Under Over

Adalah sebuah istilah, yang lahir atas nama jaman.
Dulu kata ini hanya untuk menunjukkan sebuah keberadaan.
Under untuk menunjukkan posisi dibawah.
Over untuk menujukkan posisi diatas.

Jaman melahirkan istilah baru.
Entah bagaimana, tapi yang namanya ego, harga diri dan asumsi atasnya,
Kemudian dianggap membutuhkan tempat dan posisi, untuk sekedar diakui.
Under estimate, dan over over estimate.

(padahal itu cuma soal perasaan dan penilaian orang kan?!)

Jika ada over estimate, itu pasti karena ada yang di under estimate.
Jika ada yang under estimate, itu karena ada yang over estimate.

Tanpa under dan tanpa over, maka dunia akan normal saja.

Over estimate, apalagi jika menyangkut kemampuan diri,
Dengan mudahnya orang lain akan melabeli ‘sombong’, gaya thok, atau, tinggi hati
Under estimate, biasanya selalu tentang dan menunjuk orang lain,
Memiliki puluhan nama pengganti, semacam bodoh, gemblung, songong, dan masih banyak lagi

Tanpa keduanya, tanpa under dan tanpa over, maka dunia akan normal saja.

Gemas melihat orang over estimate pada dirinya?
Tentu saja,
Ia menjadi semacam gatal yang mustinya di garuk, dan dihilangkan dari perasaan

Terganggu pada keberadaan orang yang kita nilai kurang?
Hemmm … bisa saja
Ia menjadi bau gas buang yang sebaiknya hilang, meski tidak mengganggu pandang

Masalahnya, mengapa dua elemen itu ada?
Ada yg dibiarkan ‘over estimate’, menjadi menyebalkan dengan tingkahnya di depan kita, atau malah ‘pada kita’.
Ada yang dibiarkan ‘under’, tidak mengalami kemajuan meski manusia sudah jalan jalan di bulan. Agak nyerimpungi jalan.

Sebagai murid, atau kalian lebih suka menyebutnya mahasiswa,
Hierarkinya kita dibawah posisinya
Tugas utama kita, manut pada yang ada di depan kita
Hak kita, menerima ilmu yang diberikannya

Andai saja kita beda agama, maka aturannya masih sama, setelah menunaikan kewajiban, baru boleh meminta hak.
Kitab yang diajarkan padaku menegaskan bab tata atur menjadi murid
Rinci, dan sebenarnya, mudah dilakukan dengan rela hati
Salah satu kewajiban yang tertulis disana, aku menyuarakannya pada kalian sesekali
Jika dia gurumu, maka dia berhak mendapat bacaan fatihah darimu atas nama ilmu
Sudahkah kita melakukan satu kewajiban yang ini?

(aku menyembunyikan mukaku sendiri)

Bagaimana jika sang guru over estimate pada dirinya?
Bukankah orang sombong harus dihadapi dengan sombong juga?
Begitu hatiku pernah bertanya,
karena ingin membenarkan sikapku, pada guru yang hobinya sombong membusungkan dada
Apalagi, aku sempat meragukan sanadnya (asal keilmuannya, alias sekolah, dan gurunya)

Lalu nuraniku kembali bicara,
Bisa jadi, bukan soal ilmu dari mulutnya yang sedang dikirimkan padaku oleh Rabbuna
Melainkan sikap dan pola pikirnya
Mencontohkannya di depan mata, agar tentang sikap yang itu, aku tidak mencontohnya

Jika masih ada orang sombong berkeliaran di sekitar kita
Maka boleh jadi, itu karena kita juga memiliki potensi bersikap sama
Dan Rabbuna mengirimkan sekaligus menjaga keberadaan si sombong itu di sekitar kita
Agar kita tidak menjadi sepertinya

Jika saja,
Aku boleh cerita besar pengaruhku di masa silam,
Mungkin, aku adalah musuh yang tepat untuk membungkam
Siapapun yang punya nyali unjuk dada dan bertingkah ‘bangsawan’
Padahal perpustakaan saja, ia cuma punya seperdelapan besaran
Dari perpustakaan ku yang berdebu karena itu ilmuku sekian tahun silam

Tapi itulah inti dari isi kepala yang kutuliskan
Aku tidak cerita, dan tidak ingin dipaksa menceritakan

Posisiku murid, itu hierarki ku atas nama jaman
Dan kewajibanku sama dengan kalian, teman
Satu fatihah pada setiap guru, atas nama ilmu yang mereka ajarkan
Betapapun sombongnya dia membusungkan dada, di hadapan

(jika dia ngasi ilmu yang aku belum pernah tahu sebelumnya)
Hatiku masih ngeyel, rupanya

Tanpa under dan tanpa over, maka dunia akan baik baik saja
Tapi kita membutuhkan keberadaan mereka (si under dan si over),
Agar kita tidak menjadi sepertinya
Eny erawati

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s