Skripsi itu …

pertanyaan utamanya, kamu mau melakukan yang biasa, atau melakukan yang luar biasa?

Metodenya sederhana saja, sebenarnya.

jika mendasar pada fakta, maka hasilnya pasti mudah, jauh lebih mudah, dan tak bisa dibantah.

jika mendasar pada asumsi semata, maka perjalanannya menjadi sulit, akhirnya menjadi makin menyulitkan.

jikapun tidak percaya padaku, maka percayalah satu hal, butuh 300 kebohongan lain untuk menutupi 1 kebohongan saja.

Aturan mainnya, sekali lagi, sederhana:

  1. temukan sebuah kelompok yang menarik mata, golongan orang-orang, segerombolan remaja, komunitas, apa saja yang membuatmu tertarik mengamatinya. Cari tahu, amati, dan rekam atau catat semua informasi yang sama dari mereka. Lalu inti pengamatanmu adalah mencari tahu masalah mereka. Letak masalah ada pada jarak antara harapan dan pemenuhan harapan yang agak renggang. Misalnya, “andai saja ada jas hujan yang tidak merusak gelungan” adalah masalah yang memerlukan penyelesaian. itu saatnya desainer menetukan perannya.
  2. Latar belakang adalah apa pentingnya ‘sekelompok manusia’ yang kita amati itu menjadi icon dari masyarakat kebanyakan. seberapa banyak pemakai gelungan yang memakai motor sehingga membutuhkan jas hujan? apakah solusi bagi kelompok ini menjadi solusi yang juga berguna bagi masyarakat pada umumnya?
  3. Di dalam latar belakang, tercantum masalah yang membutuhkan perancangan, misalnya itu tadi, apakah ada jas hujan yang tidak merusak gelungan? namanya saja masalah, bisa jadi menuliskannya dengan memakai tanda tanya. bisa juga dituliskan sebagai kalimat perintah. “perancangan jas hujan bagi kelompok pemakai gelungan”
  4. masih di dalam latar belakang, tertera alternatif solusi yang difikirkan. “Tiara, mantel hujan khusus gelungan”, “Helmin, helm anti air khusus pemakai gelungan” dan banyak lagi. lalu pada akhirnya, tentukan solusi yang dipilih. ” “Perancangan Tiara mantel hujan khusus pemakai gelungan
  5. Itu bukan judul, at least belum. Judul memiliki rumus yang kurumuskan by doing. yaitu MELAKUKAN (penelitian, perancangan, atau pengembangan) + APA (hasil akhir karya, misal Buku, Mantel Hujan, Film, Lagu, apa saja) + Berbasis atau terbuat dari apa ( misalnya Fotografi, Vinyl, Latex, Flash, Motion Graphic, Stop motion, animasi, dokumenter, dan sebagainya) + Berjudul apa + Untuk siapa (fotografer, pengguna gelungan dsb) + Tujuannya apa (sebagai bla bla bla). ingat, paling banyak 15 kata, (makin banyak makin aneh, dan menyulitkan menuliskannya).
  6. strategi berkaitan dengan metodologi. dan metodologi berkaitan dengan model. maka, tentukan modelnya terlebih dahulu. Bab ini rawan, dan “mengundang banyak perbincangan”. kalo boleh kubilang, Nigel Cross adalah buku yang baik.
  7. kuesioner dan analisa kuesioner. Persis kelas VM jaman baheula itu. jika ketemunya adalah, 70% pemakai jas hujan adalah juga pemakai gelungan, maka rancangan jas hujan khusus pemakai gelungan adalah kebutuhan yang mulai merebak. Jika 90% pemakai jas hujan adalah pemakai gelungan maka kebutuhan akan hasil perancangan adalah mendesak. Jika 97% pemakai jas hujan adalah  juga pemakai gelungan maka kebutuhan akan hasil perancangan adalah absolut (mutlak). Jika 30% pemakai jas hujan adalah pemakai gelungan, maka hasil perancangan ditujukan bagi yang berkebutuhan khusus, tidak diproduksi massal, dan membutuhkan penetrasi pada added value atas kekhususannya (misalnya, ‘made by order’).

Inti skripsi memang ada di nomor 6. dan itu adalah pertanyaan pertama ketika sowan pada pembimbing, “model perancangan/model penelitian mu pake model opo?”

Setelah semua tahapan itu ada jawabannya, maka tahap berikutnya tinggal ngebut wal begadang soal perancangan bendanya. sambil pasti di uber uber tulisan di papan tentang JADWAL PEMANTAUAN skripsian yang artinya sama dengan dateline setoran tulisan.

Disini ketahuan, apakah manajemen waktunya banyak di menulisnya, atau banyak di berkarya-nya.

Lalu tahap Validasi. Pengalamanku, aku berkali kali mencetak dan menguji prototype-ku ke komunitas yang kuamati, justru di 2 minggu terakhir sebelum setoran. artinya, aku lebih banyak melakukan pengujian prototype daripada menulis atau merancangnya. karena, validatorku tidak ada yang sanggup menjadi validator konten. meski maestro, tapi beliau adalah praktisi, maka dimaklumi jika merasa tidak sanggup menjadi validator konten.

andai perancanganku adalah perancangan karya foto, maka validator kontenku pasti pas, karena beliau beliau adalah maestro di bidang karya foto.

Tulisan yang agak buram, karena kutujukan baik bagi yang desain, maupun yang komunikasi.

semoga manfaat. amin.

enyerawati, 26032012

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena, ilmu melihat, kehidupan kampus dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s