Itu-itu Saja

(catatan eny erawati merespon komentar ummat)

“Samean kok omongannya nyindir soal jumatan mulu seh?! Sindiran kok itu-itu aja. Gak kreatif tenan 😀 “

Bahkan andaipun memang terbukti sah dan meyakinkan bahwa aku ga kreatif, bahasanku masih akan tetap di bab sholat jumat, ketika yg dibahas adalah laki-laki muslim. Karena jumatan adalah parameter penilaian yang valid dan sah, dalam islam.

Keislaman seseorang tak bisa diukur dari ibadahnya. Itu benar. Tapi khusus soal jumatan, karakteristiknya semua kasat mata: sunnah untuk mandi besar (keramas), sunnah memakai pakaian terbaik, harum, potong rambut, potong kuku, wajib jamaah di masjid bukan di tempat ibadah yg statusnya “kurang” dari masjid (bukan di langgar, surau, atau lapangan). Jumatan harus di masjid, berjamaah, waktunya ditetapkan, tidak boleh terlambat apalagi melambat-lambat. Pokoknya, parameter kegiatan pelakunya terlihat mata, semuanya. Begitu wajibnya, hingga hukum bepergian pada hari jumat bisa haram jika karena travellingnya itu membuatnya tidak sah melaksanakan jumatan.

Jumatan adalah satu satunya ibadah wajib yang gak urus dengan penilaian orang. Babah dianggap riya, ujub atau apa saja. Ga masalah dianggap bigot, nekat dan semacamnya. Ga boleh pusing jika harus kehilangan omset hanya karena tutup toko saat masuk waktu jumatan. Bukan cuma tidak boleh ambil pusing, laki laki muslim harua meninggalkan dunia dan seisinya hanya untuk jumatan. Wajib, dan fardhu ain.

Kau boleh melarangku menakar dan mengukur keislaman orang lain dari ibadahnya; apa saja, kecuali soal jumatan. Kau boleh melarangku menasbihkan julukan orang alim pada ahli ibadah jenis apa saja, kecuali ibadah jumat. Meski ia rajin jumatan, tak akan pernah ada yang namanya “ahli jumatan”. Karena serajin rajinnya, sekhusyuk khusyuknya, sebagus bagusnya seseorang yang melakukan jumatan, ia hanya melakukan hal yang wajib belaka.

Namun setelat-telatnya seseorang ikut jumatan -sangat terlambat adalah jika seseorang masuk masjid saat adzan sudah dikumandangkan sebelum khutbah dimulai, ia tak akan bisa mengqodho ibadahnya sampai kapanpun juga.

Aturan yang sangat ketat, jelas, dengan parameter kasat mata.
Maka jika seruanku untuk jumatan itu kau anggap sepele atau bahkan obsolet, aku tetap menyuarakan hal yang sama.
Karena bagi laki laki muslim yang tidak jumatan, dia bisa dinilai keluar dari islam. Itu jauh lebih serius dari sekedar status atau julukan.

Seruanku untuk jumatan, bukan hanya dalam rangka pilpres belaka. Bukan cuma karena aku geram pada mereka yg bisa sengaja abai pada jumatan saja. Bukan semata mata karena diantara kalian sengaja mengecilkan nilai kefardhuan jumatan belaka. Tapi karena kalian yang melakukan itu, bahkan meski cuma sekedar memaafkan tindakan meninggalkan jumatan, adalah telah berbohong pada Tuhan. Kalian berbohong -membohongi Tuhan- dengan mengesahkan (mengakui) kemusliman seorang laki-laki yang meninggalkan jumatan.

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Memprotes Tuhan

(catatan reflektif merenungi nasib, eny erawati)

Ummat kurang ajar itu, ummat yang suka memprotes Tuhan. Apapun yg di takdir kan padanya, dia selalu memprotesnya. Kadang hanya karena “ga enak dilihat manusia lain yg katanya temannya”. Kadang juga karena dia sudah ga sanggup memikulnya, berasa kalah daya.

Berapa kali aku memprotes Tuhan karena badanku. Dan selalu menghasilkan sesuatu, bukan bebanku yang dikurangi tapi dayaku yang ditambahi. Sehingga, lama lama, aku ngeri juga jika mau memproteskan sesuatu. Jangan jangan, nanti aku malah dipiketkan disitu.

Dulu, aku cuma punya urtikaria -sakit kulit biasa. Tapi karena protes melulu karena malu dengan penampilan kulitku, maka Tuhan pun menambahinya dengan psoriasis. Gak kapok juga, masih protesan karena daftar alergi yang makin panjang, maka psoriasisku malah dibuat meledak, sampai 75% tubuh termasuk kulit kepala. Bahwa Tuhan tidak meringankan bebanku, namun menambah dayaku, kubuktikan dengan kemampuan kami membayar dr Urip Sudirman. Dokter kulit paling mahal sak Jatim kayaknya. Dari almarhum aku mendapat treatmen minyak utk mengendalikan psoriasis di tubuh, curcuma yang waktu itu masih berupa kapsul nyampur, dan kortikosteroid. Minyaknya itu yg ndak dikasi tau, itu minyak apa. Dan setelah aku mengganti gaya hidupku -dari sabun, baju, beras, minuman, semuanya termasuk semua peralatan dapur, barulah hidupku mulai bisa ditata lagi.

Aku baru sadarnya akhir akhir ini. Bahwa bukan bebanku yang diperingan, tapi dayakulah yang sedang ditambah oleh Rabbuna. Untuk setiap kali Rabbuna mendatangkan masalah untukku.

Setahun ini, aku terlumpuhkan. Cuma dikasi jempol yang masih bisa berfungsi bagus. Aku sudah kebelet protes, kerja apa yang cuma mengandalkan jempol? Bagaimana aku bertanggung jawab menghidupi diriku jika movementku terbatasi seperti setahun ini. Berkali kali aku ingin protes begitu. Tapi selalu urung.
Kalau suatu saat aku dipiketkan cuma perlu memakai jempol untuk bekerja, aku mau apa?
Ah, ngeri juga membayangkannya.

Maka, aku tidak jadi protes. Aku mencoba mendawwamkan hamdalah saja, untuk apapun takdirku.
Dari segitu banyak hal yg bisa kupelajari dari sakitku, yang paling utama adalah aku harus belajar nerimo ing pandum. Usaha nya wajib, tapi soal hasil, itu bukan urusan saya. Andai itu pelajaran gampang bagi manusia sedunia, itu masih pelajaran yg sulit bagiku. Keinginanku masih banyak, soalnya.

Aku iloh doyannya ama yang ganteng ganteng 🙂

Aku yang seumur hidup expert menjadi pemrotes Tuhan, harus belajar untuk menerima apapun pemberianNya.
Masih belajar …

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

What’s Happened Fb?

Whats happening dengan FBku?
Kenapa dari tadi, usahaku memposting sesuatu selalu failed?

It’s day light time, and it still cant perform well. *sighs

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Persepsi vs Perspektif

Persepsi vs Perspektif
(catatan eny erawati tentang cara melihat dalam bahasa cahaya)

Persepsi atau perception adalah cara makhluk hidup dalam melukiskan apa yang dirasakan lewat sensornya: apa yang terlihat, tercium, terasa, atau terdengar.
Persepsi adalah gerakan mendelok, mengerungokkan, meraba, mengendus, atau mencicipi sesuatu.

Perspektif atau huruf k nya diganti dengan huruf c dalam bahasa inggris, adalah menggunakan semua pengetahuan seseorang untuk menafsirkan apa yang tertanggap oleh semua indera, termasuk semua tangkapan indera yang terjadi di masa lampau, dan ekspektasi akan apa yang bisa ditangkap di masa depan.
Perspektif adalah tentang membuka tabungan pengetahuan atas segala yang pernah didelok, diraba, dicicip, diendus, atau didengarkan.

Dalam otak manusia yg luar biasa ini, kedua hal tersebut bisa berjalan bersamaan dan dalam satuan waktu yang sangat rapid. Secara fotografis menerjemahkan kedua kata itu bisa dengan cara sesederhana ini:
Persepsi adalah tentang memakai kamera untuk memotret.
Perspektif adalah tentang mengeset kameranya untuk memotret.

Fotografer adalah seseorang yang menggunakan seluruh perspektifnya dalam memotret; fotografer yang njamani adalah fotografer yang terus menerus mengembangkan perspektifnya atas perkembangan apapun di sekitarnya, dan selalu belajar untuk mengatakannya dalam bahasa fotografi.

Fotografer itu, bukan cuma jadi pemirsa, atau tukang persepsi duank.

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Validator Fotografi Seni

Catatan eny erawati tentang validator dan validasi fotografi.

Sebagai anak dari cabang “seni”, foto seni juga memiliki jiwa nyeninya.
Seni itu kadang merasa dirinya “semacam Tuhan”. Yakni bahwa tak ada alasan yg wajib diberikan untuk setiap tingkah dan keputusannya. Art is for art.
Yg nggapleki adalah: seninan yg berdiri di titik ini, merasa telah menjadi Tuhan alias ga butuh siapapun untuk menilai atau memvalidasi ciptaannya. Firaun itu ga pernah butuh validator kan?!

Sebagai anak teknologi, foto adalah tentang keterampilan berteknologi. Mastership.
Sesiapa yang mahir dalam menguasai keterampilan berteknologi fotografi, ia layak disebut seniman fotografi. Kata kuncinya bukan di “memiliki teknologi” fotografi tapi di “menguasai keterampilan teknologi” fotografi, alias menggunakan teknologi. Mastership.
Bagi orang orang ini, kurator sangat penting dan dihargai. Tapi, jiwa seninya mensyaratkan bahwa sang kurator harus juga memahami kemajuan teknologi itu: harus njamani. Master yg njamani; bukan cuma memiliki alat berteknologi.

Sebagai produk budaya visual, foto selalu memiliki tugas sejak lahir: mengkomunikasikan pesan visual. Maka seni adalah tentang “kekayaan” atau “keberagaman” dalam kesempurnaan penyajian teknik dalam mengkomunikasikan pesan.
Bagi kebanyakan orang, hanya keterampilan soal inilah yg dijadikan ukuran seseorang dianggap “master” di bidang fotografi.
Nggapleki; karena rendahnya syarat menjadi “master” komunikasi visual bidang fotografi ini yang sesungguhnya menghina dan merendahkan mastership bidang fotografi itu sendiri.

Yang pasti, ketiganya tak lahir dari sikap saling menghargai; melainkan dilahirkan dari pengajaran personal mastership. Dimana hanya yang paling unggul (secara kuantitas) lah yang dianggap ada. Yang masih belajar, tak diakui sebagai apa apa. Pendidikan khas era industrialisasi.
Tak ada yang layak untuk dijadikan validator bidang fotografi; justru karena sikap para fotografernya yang menafikan penguasaan teknologi berfotografi. Kalaupun ngomongin teknologi, bukan “tingkat keterampilan mengendalikan” alatnya, tapi lebih pada kepemilikannya. Berapa lama seseorang telah memiliki gadgetnya, yg model apa, dan sudah motret (si)apa aja. Bukan mastership berfotografi yang seharusnya.

Jadi agak miris jika memikirkan apa yang dibatinkan para mbah-mbah fotografi; dari penemu lensa, emulsi, ruang kamar gelap, hingga penemu skala hitam putih fotografi. Masak di era teknologi secanggih ini, tak ada peningkatan mastership sama sekali?!

Jadi, jika ditanya, validator fotografi seni itu harusnya siapa? Maka perutku serasa ditonjok dengan sangat keras. Aku bisa menyebutkan siapa saja yg merasa sudah menjadi tuhan fotografi, siapa yang merasa menjadi master fotografi padahal tak terbukti njamani, dan siapa yang menasbihkan diri hanya karena merasa pakar di bidang komunikasi. Tapi aku tak bisa menunjukkan siapa validator fotografi yang paling ahli. Karena memang tak ada sampai hari ini. Hanya saja, perutku nyeri sekali jika diminta untuk mengakui fakta ini. Apalagi dihadapan mommy.

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

SpaceX dan Nusantara1

(catatan eny erawati tentang eraelon musk)

Kalau mau menjadi orang yg mampu berdiri diatas jaman -njamani- maka syarat mutlaknya adalah ga boleh baperan.

Klo hobinya baper, maka pasti ga sempat kenalan dengan Elon Musk. “Orang gila” zaman Milenial. Klo hobinya sebar hoaks, maka pasti ga akan kepikiran tentang masa sekarang bahwa SpaceX sudah jualan tiket trip ke luar angkasa. Dan klo hobinya cuma bernostalgia, maka pasti ga tahu bahwa mbah Owi sudah meluncurkan Nusantara1, satelit penjaga Indonesia yg akan “menancap” diatas papua, lewat SpaceX.

Pertanyaan kemarin itu serius lho: infrastruktur apa yg akan bapak bangun menghadapi pesatnya kemajuan marketplace dan unicorn unicornnya?

Mbah Owi-nya Ethes itu menjawab pertanyaannya “itu” bukan dengan retorika belaka. Dia menjawabnya dengan tindakan yg njamani; berdiri diatas jaman. Menerbangkan satelit Nusantara1 untuk berpusat di wilayahnya sendiri. Menjaga space NKRI.

Makanya, jangan baperan!
Mamulo, ojo mbolos jumatan!

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

And The Chaos Begins …

Ini soal adab berdoa ketika melihat sebuah kejadian. Ketika kita tak bisa memastikan ada siapa dibalik sebuah kejadian. Ketika sesuatu terjadi, di luar kenalaran normal pada umumnya kita-kita.

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar