Cerita anak ayam buta

Karena buta, betapa teganya mereka yang sengaja membuang atau memakan jatah jagung mereka, hanya karena kebutaannya membuatnya tidak bisa menunjukkan tuduhan pada orang yang tepat.
Mereka tidak bisa melihat, siapa yang memakan jagung mereka.

Tapi itu bukan berarti mereka tidak tahu siapa yang memakannya.
Hati para buta jauh lebih peka, anak ayam ataupun manusia.
Mereka tahu, dan air mata mereka menjadi saksinya.
Mereka menahan air mata, hanya karena mereka merasa
bahwa ayam jantan tak boleh menitikkan air mata.

Betapa tega yang memakan jagung mereka.
Dan tertawa kekenyangan berhura hura.
Sementara si buta ketakutan dan merasa putus asa.
Demikian putus asa sehingga tak bisa menitikkan air matanya.

dengan menahan air mata,
para anak ayam cerita,
betapa riuh rendah suara hura hura kekenyangan mereka,
mereka yang para buta tahu, telah memakan simpanan jagungnya.

untuk pertama kalinya, aku melihat air mata anak ayam yang buta.
betapa teganya yang memakan simpanan jagungnya.
dan tertawa kekenyangan seolah tak ada dosa.
melihat air mata para anak ayam yang buta.
makin mereka tahan, makin sakit hatiku melihatnya.

Rabbuna, menjaga tanganku dari digigit nyamukpun aku tak sanggup melakukannya.
Engkau saja yang menjaga mereka, aku tidak ingin usul bagaimana caranya.
Aku hanya bisa cerita, bahwa hatiku sakit melihat mereka terusik, apalagi menjadi begitu putus asa.
air mataku, tak sepadan dengan air mata mereka Gusti.

Dan hatiku makin sakit, kala mendengar rencana, bahwa jumlah jagung yang telah ‘terlanjur’ dimakan diwaktu yang lama,akan diganti dengan jagung yang sama. Bukan jagung baru dengan berat yang sama. Tapi dengan jagung lama, biji jagung sisa-sisa, dari yang telah mereka makan sekian lama.
kok ya pintar aturannya.

Rabbuna, aku tidak sanggup menahan air mata melihat para anak ayam buta.

Lindungi mereka.
para anak ayam buta, yang ditinggal induknya.

enyerawati 07012013

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, enyerawati, ilmu melihat dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s