Syuaa’ulBashiiroh

simulating light with scanline renderer

simulating light with scanline renderer

Malang, Dieng Atas, 01072011

Dari desa, aku memandang langit yang terbentang begitu luasnya.
dari desa, aku pernah berusaha menghitung bintang dengan bodohnya.
dari desa, aku pernah menantang mentari dengan mencoba menyaingi pancarnya.
karena keinginanku menelan ilmu, menjadi tampak diantara manusia, dan disebut ‘bisa’

Dari desa, aku berjalan menelusuri aspal menuju kota.
dari desa, aku mengalahkan dinginnya udara,
memacu mobilku sekencang kencangnya,
balapan dengan tadz Juki (KH Marzuki Mustamar) utk alasan sederhana,
tak ingin ketinggalan pilotku yang sangat merdu suaranya.

Lalu di desa, aku berteman dengan teknologi,
macam macam jenis dan namanya,
macam macam nama tagihan dan servisnya,
kadang aku tak bisa menjawab, karena lupa, yang kupunya apa.
aku sering tak sudi menghapalkan nama nama ‘perhiasan dunia’

Di desa, ilmu itu diantarkan pada meja di depan mata.
lengkap baik visual maupun suaranya.
keingintahuanku membumbung ke angkasa.
tak terbendung biar badai dan gulungan awan menutup mata.
sederhana saja, kakiku masih terikat pada tanah.

maka otakku bersikeras menjulang menggapai awan diatas sana.
belajar 3ds seperti menghabiskan seluruh persediaan energi di bumi saja.
berusaha menaiki awan, dengan mobil berbahan bakar solar.
selagi bumi masih berputar, kemungkinan selalu ada di 50%, begitu kata teman.

impian pasti di langit, itu gantungan yang sepadan.
usaha pasti menghabiskan tabungan, namanya juga mencari jawaban.

baru bicara lighting saja, aku sudah terengah dengan perintah mengantungi gumpalan ilmu sebesar awan,
yang menggantung di atas kepala, siap dijatuhkan kapan saja,
dan bukankah aku sendiri yang memintanya?

ketika datang sekantung ilmu sebesar awan,
aku terperangah, merasa ‘kok besar amat ya?’
sementara sang Ilmu tertawa, ia berkata,
‘ini kan baru satu titiknya saja’,

sang Ilmu mentertawakan otakku yang tidak muat atas hibahnya,
meski cuma setetes darinya,
padahal itu cuma soal ilmu lighting nya saja.

otakku sudah tak muat menerima satu tetesnya saja

gitu sombong ingin mengendarai awan segala.

al Hikam #45
Sinar matahati itu (syu’aa’ulbashiiroh, yaitu cahaya akal) itu dapat memperlihatkan kepadamu dekatnya Allah kepadamu. dan matahati itu sendiri dapat memperlihatkan kepadamu ketiadaanmu karena wujud (adanya) ALLAH, dan hakikat matahati itulah yang menunjukkan kepadamu, hanya karena adanya Allah. bukan ‘adam (ketiadaanmu) dan bukan pula wujudmu.

Nur Aini Erawati

Blogged with the Flock Browser
Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

One Response to Syuaa’ulBashiiroh

  1. enyerawati berkata:

    dibutuhkan banyak sumber cahaya agar sebuah benda bisa terbaca oleh renderer yang memiliki daya baca sederhana.
    makin sederhana daya baca renderernya, makin banyak cahaya yang harus memberikan bukti besaran sinarnya.
    makin sederhana renderer yang dipakai manusia, makin besar cahaya Tuhan yang dibutuhkan, hanya agar manusia mampu merendernya, mampu membacanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s