Belajar mendengarkan gus Ali

“Disana, ada seorang kejawen yang sangat menghormati gurunya. Dia bilang dia diperintah gurunya untuk selalu datang kapanpun aku ngaji di daerah-daerah sekitar desanya. Dan dia selalu datang dimanapun aku ngaji di daerah sana, meski dia jelas jelas adalah seorang kejawen. Saking hormatnya ia pada perintah gurunya.
Dia bilang, telah disuruh gurunya untuk datang ke pengajian dua orang. Pengajian kulo, kaliyan pengajian kyai Jamal Jombang. Jika dia datang, kerjaannya hanyalah menyambut saya, lalu menata sendal saya. Bukan orang islam, jelas jelas dia kejawen. Tapi mau datang ke pengajian. Karena tawadhu (patuh pada perintah) gurunya.” — gus Ali menceritakan seseorang yang beliau bilang ‘lupa’ namanya.
::
Aku mencerna cerita itu kata demi kata. kalimat demi kalimat. scene demi scene. Karena memaknai semua cerita dari beliau, tidak bisa hanya mendengarkan ‘script cerita’nya saja, atau ‘dialog’nya saja, apalagi ‘setting’nya saja. Peng-adegan-an, perubahan air muka, kemana arah mata beliau, bagaimana tone naik turun suaranya, juga kecepatan gerakannya, dan bahasa tubuhnya, semua informasi itu kuanggap begitu penting untuk diamati dan diterjemahkan maksudnya, satu persatu.

Kapan yang bagaimana, beliau sedang menjawab pertanyaan sirri-ku, kapan yang bagaimana beliau sedang menegur seseorang di kanan kiriku, kapan bagaimana beliau sedang menjitak kepalaku, kapan dan bagaimana beliau sedang memarahiku keras keras tanpa ada satu manusiapun yang menyadarinya.
Bagiku, rejekiku adalah, ketika aku bisa mendengar pujian, teguran atau bahkan ‘kemarahan’ sekalipun, tanpa melukai harga diriku. Bahkan tidak ada satu manusiapun di ruangan itu yang tahu. That’s why aku sering sekali tersenyum pada cerita cerita beliau.

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di enyerawati, ilmu melihat dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s