eksis di tweet or FB? masak sih?

aneka tanya melambangkan kegalauan.

ini gara gara, aku mengunjungi blog kampusku yg sekarang dan menemukan artikel yang mempertanyakan eksistensisme via FB. misinya sederhana, eksis di blog saja, berlatih manajemen. maksudnya begitu, sepertinya.

satu hati, aku merasa tertohok. dua tahun lalu, aku seperti ratu di FB, dunia dalam genggaman, istilahku.

satu hati yang lain aku tersenyum, aku punya dua alamat blog. meski yg satu menjadi semacam laboratorium percobaanku.

dan aku sudah memilikinya jauh sebelum pemuatan himbauan itu. aku merasa, aku sudah dulu begitu.

nuraniku menyuarakan hal lain lagi.

dua tiga tahun lalu, aku seperti ratu, dengan eksistensi yang kadang membuat telingaku buntu.

aku menuliskan pikiranku, semua kalimat indah yang muncul begitu saja dari kepalaku, hampir setiap waktu. sehari dua lima tujuh, sesempat tanganku mengirimkannya ke halamanku.

dua tiga tahun lalu aku seperti ratu. semua teman menunggu tulisanku, berlangganan postinganku apapun itu.

dan aku menutup mata dan telinga dari jempol. membiarkannya melewatiku, demi udelku.

agar aku tidak jumawa karena keterkenalanku.

lalu respon yang tadinya bertumpuk di emailku menjadi tetap saja di email, tak lagi muncul sebagai jempol di berandaku.

sedih? iya, waktu itu aku sampai beranggapan, aku tidak seterkenal bayanganku.

keterkenalan hanyalah impian semu.

Lalu teguran dari kyai dan guruku bertubi tubi datang padaku.

Jika pada apapun yang kulakukan, tidak lagi demi ibadah, membagikan ilmu, maka percuma aku melakukan apa yg menjadi istiqomahku.

dunia menjadi sedatar samudera membiru, aku merasa seperti seorang plato yang baru.

Cukup lama aku mendiamkan semua yang menyapaku. lalu baru memulai satu persatu.

tidak lagi usil menempel ini dan itu ke dinding kenalanku.

tidak lagi berkunjung, karena takut dianggap mengganggu.

aku pakai email, jika ada yg ingin kukirimkan pada beliau, siapapun yang kutuju.

eksis di FB?

menurutku, saat ini, setelah aku tahu seperti apa rasanya berbunga bunga karena melihat jumlah temanku, melihat respon mereka kepada tulisanku, dan segala hal yang membuatku nampak lebih agung dari aslinya diriku.

aku baru tahu, bahwa mempertahankan keistiqomahan sesuatu, apakah uplod tulisan, foto, link keren, atau apapun itu,

tidak selalu sama dengan ingin terkenal, seperti aku memaknai kata eksis itu.

FB ini, makin hari, makin enak utk dijadikan lemari tempat menyimpan macam macam. semacam yout tube, semacam lemari besar berisi segala hal yang berterbaran di dunia maya.

tidak selalu, demi eksis semata.

aku misalnya, demi menjaga latihanku istiqomah menulis, meski satu dua kata setiap harinya.

bukan demi jempol, pujian, atau yang semacamnya.

eny erawati 06082011

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s