juta itu lagi.

Karena mereka memiliki sensor luar biasa pada uang cash. Either itu uangmu atau kau ngutang pada entah siapa.

Saranku, menjauhlah dari orang yang mendekatimu berbalut agama, dan merayumu untuk “hijrah” saat kau punya uang. Terutama jika diatas 10 jeti. Sensor mereka bekerja di angka sekitar itu.

Agama tidak meminta uang melebihi dari besaran zakat wajibmu.
Agama tidak membuatmu mengeluarkan uang lebih dari yang kau mau.
Agama tetap menjadi agama dan berada di dekatmu, meski kau tak punya apapun lagi yang melekat padamu.
Jika seseorang mendekatimu berbalut agama, segera lah lihat dirimu.
Jika kau punya simpanan agak besar, maka menjauhlah darinya dulu.

Percayalah padaku.

Iklan
Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Fenomena Belanja Daring

2018-01-19_06-35-42
Saya korban sekaligus penikmat model belanja daring, sejak awal model ini mulai berlaku. Saya sudah belanja daring di tokonya Jack Ma dengan model bayar CC, hanya itu model bayar yang diterima toko daringnya Jack Ma. Terkadang saya belanja di ebay dengan paypal.
Sejak Indonesia sudah menyediakan toko daring, saya menjadi pebelanja toko daring dari awal. Mengalami masa masa membandingkan tak berkesudahan. Lebih murah daring, waktu itu. Lalu lama lama, harganya mulai fifty-fifty, dan pada akhirnya tak sebanding. Harga intangible valuenya tak terbandingkan.
Otak materialisme saya mulanya hanya menghitung perbandingan “biaya parkir, biaya muter muter, biaya ngantri kasir” dan tentu saja “ongkos kirim”. Lalu otak filosofi saya -yang meski belum terlalu berkembang karena masa asuh tumbuh kembangnya juga cuma selama saya menjadi mahasiswanya my prof- mulai angkat bicara. Bahwa ada intangible value yang berlaku dalam gaya belanja daring, dan menjadi keputusan saya soal bagaimana membuatnya bernilai.
Zaman telah bergeser, gaya hidup dan segala hal tentang kehidupan mulai mendua. Belanja pun mendua: ya belanja di toko fisik, ya belanja di toko daring. Saya masih melakukan keduanya. Saya ke Royal ATK, Toga, Hartono, Lai Lai, Loka dan mart-mart pinggir jalan, juga pebelanja daring yang super istiqomah. Di luar kota pun, saya tetap ke Beringharjo, Sunardi, Mirota, Bodyshop, L’occitane, meski saya seringkali terpaksa beli deodoran via daring. Kulit ini memang rada kebacut.
“Lebih suka belanja daring atau toko fisik?” Ini model pertanyaan zaman old yang tidak penting untuk ditanyakan. Karena jawabannya pasti: kedua model belanja itu tak terelakkan di zamanow.
“Bagaimana pendapat Anda tentang toko fisik yang makin kehilangan ghirah dan makin banyak yang tutup?” Pertama, memang adalah sebuah kesalahan fatal jika toko fisik tidak mau repot untuk mengubah diri agar juga mampu menjadi toko fisik dan daring. Kesalahan fatal. Karena jika dia kepedean tidak mau mengubah dirinya untuk aksesibel secara daring, maka kematiannya sungguh bisa ditebak; dan sangat dekat. Kedua, toko fisik memang bukan sekedar untuk melayani kebutuhan riil, namun menjalani dua fungsi yang vital meski bukan semata mata, yakni ajang berinteraksi fisik untuk mengkonfirmasi kualitas layanan, dan ajang untuk menjaga memori dan pengalaman berbelanja. Meski tidak semata-mata. Karena makin hari akan makin banyak orang tidak perduli pada kedua fungsi itu karena alasan waktu atau cost nya yang terlalu tinggi. Biaya membawa sekeluarga keluar rumah untuk belanja itu mahal jika dihitung dari biaya transportasi, parkir, waktu dan semacamnya. KEsimpulan, pendapat saya tentang toko fisik yang kehilangan ghirah, silahkan ambil cuti dan jalan jalanlah ke negeri tetangga. Semacam singapura, atau negara manapun tempat orang biasa belanja, kecuali daerah arab. Lihatlah bahwa disana, tidak ada lagi toko super besar. Mereka para pemegang merek itu lebih memilih menjadi toko kecil saja dan berbagi konsentrasi untuk running maintenance pada customer pebelanja daring. Be strong, dan contohlah filosofi mereka.
“Profesional yang bekerja profesional via daring? Apa ada?” Sederhananya, segala hal harus dapat tersentuh dan terakses via daring. Apapun dan siapapun. Jika kita beranggapan bahwa tidak ada pekerja profesional yang bisa digantikan oleh teknologi daring, Anda salah besar. Meski jangan pula menerjemahkan dengan cekak, tapi contoh sederhana bahwa profesi pun bisa masuk ke dunia bisnis daring adalah dokter online dan guru online. Di luar negeri bahkan sudah tersedia penasehat hukum online bagi para profesional yang terpumpun dalam asosiasi profesi.
Siapapun akan belanja daring nowadays, furthermore in the future. Mari menyiapkan diri untuk menjadi agen dan pengguna model ini.
Saya akan tetap mendua, ya fisik ya daring. Karena bagi saya, berinteraksi dengan manusia riil adalah what’s valueable the most dalam kehidupan ini. Menggoda mas kasirnya Lai Lai, silang sapa dengan mbak kasirnya Loka, jawil jawil pemiliknya Lai Lai sekedar berbagi kabar, ngelamun sambil ngitung dan mikir ditemani mas mas di Hartono, atau jowal-jawil mas mas di Toga untuk mencarikan judul buku tertentu dan semacamnya, adalah pengalaman yang valuable dalam berbelanja, bagi saya. Daring tak akan bisa menggantikan pengalaman intangible value itu, betapapun sophisticatednya teknologi mereka.
eny erawati, 19012018
Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Ditinggal Matahari

Menatap nanar semesta sejak matahari tak bisa kujumpa
Ia meninggalkanku tanpa suara sapa
Aku menggigil, dadaku remuk rerasa

2018-01-12_04-35-41

Matahari tak mau membalas surat rinduku. Walhasil, aku kuyub ditemani malaikat hujan.

2018-01-12_04-39-09

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Being Sarkastic

Jakarta itu hebat
Bisa memakan segala ragam menu kemanusiaan: goreng, bakar, atau masak santan
Menghabiskannya hingga licin tandas

“Jakarta itu hebat” adalah kalimat positif. “Bisa memakan segala ragam kemanusiaan, dan menghabiskannya hingga licin tandas” adalah kalimat negatif.

2018-01-12_04-30-29.jpg

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Prinsip dalam Islam

2018-01-12_04-17-50

Dalam Islam, terdapat beberapa hal prinsip yang dapat dipakai sebagai pegangan, agar tidak mudah terombang ambing dihajar hoax atau serangan fajar di aneka acara pil-pil an.

Prinsip Islam
1. Jangan biarkan apapun dipegang oleh yg bukan ahlinya
2. Jangan berikan jabatan pd siapapun yg terlalu menginginkannya

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Selamat Merayakan Liburan

Selamat merayakan liburan
Kepada para keluarga yang telah bersua muka menuntaskan rindu pada sedarah sekeluarga
Kepada rekan, teman, sahabat yang hanya bersua di ruang maya saja
Selamat merayakan liburan
Bagi yang merayakannya
Selamat menyelamatkan diri dari keriuhan
Bagi yang tidak bersuka merayakannya
Pilihan apapun yang Anda lakukan
Semoga kita mendulang kebahagiaan pada akhir masa
Dan menghadapi pergantian almanak dengan penuh asa
Semoga kita mampu pensiun jadi seorang penggerutu
Semoga kita terlindung dari menjadi golongan tertipu
Semoga keikhlasan kembali menyinari masing-masing kalbu
Semoga Tuhan menambahkan ridho dan pertolongan dari segala penjuru
Semoga perlindungan Tuhan melebar nyumambrah kemanapun kita menuju
Selamat ber-tahun baru

Semoga matahari tak lupa meridhoiku dan teman-teman mainku
31 Desember 2017

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Visualizations, the Shifting Era: Perkenalan

26060464_10155151632286302_2444329530212447992_o26060268_10155151710511302_280916202263701684_o

Surat buat my prof
Prof, salah satu tantangan bagi para desain dan visualizer di era serba digital yang serba kacau, serba mendua, dan serba cepat berubah ini adalah memvisualisasikan data besar.
Skill analisis itu harus segera diwujudkan dalam bentuk visual. Dan itu soal yang sangat teknikal.
Jika tidak memahami esensi filosofis, dan tidak memiliki keterampilan teknikal, maka apapun ujaran visual seorang desainer dan/atau visualizer akan menjadi pepesan kosong belaka.
Maka, ijinkan saya sesekali bicara teknikal yang blas bukan filosofikal, yang lalu di lain waktu bicara filosofikal yang diujicobakan pada teknikal -entahlah bagaimana menamainya.
KeserbaGeJean yang mungkin tampak seperti kebaperan.
Well, Baper itu penting je prof.
hehe …

Merayakan kehidupan; saya meniru njenengan.
eny erawati

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar