Temanmu adalah kitab ilmu-mu

Temanku duduk di hadapanku, menikmati gelas susu coklatnya, lengkap dengan froth (busa susu) dan taburan bubuk coklat diatasnya. Seorang keturunan chinese lulusan Australia yang selalu tertawa jika menjumpaiku sedang mengomel dalam bahasa Inggrisku. Entah kenapa, dia tidak bisa mendengarku bicara Inggris. Kami selalu bicara tentang food and beverage yang kami santap. Dia selalu bicara bisnis, bagaimana bisnis harus dijalankan, sesuai dengan aturan. Kadang aku tertawa mendengarnya cerita, bahwa beragama harusnya seperti anak yang boleh meminta apa saja pada bapaknya. Seorang bapak pasti memberikan apa yang diminta anaknya, selama permintaanya baik, dan ia dinilai layak menerimanya. Aku tidak pernah bertanya apa agamanya. Tapi kurasa, dia lebih katolik daripada protestan, meski maaf, itu sungguh cuma dugaanku semata.

Kami selalu bicara tentang bisnis. Kadang aku yang sedang gundah bercurah hati menceritakan masalahku padanya, dalam bentuk potongan yang sangat inti saja. Seringkali dia yang menjadi kegirangan karena seperti menemukan jalan keluar baru, ketika dia menceritakan kegundahannya pada cara kerjanya. Aku tidak tahu, kapan ibroh itu datang padanya saat kami bicara.

Dia yang berteman dengan aneka orang. Dan aku yang juga mengenal beberapa keturunan chinese yang lainnya. Ditambah abaku yang memang sejaman dengan para bapaknya. Maka lengkaplah, ranah bicara kami, adalah golongan keturunan chinese pebisnis tangguh di kota.

Apa aku merasa menjadi besar karena mengenal mereka? tidak.
Apa temanku itu merasa menjadi besar karena berada di tengah tengah keturunan orang besar di kota? tidak.
Kami bicara dunia bisnis. itu saja.

Kadang dia menyelutuk, mengatakan hal hal yang membuatnya tidak mengerti, tentang islam dan tingkahnya.
Kadang aku tersenyum, selama dia bicara tentang mereka yang mengaku islam, aku tinggal bilang, apa dia pernah melihat aku dan seluruh keluargaku bertingkah sama dengan orang orang aneh itu? tidak akan pernah bukan?!

Sekali dua dia mempertanyakan, darimana aku tahu malaikat itu begini dan begitu, melakukan ini dan itu padahal aku tidak bisa melihatnya.
Kalau kubilang al Quran menuliskannya, dia akan bilang bahwa Quran pun ditulis oleh manusia.

Otakku memang gatal memikirkannya.
aku tidak selalu cerdas dalam menjawabnya. dan ketidak cerdasan itu makin membuatku gatal memikirkannya.

Jika kita melihat gus Dur, yang daya lihatnya tinggal 20% itu menuliskan terjemahan sebuah kitab kuno, apa yang mampu kita percaya?

apakah ‘gus Dur lah yang menuliskan kitab kuno tersebut’
atau ‘gus Dur lah yang berkehendak menerjemahkan kitab kuno tersebut, atas kemauannya sendiri. sehingga terjemahannya terkontaminasi bias dari persepsi gus Dur atas kalimat penulis aslinya’
atau malah, ‘gus Dur kan tidak bisa baca, jadi mana mungkin dia bisa menulis terjemahan. pasti itu cuma karangannya saja’
mana yang akan kita percaya?

pertanyaan itu, diluar dari konteks apakah gus Dur termasuk pribadi yang bisa dipercaya, apakah gus Dur adalah kyai (mana sertifikat pengesahannya), apakah gus Dur layak menjadi penerjemah sebuah kitab bertuliskan bahasa arab gundul dengan kemampuan daya lihatnya yang sesedikit itu, atau apakah gus Dur benar benar bisa menghasilkan tulisan, terlepas dari itu semua,
pertanyaan sederhananya adalah, apakah kita percaya gus Dur bisa?

kita hidup sejaman dengan gus Dur, maka gus Dur lah contoh yang paling mewakili, model yang paling tepat, jika aku ingin membahas tentang Quran dan siapa yang menuliskannya. Nabi Muhammad saw jauh lebih tak terdeskripsikan dibanding gus Dur. tapi jika boleh mendiskon sekian persennya, maka gus Dur membawa sedikit dari sifat beliau, modal yang cukup untuk saya jadikan role model, dalam rangka meluruskan gatalnya otakku.

Jika buku terjemahan itu jadi, kita akan percaya yang mana?
kitab aslinya, apa tulisan gus Dur yang adalah terjemahannya?

semua jawaban, pasti berbeda melihat dari sumber awal dari pemikiran.

bagaimana jika kubilang pada kalian,
aku lebih percaya pada Ia yang membuat mereka menuliskannya.
aku percaya pada suara Tuhan yang dititipkan pada penulis kitab dan penulis buku terjemahan itu, keduanya sekaligus.

apakah kalian akan percaya padaku?

semua jawaban pasti berbeda melihat dari sumber awal dari pemikiran.

jika orang orang yang berbeda pendapat ini berada dalam satu ruangan dan boleh menyuarakan pendapat mereka.
siapa yang akan dianggap gila, dan siapa yang akan beranggapan bahwa ‘orang orang ini gila’?

apa kira kira yang dikatakan malaikat saat melihat keriuhan suara hati orang orang yang riuh di dalam satu ruangan itu?
apa yang kira kira dikatakan semua malaikat yang bertebaran di antara langit dan bumi, melihat dan mendengar suara hati orang orang di satu ruangan itu saja?
apa kira kira yang akan malaikat katakan pada Tuhan?

“Untuk apa Engkau menciptakan makhluk yang akan merusak bumi yang Engkau ciptakan, Tuhan?”

dan maaf ya,kalimat itu, memang ada di dalam al Qur’an.
dan sampai sekarang, apakah Tuhan melipat manusia karena ‘telah merusak bumi yang diciptakan Tuhan’ ?

Mekanisme Tuhan, memang tidak sama dengan mekanisme kepercayaan manusia pada penciptaan.

enyerawati, Iedul Adha 26102012

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di enyerawati, ilmu melihat dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s