Prosedur Memotret

2019-04-13_08-06-26

My Mommy photo by eny erawati

Jpeg

Procedure of photography photo by eny erawati

Aku tidak bercanda. Bukan pula karena aku tidak bisa memencet tombol rana kamera. Tapi aku merasa perlu mengenali prosedur memotret yang benar, dengan tanpa hocus pocus atau simsalambim. Aku perlu mengulang pelajaran prosedur memotret sesuai prosedur yang dipakai oleh mbah-mbah fotografi dari sejak mula fotografi ada. Yakni memetering EV terlebih dahulu, baru memotret.

Sebagian alasannya karena aku sedang berusaha menulis buku tentang metering. Sebagian karena “tersedia” model di jam sepagi itu. Sebagian lagi, karena seperti halnya semua pengetahuanku tentang bagaimana berkehidupan, maka pengetahuan memegang kamera pun harus ku-update agar kekinian dan tidak mbeleset.

Memakai Lightmeter untuk mengetahui EV dan kombinasi exposure triangle mulai dari menentukan ISOnya. Lalu memilih kombinasi exposure triangle sesuai speed yg diputuskan -tanganku ndak kuat untuk exposure 1 detik, maka pilih kombinasi exposure triangle yang speednya lebih cepat dari 1 detik. Pasang ke kamera dalam mode M (manual). Tentukan focusing mode, lalu jepret deh.

Begitulah prosedur standar memotret aslinya.

Salam berkamera, eny erawati, 13042019

Dipublikasi di cerita eny, eny bicara Fenomena, enyerawati, foto by eny, ilmu melihat, Kegiatan Pembelajaran, photography phenomena | Tinggalkan komentar

Wisuda Rumah Sakit

Fakultas Meningo Encephalitis Tuberculosis (ME Tb) yang bermadzhab 12 mo, kata dr Azhar.
Alhamdulillah, hari ini wisuda. Tepat di hari ultahnya mommy. Tanggal 26 Mar 2019.

Sampai hari wisuda pun, aku tak tahu siapa yang mengoperasiku. Aku cuma tahu dokter siapa saja yg merawatku di HCU, bangsal, maupun rawat jalan.
Terima kasih tak terhingga pada para dokter yg mengoperasiku waktu itu, setahun lalu.
Bekas jahitan cuma tampak seperti garis rambut biasa, halus aja. Matur nuwun dok, entah siapapun njenengan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Book Trimmer

Adalah seorang bapak-bapak pemilik dan pengelola toko online bernama smartyhand yang membuatkanku set book binding ini: pisau trimmer dan kaki penyangganya.

Beliau sudah meninggal sekarang. Dan aku baru bisa menggunakan beginian ini, sekarang. Semoga amal kebaikkannya diterima oleh Allah swt.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

56242556_10156227192386302_6912250620208480256_o

Dipublikasi di cerita eny, desain by eny, foto by eny, tutorial by enyerawati | Tinggalkan komentar

Itu-itu Saja

(catatan eny erawati merespon komentar ummat)

“Samean kok omongannya nyindir soal jumatan mulu seh?! Sindiran kok itu-itu aja. Gak kreatif tenan 😀 “

Bahkan andaipun memang terbukti sah dan meyakinkan bahwa aku ga kreatif, bahasanku masih akan tetap di bab sholat jumat, ketika yg dibahas adalah laki-laki muslim. Karena jumatan adalah parameter penilaian yang valid dan sah, dalam islam.

Keislaman seseorang tak bisa diukur dari ibadahnya. Itu benar. Tapi khusus soal jumatan, karakteristiknya semua kasat mata: sunnah untuk mandi besar (keramas), sunnah memakai pakaian terbaik, harum, potong rambut, potong kuku, wajib jamaah di masjid bukan di tempat ibadah yg statusnya “kurang” dari masjid (bukan di langgar, surau, atau lapangan). Jumatan harus di masjid, berjamaah, waktunya ditetapkan, tidak boleh terlambat apalagi melambat-lambat. Pokoknya, parameter kegiatan pelakunya terlihat mata, semuanya. Begitu wajibnya, hingga hukum bepergian pada hari jumat bisa haram jika karena travellingnya itu membuatnya tidak sah melaksanakan jumatan.

Jumatan adalah satu satunya ibadah wajib yang gak urus dengan penilaian orang. Babah dianggap riya, ujub atau apa saja. Ga masalah dianggap bigot, nekat dan semacamnya. Ga boleh pusing jika harus kehilangan omset hanya karena tutup toko saat masuk waktu jumatan. Bukan cuma tidak boleh ambil pusing, laki laki muslim harua meninggalkan dunia dan seisinya hanya untuk jumatan. Wajib, dan fardhu ain.

Kau boleh melarangku menakar dan mengukur keislaman orang lain dari ibadahnya; apa saja, kecuali soal jumatan. Kau boleh melarangku menasbihkan julukan orang alim pada ahli ibadah jenis apa saja, kecuali ibadah jumat. Meski ia rajin jumatan, tak akan pernah ada yang namanya “ahli jumatan”. Karena serajin rajinnya, sekhusyuk khusyuknya, sebagus bagusnya seseorang yang melakukan jumatan, ia hanya melakukan hal yang wajib belaka.

Namun setelat-telatnya seseorang ikut jumatan -sangat terlambat adalah jika seseorang masuk masjid saat adzan sudah dikumandangkan sebelum khutbah dimulai, ia tak akan bisa mengqodho ibadahnya sampai kapanpun juga.

Aturan yang sangat ketat, jelas, dengan parameter kasat mata.
Maka jika seruanku untuk jumatan itu kau anggap sepele atau bahkan obsolet, aku tetap menyuarakan hal yang sama.
Karena bagi laki laki muslim yang tidak jumatan, dia bisa dinilai keluar dari islam. Itu jauh lebih serius dari sekedar status atau julukan.

Seruanku untuk jumatan, bukan hanya dalam rangka pilpres belaka. Bukan cuma karena aku geram pada mereka yg bisa sengaja abai pada jumatan saja. Bukan semata mata karena diantara kalian sengaja mengecilkan nilai kefardhuan jumatan belaka. Tapi karena kalian yang melakukan itu, bahkan meski cuma sekedar memaafkan tindakan meninggalkan jumatan, adalah telah berbohong pada Tuhan. Kalian berbohong -membohongi Tuhan- dengan mengesahkan (mengakui) kemusliman seorang laki-laki yang meninggalkan jumatan.

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Memprotes Tuhan

(catatan reflektif merenungi nasib, eny erawati)

Ummat kurang ajar itu, ummat yang suka memprotes Tuhan. Apapun yg di takdir kan padanya, dia selalu memprotesnya. Kadang hanya karena “ga enak dilihat manusia lain yg katanya temannya”. Kadang juga karena dia sudah ga sanggup memikulnya, berasa kalah daya.

Berapa kali aku memprotes Tuhan karena badanku. Dan selalu menghasilkan sesuatu, bukan bebanku yang dikurangi tapi dayaku yang ditambahi. Sehingga, lama lama, aku ngeri juga jika mau memproteskan sesuatu. Jangan jangan, nanti aku malah dipiketkan disitu.

Dulu, aku cuma punya urtikaria -sakit kulit biasa. Tapi karena protes melulu karena malu dengan penampilan kulitku, maka Tuhan pun menambahinya dengan psoriasis. Gak kapok juga, masih protesan karena daftar alergi yang makin panjang, maka psoriasisku malah dibuat meledak, sampai 75% tubuh termasuk kulit kepala. Bahwa Tuhan tidak meringankan bebanku, namun menambah dayaku, kubuktikan dengan kemampuan kami membayar dr Urip Sudirman. Dokter kulit paling mahal sak Jatim kayaknya. Dari almarhum aku mendapat treatmen minyak utk mengendalikan psoriasis di tubuh, curcuma yang waktu itu masih berupa kapsul nyampur, dan kortikosteroid. Minyaknya itu yg ndak dikasi tau, itu minyak apa. Dan setelah aku mengganti gaya hidupku -dari sabun, baju, beras, minuman, semuanya termasuk semua peralatan dapur, barulah hidupku mulai bisa ditata lagi.

Aku baru sadarnya akhir akhir ini. Bahwa bukan bebanku yang diperingan, tapi dayakulah yang sedang ditambah oleh Rabbuna. Untuk setiap kali Rabbuna mendatangkan masalah untukku.

Setahun ini, aku terlumpuhkan. Cuma dikasi jempol yang masih bisa berfungsi bagus. Aku sudah kebelet protes, kerja apa yang cuma mengandalkan jempol? Bagaimana aku bertanggung jawab menghidupi diriku jika movementku terbatasi seperti setahun ini. Berkali kali aku ingin protes begitu. Tapi selalu urung.
Kalau suatu saat aku dipiketkan cuma perlu memakai jempol untuk bekerja, aku mau apa?
Ah, ngeri juga membayangkannya.

Maka, aku tidak jadi protes. Aku mencoba mendawwamkan hamdalah saja, untuk apapun takdirku.
Dari segitu banyak hal yg bisa kupelajari dari sakitku, yang paling utama adalah aku harus belajar nerimo ing pandum. Usaha nya wajib, tapi soal hasil, itu bukan urusan saya. Andai itu pelajaran gampang bagi manusia sedunia, itu masih pelajaran yg sulit bagiku. Keinginanku masih banyak, soalnya.

Aku iloh doyannya ama yang ganteng ganteng 🙂

Aku yang seumur hidup expert menjadi pemrotes Tuhan, harus belajar untuk menerima apapun pemberianNya.
Masih belajar …

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

What’s Happened Fb?

Whats happening dengan FBku?
Kenapa dari tadi, usahaku memposting sesuatu selalu failed?

It’s day light time, and it still cant perform well. *sighs

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar

Persepsi vs Perspektif

Persepsi vs Perspektif
(catatan eny erawati tentang cara melihat dalam bahasa cahaya)

Persepsi atau perception adalah cara makhluk hidup dalam melukiskan apa yang dirasakan lewat sensornya: apa yang terlihat, tercium, terasa, atau terdengar.
Persepsi adalah gerakan mendelok, mengerungokkan, meraba, mengendus, atau mencicipi sesuatu.

Perspektif atau huruf k nya diganti dengan huruf c dalam bahasa inggris, adalah menggunakan semua pengetahuan seseorang untuk menafsirkan apa yang tertanggap oleh semua indera, termasuk semua tangkapan indera yang terjadi di masa lampau, dan ekspektasi akan apa yang bisa ditangkap di masa depan.
Perspektif adalah tentang membuka tabungan pengetahuan atas segala yang pernah didelok, diraba, dicicip, diendus, atau didengarkan.

Dalam otak manusia yg luar biasa ini, kedua hal tersebut bisa berjalan bersamaan dan dalam satuan waktu yang sangat rapid. Secara fotografis menerjemahkan kedua kata itu bisa dengan cara sesederhana ini:
Persepsi adalah tentang memakai kamera untuk memotret.
Perspektif adalah tentang mengeset kameranya untuk memotret.

Fotografer adalah seseorang yang menggunakan seluruh perspektifnya dalam memotret; fotografer yang njamani adalah fotografer yang terus menerus mengembangkan perspektifnya atas perkembangan apapun di sekitarnya, dan selalu belajar untuk mengatakannya dalam bahasa fotografi.

Fotografer itu, bukan cuma jadi pemirsa, atau tukang persepsi duank.

Dipublikasi di eny bicara Fenomena | Tinggalkan komentar