Keilmuan Photography Kita

hanya ada dua, struktur keilmuan di dunia kami yg tidak terlalu besar. Yang satu seperti rumah pohon, sudah ada yg mendesain tumbuh kembangnya. Penghuninya tinggal tumbuh bersamanya. Tidak perlu ikut merancang ukuran atau warnanya. Yang lain seperti rumah buatan manusia. Tergantung isi kantung, seberapa kaya, & seperti apa style selera arsiteknya. Makin ‘miskin’, makin sedikit literaturnya, makin jelek bangunannya.

rumah pohon itu, sudah diatas 100 tahun umurnya. maka cabang dan rantingnya sudah begitu banyaknya. Daun dan tunas patah tumbuh terus menerus di setiap detiknya. yang tinggal di dalamnya, hanya perlu menyesuaikan diri saja.
tak perlu resah dengan perbedaan satu dahan dengan dahan tetangganya. ambil ilmunya. itu kewajiban atas ilmu yang ada padanya.

makin ramai meributkan bedanya, berarti makin bodohlah dia.

tapi akar dari si pohon tetap sama dan berasal dari benih yang satu juga. Mengkomunikasikan pesan secara visual, melalui cahaya yang ditangkap oleh lensa dan sensornya.

mau jadi dahan seperti apa, jika tidak berpegang pada akarnya?
apalagi kelasnya cuman jadi ranting saja. jangan merasa sudah mampu melahirkan keterbaruan dunia.

Sementara tentang rumah buatan manusia. memang tergantung besaran kecerdasan arsiteknya. tergantung daya paham tukangnya. dan sangat bergantung pada kekayaan kantung pemiliknya.

pekerjaan si empunya rumah, bukan sebagai perancangnya. ia hanya pemilik modal, yang memesan rancang desain pada seorang arsitek yang satu selera dengannya. seseorang yang mengerti bagaimana menggambarkan angan angan si pemilik rumahnya.

pekerjaan si empunya rumah adalah ‘mentraktir’ orang orang, setiap saat, kapan saja.
membagikan kekayaannya, membagikan cita rasa ilmu yang diyakininya, kepada siapa saja.
makin banyak yang ditraktirnya, makin banyak yang bisa memahami seleranya, makin banyak yang bisa menikmati keindahan rumahnya.
makin pelit membagikan kekayaannya, cerminan ketidak percayaannya pada hartanya, bisa disederhanakan, ‘hanya buat di makanpun, hartanya tak sebanyak yang dia gembar gemborkan’
makin pelit berbagi ilmu, mencerminkan kemiskinannya akan ilmu.
makin sedikit kekayaan ilmu, makin jelek si rumah impian itu.

Mau tinggal di rumah pohon, bertumbuh dan bersosialisasi terus menerus sejalan dengan waktu. atau mau membangun rumah sendiri, membayar arsitek yang bercita rasa seni, dan selalu mentraktir sana dan sini setiap hari. Silahkan anda memilih sendiri.

Eny Erawati, 25042011

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s