Kurator

Aku masih teringat betapa bersemangat dan berapi apinya dia bicara demi mengajak teman temannya memahami kurasi di ruang pameran. Terutama, membedakan, mana yang kurasi dan mana membaca foto.
Aku masih sangat ingat, apa ekspresinya saat membaca curration board-ku, dengan titel ‘kurator’ diatas namaku. Dia mengelus dadanya sambil menggeleng pelan, ‘MasyaAllah’.

Di Jakarta, di jamanku dulu, teramat sangat sedikit orang yang ‘berani’ menempelkan titel itu diatas namanya. Paling-paling ‘cuma’ ketua panitia, atau ‘penulis’. Paling sering justru yang biasanya ada di kata sambutan, yakni ‘Salam’ atau ‘Selamat menonton pameran’. Kurator jaman itu, yang kuingat, cuma 3-4 nama. Itupun, cuma 2 yang di Jakarta. Mas Yudhi, dan pak Jim.
Teramat sangat sedikit orang yang ‘berani’ menempelkan titel kurator di atas namanya, dulu, di jamanku dulu. Titel itu seperti gelar kyai. Tidak ada sekolahnya, tapi butuh pengakuan absolut dari ‘umat’nya.
Aku tidak tahu, seperti apa Jakarta sekarang.

Mungkin saja jaman sudah berubah.
Dan seperti saat ada yang anget soal penyematan gelar ‘fotografer atau bukan’, maka dibagian manapun di dunia ini, pasti ada yang anget soal penyematan gelar ‘kurator atau bukan’.

Bagiku, asal dia sudah selesai melakukan proses metodis kuratorialship, maka dia boleh saja mengaku sebagai kurator. Seperti orang mengaku fotografer. Atau orang yang mengaku artis. Dia kan cuma ‘mengaku’.
Pengakuan, seperti titel apapun, adalah sesuatu yang harus dicapai. “Butuh tua” juga. Adapun soal kualitas, itu soal lain kan?!

aku paling begidik (ngeri), jika ada yang mengkritik pamerannya, bukan karyanya, pada pameran foto di kota sekecil kota kami.

Pameran itu selalu mahal, pake duit, dan pake capek segala. Kalimat paling pas jika aku melihat pameran orang lain adalah:
“Selamat berpameran, teman.” — semoga mendapatkan pengakuan dari umat yang menyaksikan pameran. amin.

enyerawati 16012013

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, eny bicara Fenomena, Photo Critics, photography phenomena dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s