Kontemplasi bukan Selebrasi

Saat saya sibuk berusaha memahami bagaimana kejadian itu bisa terjadi, tulisan ini muncul, mengetuk nalar diri.
My prof terlalu sering menyindir saya bahwa saya masih jenis manusia panggung, yang masih terlalu menganggap penting perhatian orang pada “panggung”, bahkan cenderung menganggap penilaian orang sebagai sesuatu yang agung.
Kebaikkan yang saya lakukan, masih demi penilaian orang yang saya anggap agung.
Maka saya masih cenderung melakukan sesuatu dalam rangka selebrasi; hampir tak pernah berkontemplasi.
Sesungguhnya sampai detik ini saya masih buram nalar, apakah pemikiran saya adalah hasil kontemplasi, atau masih selebrasi?
Apakah saya masih jenis manusia panggung yang melakukan sesuatu demi sorot mata orang, sukur sukur dapat pujian. Atau saya sudah sama sekali tak ambil pusing tentang penilaian orang. Termasuk fakta betapa orang telah begitu skeptis pada ketulusan, apalagi kebaikan tindakan berdasar ketulusan. Semua orang berpikir bahwa ketulusan adalah mitos kehidupan yang sudah punah dimakan zaman, demi membenarkan sikapnya yang juga tidak mengandung ketulusan.
Pada kasus guru Budi, apa hasil kontemplasi saya? Bagaimana hasil kontemplasi Anda? Seperti apa kontemplasi mereka?
Harusnya, kita tahlilan nasional. Begitu batin saya. Mereka yang tidak seagama, boleh tetap ikut majelisan kok, meski diem duank. Bahkan boleh ikut maem berkatnya, kalau ada. Tapi harusnya, kita tahlilan nasional. Demi membangunkan nurani semua orang. Begitu kata nalar saya.
Bahwa yang lain lebih suka mencari kambing untuk dicat hitam bila perlu, ya terserah mereka.
Bahwa yang lain lebih suka berselebrasi agar dianggap peduli, ya monggo saja.
Atau bahkan ada yang sibuk mencari pelakunya, agar bisa dibully habis habisan, mungkin itu sudah hobinya. Sila saja. Saya tidak ikutan.
Pokok penalaran saya bunyinya tetap sama, harusnya kita tahlilan.
Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Pensiun Memberi Nama pada Asumsi

Rasanya sejak tesisan, persisnya sejak aku berkali kali mendapati diriku terbentur bentur karena faktanya selama ini aku menghidupi “gaya hidup” yang memberi makan pada falasia (sesat nalar).
Falasiaku begitu akut, terutama karena lingkungan tidak lagi mengirim sinyal bahwa logika yang sesat (falasia) adalah pemikiran yang tidak benar. Faktanya, lingkungan justru membuat falasia menjadi semacam gaya bahasa keseharian. Bahasa yang seperti dimaklumi segala suku bangsa. Maka para pengidap falasia bukan cuma menjamur, namun tidak lagi sadar bahwa ia adalah pengidap falasia (sesat nalar).
 
Misalnya, seseorang ditangkap KPK karena tuduhan korupsi atas kejanggalan laporan belanja yang menggelembung di pos tak definitif misalnya. Lalu si tertuduh ngotot berkata, angkanya memang tidak wajar dan triangulasinya mengindikasikan ada keanehan. Namun jika tidak ada yang membawa bukti bahwa ia memegang uang secara fisik, maka ia merasa tidak bisa dijadikan terdakwa.
Atau,
Kejadian perkosaan. Jika tidak ada saksi yang bisa membuktikan bahwa korban telah menolak usaha pelaku, maka pelaku merasa tak bisa dijadikan tersangka perudapaksa. Bahkan, yang mulia anggota DPR pernah menganggap bahwa kasus perkosaan tidak bisa menjadikan seseorang terdakwa karena jika korban tidak secara fisik terbukti memprotes maka dianggap menikmatinya.
 
Nalar njungkel yang dihidupi oleh banyak orang bukan?!
Padahal itu adalah falasia.
 
Setiap kali memasuki masa menulis karya ilmiah, aku akan selalu tersadar untuk tidak lagi memegang asumsi. Mindsetnya: segala yang asumtif harus ditebang. Asumsi adalah mata uang yang tidak laku. Meski demikian, logika pun harus dijaga kejernihannya.
Ini letak masalahku, biasanya. Letak masalah hampir semua mahasiswa, pada umumnya.
 
Untungnya, aku sungguh beruntung: para prof kami adalah ahli bahasa. Tiga diantara prof prodi kami adalah ahli bahasa. Dan satu diantara beliau itu, super sensi terhadap falasia. Beliau tidak pernah marah atau nesu nesu pada orang per orang. Tapi bisa super nesu, mecucu atau malah mencep, dan akhirnya mingkem pada falasia. Hanya falasia seseorang lah yang bisa membuatnya nesu-nesu. Tidak marah, namun cukup untuk membuatnya nesu-nesu.
 
Dan beliau adalah pembimbingku. Sementara falasiaku akut. Great!
 
⚜️
Maka, sekarang tips yang bisa kubagi untuk mereka yang sedang menulis karya ilmiah:
 
Pertama dan utama,
Pensiunlah berasumsi, apalagi membela asumsi dengan mati matian.
Jika Anda memiliki pemikiran atau penalaran, maka jadikan itu hipotesa, yang kemudian bisa Anda uji. Hanya jika Anda telah super yakin bahwa metode uji hipotesa Anda valid, Anda bisa mendiseminasi alias menyebarkan hipotesa Anda.
Sekali Anda makan asumsi, biasanya, Anda tidak lagi nyadar bahwa Anda sudah termakan asumsi.
 
Kedua,
Setidak-tidaknya, jangan terlalu gegabah membuat simpulan. Uji dulu bobot alasan-alasan yang Anda dapatkan atau disajikan pada Anda.
Tidak ada bayangan yang lurus jika tiangnya bengkok.
Tidak ada simpulan yang lurus jika aslinya yakni data data yang mendukung lahirnya sebuah kesimpulan adalah bengkok alias tidak reliabel.
 
Ketiga,
Anda dan pengajar Anda bukan dewa di bidang yang sedang Anda bahas.
Maka minimal, Anda mencari buku-buku teori utama dari buku aslinya yang bisa Anda kutip. Biasanya, para ahli adalah memang orang non Indonesia. Maka biasanya, kitab-kitab teori yang dikategorikan sebagai sumber utama adalah kitab kitab berbahasa non indonesia juga. Kecuali kitab-kitab berbahasa arab pegon. Ahlinya biasanya justru orang Indonesia, dan kitab aslinya adalah yang berbahasa pegon.
Teori utama yang diterjemahkan, itu bukan lagi rujukan utama. Maka teori yang Anda dengar dari dosen Anda, apalagi teori teori buatan Anda adalah bukan rujukan utama.
Save your butt eh maaf, selamatkan diri Anda, lengkapi dengan dukungan teori dari sumber rujukan utama. Sekali lagi, lengkapi tulisan Anda dengan dukungan teori dari sumber rujukan utama.
 
Catatan pinggirnya adalah tolong Anda sadari satu hal, Anda tidak akan tahu bahwa lapangan basket itu luas dan terdiri dari bagian bagian daerah yang memiliki prinsip hukum berbeda yang berlaku jika Anda tak pernah melihat dari jauh, seluruh area lapangan basket itu, dan tidak pernah melihat gambar yang memisahkan batasan daerah daerah yang berhukum khusus padanya.
Anda harus mencari tahu semua teori yang berkaitan dengan teori utama Anda, pro dan kontranya, untuk boleh Anda bawa maju sebagai teori yang mendasari tulisan karya ilmiah Anda. All of it, untuk memahami peta teori yang sedang Anda hidupi itu.
Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Jika Kau Muslim Ber Uang

Jika kau muslim dan ber-uang

Hati-hatilah teman.
Jika kau muslim dan mulai memiliki uang agak banyak, maka ini saatnya kau berhati hati. Dengarkan aku kali ini.

Jika kau memiliki simpanan beberapa puluh juta entah kau simpan dimana, lalu ada orang yang mendekatimu dengan balutan agama, maka saranku, menjauhlah.
Mundurlah dari berteman dengannya.

Tunggu apakah dia akan tetap mendekatimu ketika kau tak lagi memiliki beberapa juta itu lagi.

Karena mereka memiliki sensor luar biasa pada uang cash. Either itu uangmu atau kau ngutang pada entah siapa.

Saranku, menjauhlah dari orang yang mendekatimu berbalut agama, dan merayumu untuk “hijrah” saat kau punya uang. Terutama jika diatas 10 jeti. Sensor mereka bekerja di angka sekitar itu.

Agama tidak meminta uang melebihi dari besaran zakat wajibmu.
Agama tidak membuatmu mengeluarkan uang lebih dari yang kau mau.
Agama tetap menjadi agama dan berada di dekatmu, meski kau tak punya apapun lagi yang melekat padamu.
Jika seseorang mendekatimu berbalut agama, segera lah lihat dirimu.
Jika kau punya simpanan agak besar, maka menjauhlah darinya dulu.

Percayalah padaku.

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Fenomena Belanja Daring

2018-01-19_06-35-42
Saya korban sekaligus penikmat model belanja daring, sejak awal model ini mulai berlaku. Saya sudah belanja daring di tokonya Jack Ma dengan model bayar CC, hanya itu model bayar yang diterima toko daringnya Jack Ma. Terkadang saya belanja di ebay dengan paypal.
Sejak Indonesia sudah menyediakan toko daring, saya menjadi pebelanja toko daring dari awal. Mengalami masa masa membandingkan tak berkesudahan. Lebih murah daring, waktu itu. Lalu lama lama, harganya mulai fifty-fifty, dan pada akhirnya tak sebanding. Harga intangible valuenya tak terbandingkan.
Otak materialisme saya mulanya hanya menghitung perbandingan “biaya parkir, biaya muter muter, biaya ngantri kasir” dan tentu saja “ongkos kirim”. Lalu otak filosofi saya -yang meski belum terlalu berkembang karena masa asuh tumbuh kembangnya juga cuma selama saya menjadi mahasiswanya my prof- mulai angkat bicara. Bahwa ada intangible value yang berlaku dalam gaya belanja daring, dan menjadi keputusan saya soal bagaimana membuatnya bernilai.
Zaman telah bergeser, gaya hidup dan segala hal tentang kehidupan mulai mendua. Belanja pun mendua: ya belanja di toko fisik, ya belanja di toko daring. Saya masih melakukan keduanya. Saya ke Royal ATK, Toga, Hartono, Lai Lai, Loka dan mart-mart pinggir jalan, juga pebelanja daring yang super istiqomah. Di luar kota pun, saya tetap ke Beringharjo, Sunardi, Mirota, Bodyshop, L’occitane, meski saya seringkali terpaksa beli deodoran via daring. Kulit ini memang rada kebacut.
“Lebih suka belanja daring atau toko fisik?” Ini model pertanyaan zaman old yang tidak penting untuk ditanyakan. Karena jawabannya pasti: kedua model belanja itu tak terelakkan di zamanow.
“Bagaimana pendapat Anda tentang toko fisik yang makin kehilangan ghirah dan makin banyak yang tutup?” Pertama, memang adalah sebuah kesalahan fatal jika toko fisik tidak mau repot untuk mengubah diri agar juga mampu menjadi toko fisik dan daring. Kesalahan fatal. Karena jika dia kepedean tidak mau mengubah dirinya untuk aksesibel secara daring, maka kematiannya sungguh bisa ditebak; dan sangat dekat. Kedua, toko fisik memang bukan sekedar untuk melayani kebutuhan riil, namun menjalani dua fungsi yang vital meski bukan semata mata, yakni ajang berinteraksi fisik untuk mengkonfirmasi kualitas layanan, dan ajang untuk menjaga memori dan pengalaman berbelanja. Meski tidak semata-mata. Karena makin hari akan makin banyak orang tidak perduli pada kedua fungsi itu karena alasan waktu atau cost nya yang terlalu tinggi. Biaya membawa sekeluarga keluar rumah untuk belanja itu mahal jika dihitung dari biaya transportasi, parkir, waktu dan semacamnya. KEsimpulan, pendapat saya tentang toko fisik yang kehilangan ghirah, silahkan ambil cuti dan jalan jalanlah ke negeri tetangga. Semacam singapura, atau negara manapun tempat orang biasa belanja, kecuali daerah arab. Lihatlah bahwa disana, tidak ada lagi toko super besar. Mereka para pemegang merek itu lebih memilih menjadi toko kecil saja dan berbagi konsentrasi untuk running maintenance pada customer pebelanja daring. Be strong, dan contohlah filosofi mereka.
“Profesional yang bekerja profesional via daring? Apa ada?” Sederhananya, segala hal harus dapat tersentuh dan terakses via daring. Apapun dan siapapun. Jika kita beranggapan bahwa tidak ada pekerja profesional yang bisa digantikan oleh teknologi daring, Anda salah besar. Meski jangan pula menerjemahkan dengan cekak, tapi contoh sederhana bahwa profesi pun bisa masuk ke dunia bisnis daring adalah dokter online dan guru online. Di luar negeri bahkan sudah tersedia penasehat hukum online bagi para profesional yang terpumpun dalam asosiasi profesi.
Siapapun akan belanja daring nowadays, furthermore in the future. Mari menyiapkan diri untuk menjadi agen dan pengguna model ini.
Saya akan tetap mendua, ya fisik ya daring. Karena bagi saya, berinteraksi dengan manusia riil adalah what’s valueable the most dalam kehidupan ini. Menggoda mas kasirnya Lai Lai, silang sapa dengan mbak kasirnya Loka, jawil jawil pemiliknya Lai Lai sekedar berbagi kabar, ngelamun sambil ngitung dan mikir ditemani mas mas di Hartono, atau jowal-jawil mas mas di Toga untuk mencarikan judul buku tertentu dan semacamnya, adalah pengalaman yang valuable dalam berbelanja, bagi saya. Daring tak akan bisa menggantikan pengalaman intangible value itu, betapapun sophisticatednya teknologi mereka.
eny erawati, 19012018
Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Ditinggal Matahari

Menatap nanar semesta sejak matahari tak bisa kujumpa
Ia meninggalkanku tanpa suara sapa
Aku menggigil, dadaku remuk rerasa

2018-01-12_04-35-41

Matahari tak mau membalas surat rinduku. Walhasil, aku kuyub ditemani malaikat hujan.

2018-01-12_04-39-09

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Being Sarkastic

Jakarta itu hebat
Bisa memakan segala ragam menu kemanusiaan: goreng, bakar, atau masak santan
Menghabiskannya hingga licin tandas

“Jakarta itu hebat” adalah kalimat positif. “Bisa memakan segala ragam kemanusiaan, dan menghabiskannya hingga licin tandas” adalah kalimat negatif.

2018-01-12_04-30-29.jpg

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Prinsip dalam Islam

2018-01-12_04-17-50

Dalam Islam, terdapat beberapa hal prinsip yang dapat dipakai sebagai pegangan, agar tidak mudah terombang ambing dihajar hoax atau serangan fajar di aneka acara pil-pil an.

Prinsip Islam
1. Jangan biarkan apapun dipegang oleh yg bukan ahlinya
2. Jangan berikan jabatan pd siapapun yg terlalu menginginkannya

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar