Hermeneutika Fotografi

#01 Understanding

Understanding
Jika diterjemahkan sebagai mengerti, menduduki tingkat kedua setelah menangkap.
Jika diterjemahkan sebagai memahami, menduduki tingkat tertinggi setelah mencipta.
-eny erawati-

Hermeneutika Fotografi_enyerawati_understanding_20170801

#02 The Truth

So, it is not about what kind of truth. But it’s about how do you understand the truth.
Maka ini bukan soal kebenaran yang seperti apa, namun soal bagaimana Anda memahami kebenaran.

Hermeneutika Fotografi_enyerawati_howdoUunderstandthetruth_20170801

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Dipublikasi di eny bicara Fenomena, enyerawati, fenomena, Hermeneutika Fotografi, ilmu melihat, Kegiatan Pembelajaran, Photo Critics, photography phenomena, Theories of Learning, tutorial, tutorial by enyerawati | Tinggalkan komentar

Instructional Models

Bagi Anda yang sedang skripsian, atau tesisan, berikut model jika Anda membutuhkannya

Instructional Design Models Infographic

http://elearninginfographics.com/instructional-design-models-infographic/

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Catatan Uji Coba Buku Hermeneutiknya Eny

Some of the notes that i’ve jote-it down

Dibaca Penuh dalam sekian jam

Dibaca penuh dalam sekian jam

2017-05-15_02-14-29

Uji Coba pada Komunitas Fotografi

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Sebatas Kertas

Selalu memposisikan diriku sebagai anak, aku membiarkan pikiranku berpetualang seenaknya. Memandang segala hal dengan keingintahuan kanak-kanak sewajarnya.

Memposisikannya sebagai bapak, aku berposisi-sikap seperti caraku berposisi-sikap pada aba: mengagumi, menikmati, tapi gengsi untuk mengakui.

Meyakini aturan Rabbuna dalam mengelola segala kehidupan di bumi. Ridhallahi fi ridha al walidain. Dan walid in the name of al-ilmu adalah guru alias dosen.

Maka, aku selalu mudah menjadi super galau, manakala ….

2017-05-15_00-52-28

Serasa seperti, aku akan dilupakan -mak plas- begitu semua urusan tesisan ini selesai. Hiks. Suer aku sedih.

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Pada Matahari

Pada punggung matahari, aku menulis cerita hari demi hari
Pada tatap mata mentari, aku mengukur daya membaca semesta bumi
Pada suara matahari, aku belajar mendengar bunyi sesunyi
Pada gelegar matahari, aku melindung diri tuk kurangi beku ragawi

enyerawati, 12022017

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Tuhan dan Ridho-Nya

IMG-20170509-WA0016[1]

Tuhan dan ridhonya

Sekian hari lalu, aku sedang didukani karena mengutarakan satu fakta –di duniaku itu adalah fakta. Aku didukani karena bagi telinga, fakta itu adalah suara kesombongan dan tingginya diri dalam memasang strata. Ke-jumawa-an, katanya.

Pada akhirnya aku diam, karena fakta tak pernah perlu dibela, atau dijelaskan. Biarkan saja. Nanti kan ketemu, bentuk titik temunya di sebelah mana. Kala sudah waktunya.

Begitu sampai rumah, aku cerita pada mommy, berebut perhatian mungsuh yutuban pengajiannya. Hobinya mommy ngeliat bib ganteng-ganteng, dan kyai lucu-lucu. Dan ceritaku, kalah pamor dibanding bib ganteng itu. Ya iyalah.

Mulanya mommy mengiyakan pendapat bahwa fakta yang kubicarakan adalah kejumawaan. Tapi kemudan terdiam dan mulai mendengarku.

“Ahli ilmu foto dan fotografer itu jelas berbeda. Lalu fotografer dan fotografer ahli, sangat jauh berbeda. Andai, semua ahli adalah akademisi, maka pemerintah tak perlu melipat sebuah jurusan karena kekurangan doktor dan tidak ada profesornya. Logis saja kan?!”

Kalimat jumawa nya dimana? Sebuah tanya yang melindap dan menguap bersama asap.

Lalu, kemarin, 4 hari dari sesi ngobrol itu, tepat di tengah hari, tetiba aku dikabari. Ada tamu yang datang ke jurusan kami. Seorang profesor ilmu media rekam dari bagian tengah pulau ini.

Aku segera berstrategi, agar aku bisa numpang mengambil keuntungan untuk diriku atas momen ini. In the name of al ilmu, demi ilmu, dan keilmuan fotografi. Sambil tentu saja, numpang ikutan selfi.

Usai menyampaikan maksudku, aku berbalik badan, menghadap beliau yang kemarin mendukaniku. “Saya nemu profesor media rekam” kataku, ribut sekali. Well, aku, tak pernah tak pakai ribut. Segala-gala kubuat ribut. Hidup adalah merayakan kehidupan. Mana ada, namanya perayaan tapi tidak ribut. Yo pasti ribut-lah. Namun keributan yang meributkan kebahagiaan.

Mengapa aku bersegera menemui beliau yang mendukaniku? Karena aku sangat yakin, bahwa selain mommy, para pemegang piket momong manusia mbegedud sepertiku itu, memiliki jatah sebagai validator ridho Rabbuna. Sungguh, sudah kubuktikan berkali kali, kala beliau tidak ridho, gerakku suuuuuper berat, susah, dan adaaaaaaa saja masalahnya. Mirip dengan kala aku sedang berbeda pendapat dengan aba atau mommy.

So, inilah akhir ceritaku padamu, teman. Tentang Tuhan dan caraNya memberikan riho. Sungguh, bahkan andai sedunia tidak percaya, aku tetap akan percaya pada kalimatullah itu. Ridho Allah tergantung pada orang tuanya. Dan guru, menempati tempat kedua setelah orang tua.

Didukani pasti soal adab. Dan mau aku membela diri pakai alfabet model apapun, posisiku tetaplah anak/santri/murid. Jika para pemangku piket itu sudah mulai menelepon Rabbuna, dengan caranya yang semua anak di dunia ini tak akan dapat memahaminya, maka Rabbuna akan lebih mendengar suara dari para kepanjangan tanganNya ini dibanding suara manusia mbegedud model sepertiku; model koyok awakmu pisan seh. Maka jangan main main dengan momen itu. Ridho Rabbuna hanya turun jika mereka -para kepanjangan tangan langit ini- yang memintanya. Bukan karena usahamu bro!

Aku belum pernah membuktikan apakah yang terjadi manakala sang guru tidak seiman dengan kita. Aku tidak tahu. Pokok secara adab dalam agamaku, tulisannya begitu.

Kembali ke laptop: fakta atau kalimat kejumawaan, status validitasnya akan kalah telak dengan samting yang nir-wadag bernama ‘ridho Rabbuna’.

Maka jika kau mau meminta sesuatu, tirulah caraku. Masio kadang aku yo lali. Cara bahasaku begini, “Kalau njenengan tidak ridho, maka Tuhan juga tidak akan memberikan ridhoNya lho” dan dibaliknya adalah sebuah kalimat sirri: kalau Tuhan saja males memberi ridho, kebayang kan betapa sakit dan susahnya hidup saya?! Tega ya?!

Kalimat yang manis bukan?!

Para dosen pembimbing tesisku, saat ini adalah para kepanjangan tangan langit itu. Dan aku, sedang berjejumpalitan, antara berjalan, berlari, dan berenang demi mencapai sebuah titik dalam hidupku.

Ini adalah topik paling kekinian dari cara Rabbuna sedang bercanda denganku.  Kalian silahkan mengambil hikmah yang ingin kalian ambil. Terserah saja. Silahkan saja. Aku tetap di cakrawalaku, dan kalian tetap di cakrawala kalian.

Tanda cinta, eny erawati binti Munif, 10052017

Dipublikasi di cerita eny, eny bicara Fenomena, enyerawati, filosofi islam, filsafat islam, ilmu melihat, kehidupan kampus, My and My Prof | Tinggalkan komentar

Bayangkan Transportasi Kotamu

autolightalks enyerawati02

Bayangkan [Transportasi] Kotamu

eny erawati

Aku tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di luar Indonesia, belum. Dan aku pensiun berkendaraan umum di kotaku sendiri sejak SMA, tapi memiliki dalil paling shahih bagi sesiapa yang ke Jakarta: the best people livin in Jakarta is the mass-trans-user.

Bukan cuma soal murah, tapi soal stress free -jika kau mahir mengubah perspektifmu. Dibanding mengendarai sendiri, maka tertidur di mass-trans adalah fase tampilan paling buruknya manusia yang selalu dimaafkan oleh Jakarta. Semua orang akan memaafkan tampilan terburukmu itu. Dan terberkatilah Jakarta karena satu hal itu. Hal lain adalah gerbong khusus wanita. Tak perlu banyak cakap untuk mendeskripsikannya.

Generasi Z adalah penginvasi planet bumi yang tak terelakkan. Dua tahun lagi, filosofi hidupmu harus ganti. Manusia sepertiku -yang katamu sok ngeksis, dan tak henti terkoneksi ke dunia digital maka berarti tak ada kerjaan- akan menjadi sosok yang lebih lumrah dan lazim dibanding manusia dengan mindset setiap orang harus menjaga kesucian pencitraan.

Jika kau tak terbiasa denganku saat ini, maka besar kemungkinan kau akan lebih jantungan melihat sekitarmu, dua tahun lagi. Bisa jadi lebih cepat dari itu.

Siapa generasi Z?

Manusia yang berfilosofi: berkehidupan dan berteknologi adalah jalinan. Teknologi adalah tekstil alias jalinan kehidupan. Kehidupan adalah entitas yang manusia ada di dalamnya, menjadi subyek, verba, sekaligus obyeknya. Teknologi juga begitu, entitas yang menubuh dengan manusia.

Maka dunia adalah dunia nyata dan dunia maya. Tidak boleh setengahnya saja. Apapun yang ada di dunia nyata, jika tak ada di dunia maya, maka namanya belum ada. Apapun yang ada di dunia maya, harus ada untuk menyata di dunia fisikal. Tidak boleh setengahnya, dan tidak boleh bersenggang waktu lama.

Transportasi adalah kenyataan di dunia nyata. Tapi tak ada di dunia maya. Maka, diciptakanlah transportasi dunia maya, yang juga akan nisbi jika tidak dijumpai di dunia nyata. Hukum resiprokal ini adalah paradigma yang tetap dan pasti terjadi pada apa saja. Bahkan sampai hal yang paling privat semacam celana kecil atau deodoran yang dipakai manusia.

Menyikapinya dengan menafikannya adalah mindset yang kwalik. Anda akan segera di museumkan oleh generasi Z jika masih memakai pola berpikir yang demikian. Seperti yang saya tuliskan, mereka akan menginvasi dalam dua tahun ke depan, atau bahkan lebih cepat. Dan Anda adalah agen yang akan dimuseumkan duluan jika tak segera berstrategi untuk dapat bertahan. Minimal, Anda harus berstrategi untuk mempertahankan kharisma kesenioran, jika masih mau bertahan di kehidupan jaman.

Jika memuseumkan manusia Anda anggap sebagai becanda, maka jika suatu saat nanti Anda menemukan sebuah kampung bernuansa tradisional-modern (bukan bernuansa digital) dimana satu satunya yang digital adalah jalur video call; saat itulah Anda akan mengingat saya dengan sebutan museum manusia ini.

Museum manusia adalah ide panti jompo yang di’lebih-manusiawi-kan’. Dibesut dengan berbagai strategi pencitraan. Intinya sama, memuseumkan manusia karena mindsetnya. Dimana secara fisik, mungkin mereka masih bisa memproduksi apapun yang berupa keterampilan kekriyaan. Tapi karena mindsetnya, mereka seperti artefak di kotak kaca. Berada menghuni sebuah jaman, tapi tak bersentuhan dengan jaman. Apa namanya jika bukan museum?!

Transportasi pun demikian. Dia harus ada di dunia nyata, namun juga harus bisa disentuh dengan teknologi di dunia maya, dan harus ada buktinya di dunia nyata, gak pakai lama. Struktur workflownya jelas, yakni fixed rules, fixed time, fixed price. Satu aturan, berwaktu tetap, dan berharga pasti. Mereka yang tidak memakai filosofi ini, akan otomatis termuseumkan.

Mass-trans saat ini sebagian besarnya dikelola swasta. Ini yang akan termuseumkan duluan, kecuali mereka mengubah struktur mindsetnya. Pengelola mass-trans swasta cenderung menyalahi fixed price dan fixed time. Ini masalah terbesarnya. Mau duduk bermeja-bundar seribu kali pun, jika tidak segera menyadari hal ini, ya tidak akan ketemu solusinya.

Mass-trans akan harus -mau tidak mau- dikelola oleh pemerintah kota. Di Indonesia, mass-trans swasta hanya logis jika dioperasikan di desa yang tidak bersentuhan dengan kota. Selainnya, harus dikelola pemerintah. Mass-trans desa-kota harus diurusi oleh pemerintah propinsi. Dan mass-trans antar kota harus diurusi oleh negara. Saya serius.

Pertimbangannya karena teknologi kontrolnya yang harus ‘bisa disentuh dengan teknologi via dunia maya’. Maka pemkot ya harus mengurusi mass-trans kotanya sesuai kapasitasnya, yang HARUS bisa disentuh dengan teknologi via dunia maya. Tetap dengan menerapkan 3 aturan yaitu: fixed rules, fixed time, fixed price.

Berstrategilah untuk mengubah mindset Anda sekarang. Atau, mulailah membayangkan bagaimana bentuk museum manusia dengan Anda sebagai penghuninya. Dan ini bukan ancaman. Ini prediksi yang akan segera menjadi nyata, tergantung pada sikap Anda menghadapi perubahan jaman yang tak terelakkan.

Karena hanya manusia yang bisa berstrategi; teknologi hanyalah alat belaka. Kebetulannya adalah teknologi melekat menadi; menjadi darah manusia atas nama jaman.

eny erawati 04052017

Dipublikasi di eny bicara Fenomena, enyerawati, fenomena, ilmu melihat | Tinggalkan komentar