Ayam yang kedinginan, bagaimana ia harus bertelur?

Tiba tiba saja aku ingin memakai simbol ayam sebagai tokoh utama cerita. Jangan melihat ayam sebagai strata yang rendah, atau tinggi. Ia hanya simbol dari cerita, karena aku tidak sanggup menceritakan ini tentang apa dan siapa dalam bahasa lugasnya.

Adalah sebuah peternakan, yang berbadan hukum sebuah peternakan, di’dhapuk’ untuk menghasilkan telur-telur tetasan. Ia bertugas menghasilkan telur untuk bisa di tetaskan, alias bukan sekedar telur saja.

Memiliki kandang yang rapat, berisi ayam petelur berjumlah padat. Jika pagi, kala matahari masih menyapa mereka, riuh rendah suara ayam yang berkotek, entah melaporkan jumlah telur yang dihasilkannya, entah menceritakan ayam jago dari sal tetangga nan ganteng nian wajahnya, entah meminta dilatih bagaimana berkokok nan lengkingannya menarik ia yang ditaksirnya, entah sekedar ingin mengeringkan bulu bulu badannya, para ayam itu berkotek riuh rendah, setiap pagi, 5 hari seminggu, pagi siang sore, berceloteh riang dengan matahari menemani mereka. Lantai dua naik ke lantai tiga. Sal delapan, lompat ke sal tujuh, lalu lompat ke sal delapan lagi, begitu rutinitas mereka. Dimana saja, asal ada matahari menyinari mereka, celoteh para ayam itu, tak akan ada hentinya.

Ada beberapa yang  memang memasang tampang, membutuhkan matahari, demi menghangatkan badannya. Meski ia ayam petelur, jika kedinginan, bagaimana ia bertelur?

Diantara para ayam petelur, terdapat petelur super yang diharapkan menghasilkan telur bagus. Telur bagus untuk ditetaskan. Sal C, begitu nama kandang tempat mereka berdiam. Awalnya para ayam itu bersorak, tentu saja. Mereka yakin, sal C adalah kandang yang paling hangat sejagat, karena mereka para petelur super itu, bukan cuma harus bertelur di dalam sana. Mereka harus menghasilkan telur yang bisa ditetaskan. Bukan telur kopong, tapi telur hasil buahan. Pasti ada jagoan dengan kokok yang gagah membahana didalam sana. Pasti ada lampu saat malam, dimana matahari sedang tidak bersama mereka. Kehangatan 24 jam, begitu lah yang terbayangkan.

Tibalah saat mereka para ayam harus ke sal C.

Apa yang dijumpai mereka di sana?

Matahari tidak ada. Bahkan sepanjang november, sama sekali tidak ada matahari, pun tidak ada rembulan. Tidak ada lampu, dan semua ayam terlalu kedinginan untuk mempertontonkan kokok ayam yang biasanya mereka banggakan. Tidak ada telur yang bisa dihasilkan. Tidak ada telur tetasan. Semua ayam kedinginan.

Supervisor kandang marah marah, tentu saja. Tapi apa yang bisa dia lakukan?

Menyembelih semua ayam, atau memanggil kembali matahari untuk bersinar.

Sinar matahari itu 6400 kelvin kira kira 39-40 derajat celcius, bersinar seharian. Kalau tidak mau matahari, ya beli lampu sejenis itu, yang menghasilkan derajat kelvin dan suhu kehangatan setingkat itu, lalu beli listrik anti padam, 5 hari seminggu. Hanya untuk menggantikan ‘siang’.

Bukan soal memuji matahari. Atau membuatnya besar kepala. Kepala matahari, kurang besar yang bagaimana lagi coba?

Jika tidak mau matahari, maka tinggal membeli lampu sebanyak banyaknya, lalu beli listrik anti padam, sepanjang hari, 5 hari seminggu, hanya demi menggantikan ‘siang’.

Sebuah logika sederhana, menurut saya.

Sebagai supervisor kandang, tujuannya apa? Menghasilkan ayam petelur kan?!

Jika para ayam kedinginan, bagaimana mereka harus bertelur?

eny erawati, dengan matahari yang menampar pipi dari jendela besar di sebelah kiri. 12122011

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena, ilmu melihat, kehidupan kampus. Tandai permalink.

2 Responses to Ayam yang kedinginan, bagaimana ia harus bertelur?

  1. dody priyatmono berkata:

    Peternakan yang besar dan profesional pasti akan segera menemukan solusinya. bahkan jadi lebih baik dari sebelumnya

    • enyerawati berkata:

      di kelas terakhir dan mendengar teman temanku berkata padaku, “bapake ndak kangen menjenguk anak anaknya tah mbak?”
      i bite my tounge and shut my mouth,
      bahkan kami seperti tak tahu lagi, harus bagaimana dan dengan siapa seharusnya kami membangun sebuah harapan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s