Memecah Telur – being inovative

mas Prie, dosenku, pernah menceritakan apa yang dibuat Colombus di sela sela perjalanannya menemukan dunia baru.

di atas kapal, di atas gelombang yang membuat kapal berlayar dengan bergoyang goyang, para awak berkumpul, mencari sedikit cara menghibur diri membunuh kebosanan atas nama waktu. mereka bermain telur dan melombakannya. ‘barang siapa bisa membuat sebuah telur berdiri diam di lantai geladak tanpa ikut tergelinding (karena kapal yang bergoyang-goyang), yang paling lama membuat telur itu diam di tempatnya, maka ia lah pemenangnya’. semua orang mencari cara utk membuat si telur berdiri diam tegak, meski utk sejenak saja.

setelah semua orang mencoba dan paling lama cuma sepersekian detik saja, maka Colombus maju menawarkan dirinya untuk mencoba.

ia memegang telur itu, meletakkannya di lantai geladak, dan telur menggelinding. sorak sorai terdengar di seantero anjungan. lalu Colombus mengangkat si telur itu sekali lagi, memegangnya pada bagian atasnya lalu membenturkan bagian bawah si telur ke lantai.

telur pun pecah pada sebagian bawahnya, isinya tumpah mengotori lantai geladak. tapi si telur TIDAK MENGGELINDING.

ia berhenti di tempatnya, untuk waktu yang lama. tentu saja.

mungkin cara Colombus tergolong radikal. hanya itu cara yang cepat sekaligus paling masuk akal. pada awalnya ia mendengar gemuruh protes di seluruh angjungan kapal. ‘kalo memakai cara itu, dari tadi kami ya sudah bisa menghentikannya’. itu kalimat yang paling banyak disuarakan. si Colombus berkata dengan lantangnya, jika kalian tahu sebuah cara dan tidak melakukannya, maka ia yang melakukannyalah yang berhak disebut ‘memecahkan masalah’.

Jika belum ada orang lain yang melakukannya maka ia yang melakukan pertama kali nya lah yang berhak disebut sebagai seorang inovator. tak perduli telah berapa lama orang lain memikirkannya lebih dulu dari yang melakukannya.

inovator adalah ia yang memikirkan sebuah cara solutif, dan melakukannya sebelum semua orang lainnya.

colombus dan ide memecah telur, adalah inovasi menghentikan gelinding telur di atas dak kapal.

apapun masalahnya, inovasi dan menjadi inovator, memang harus selalu diusahakan.

karena itu pun adalah contoh sangat kecil, bentuk turunan dari sifat Rabbuna, tercermin pada asmaul Husna.

http://blogs.unpad.ac.id/suryadi/files/2011/01/1_99-names.jpgmencoba menjadi yang pertama,

mencoba memakai pengetahuannya,

mencoba menjadi pemecah masalah,

dan menjadi outstanding dengan yang ada padanya.

setiap melihat masalah, ingatlah empat sifat RAbbuna itu, lalu berusaha-lah menjadi inovator dalam menyelesaikannya.

jika bukan demi pujian manusia, dan kita menjaga adab ketika menata hati sebelum mulai memikirkannya, bisa jadi tangan Rabbuna sendiri yang akan turun tangan membantu melancarkan usaha kita mencari solusi dari masalahnya.

soal janji Rabbuna, jangan percaya pada tulisanku, karena aku pun manusia.

tapi silahkan buktikan, silahkan mencoba.

eny erawati 02092011

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena, ilmu melihat. Tandai permalink.

One Response to Memecah Telur – being inovative

  1. Evi Ghozaly berkata:

    Keren !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s