Tentang Memamerkan Karya Barengan

Tentu saja saya akan bicara tentang dunia fotografi. Pertama karena saya tidak terlalu yakin atas pengetahuan saya soal prosedur pameran seni rupa misalnya. Kedua karena saya lebih bisa mempertanggungjawabkan dunia yang saya pelajari sekian lama, jika dibanding andai harus mempertanggungjawabkan pendapat saya pribadi tentang dunia selain fotografi.

Prosedur pameran fotografi di seluruh dunia sebenarnya sama. Pameran baru bisa direncanakan jika sudah ada karya yang dihasilkan. Maka, dimanapun, metodologi pameran adalah tetap, yaitu:

  1. ada karyanya
  2. ada pesan yang ingin disampaikan
  3. ada ruang pamernya
  4. ada penonton pamerannya
  5. ada yang membicarakan tentang pameran, setelah pamerannya ditutup

Lalu letak kurator, dimana?
Kurator baru diperlukan jika karya yang akan di pamerkan lebih banyak dari daya tampung ruang pameran.

Kurator tidak diperlukan, jika tidak ada karya, atau ruang pamernya lebih besar dari seluruh jumlah karya yang akan dipamerkan.

Kurator juga tidak diperlukan, jika pamerannya adalah pameran tunggal, dimana fotografernya sudah sangat mengenal siapa yang akan menjadi pengunjung ruang pamernya, seberapa daya baca mereka, dan apa yang mereka harapkan dari datang ke ruang pamer si fotografer tersebut. Jika fotografernya sudah yakin dengan faktor faktor itu, maka bisa jadi kurator tidak lagi diperlukan.

Bagaimana fotografer bisa tidak terhitung sebagai faktor metodologi pameran?
itu karena fotografer memang berada di luar mekanisme metodologi pameran.

Apalagi, jika pamerannya adalah pameran bersama.

1. Ada karyanya (=bisa karya dari satu fotografer, bisa karya barengan)

2. Ada pesan yang ingin disampaikan (=bisa pesan foto per foto, bisa pesan dari keseluruhan foto di ruangan, bisa tema besar yang menjadi benang merah atau latar belakang dari penyelenggaraan pameran)

3. Ada ruang pamernya (=bisa ruang pamer kelas kecil, yang memuat 20-30 foto saja, bisa juga ruang pamer kelas grande, yang dipakai untuk mendisplay gambar berukuran super besar, atau malah, bisa juga ruang pamer kecil yang harus muat untuk memasang lebih dari seratus foto)

4. Ada penonton pamerannya (=bisa pendatang dadakan, yang kebetulan lewat di sekitar ruang pamer, bisa juga pendatang yang memang menunggu event pameran, dan ada juga pengunjung yang datang dengan alasan sopan santun/undangan)

5. Ada yang membicarakan tentang pameran, setelah pamerannya ditutup. (=bisa menghujat pameran dengan kritik pedas, bisa juga orang yang terinspirasi dari melihat gambar gambar di ruang pamer).

::

Pameran di Komunitas Fotografi Lokal (=WARKOP Malang)

Kabarnya, pameran komunitas ini ditunggu tunggu oleh banyak pihak. Tapi sebagai kurator, saya ingin bukti, bukan asumsi.

Kabarnya, komunitas ini adalah satu satunya komunitas yang ditunggui kurator. Sehingga kemungkinan berkembang ke arah teknis pun pesan visual, bisa berjalan seiring dan searah sama cepat. Lebih cepat daripada komunitas yang lainnya. Sebagai kurator, perhatian saya bukan cuma dari pendapat fotografer. Daya baca pengunjung pameran lebih penting untuk dipikirkan bagaimana cara meng’upgrade’nya daripada sekedar berkonsentrasi pada bagaimana membuat fotografer menghasilkan karya luar biasa.

Kabarnya, ada pemahaman bahwa kurator adalah seseorang yang dianggap punya kuasa dan wewenang untuk menentukan arah branding dari pameran. Sebagai kurator, saya ingin membuktikan bahwa penguasa sebenarnya adalah pengunjung pameran. Bukan kurator. Seorang kurator harus menentukan alat ukur dan metode ukur untuk mengukur daya baca dan daya apresiasi pengunjung ruang pamernya. Kurator bukan paranormal, apalagi dewa setengah tuhan.

Jika di pameran Warkop Malang yang pertama, saya mengatur ruang pamer seperti sebuah buku “cara membaca karya di ruang pamer”, semacam buku alfabet lah.
Maka, di ruang pameran Warkop Malang yang kedua, saya mengatur ruang pamer berdasarkan chapter chapter buku dari sebuah kumpulan novel visual yang amat tebal.

Demi azas keadilan, saya memasang ‘rata rata bawah’ dari karya yang dikumpulkan. dalam panggilan, saya pernah menulis, “aku ingin foto foto yang hampir kalian buang”.

Pertama, karena ruang pamer bukan ruang pengadilan yang tergantung apa kata hakim dan juri. Ruang pamer adalah menyampaikan banyak hal dari banyak fotografer. Atau menyampaikan satu hal dari satu fotografer.

Hanya bicara tentang rata rata atas, tidak selalu membawa dampak bagus bagi komunitas. Sedemikian hingga, dalam pameran kedua, saya sengaja mengambil rata rata bawah untuk dipamerkan dalam bentuk print. Sembari menyebarkan kuesioner agar saya bisa mengukur daya resepsi pengunjung pameran. Sementara gambar rata rata atas, ditampilkan dalam format bergerak (slide show).

Seperti saya keluhkan berkali kali. Satu satunya metode bicara dengan anak anak komunitas khusus yang unik ini adalah dengan menujukkan mana barier dan  berbentuk seperti apa, juga ‘pengalaman’ tentang seperti apa sakitnya.

Bahasa kurasi yang saya pilih::

untuk menyampaikan pesan pada fotografer, “Jangan memotret yang seperti ini lagi”, adalah dengan memasang foto tersebut di ruang pamer dan mengumumkan seperti apa foto yang diterima masyarakat beserta tolok ukurnya. Dan seperti apa foto yang tergolong mencerahkan (menginspirasi) dan membuat pengunjung pameran menunggu pameran berikutnya. Terhadap foto dengan komentar/respon terendah, fotografernya pasti paham apa yang harus dilakukannya untuk pameran yang akan datang.

untuk menyampaikan pesan pada pengunjung pameran, “Anda harus mulai belajar membaca foto sebagai foto, bukan sekedar asumsi atau hasil hayalan dari seseorang yang mengklaim dirinya fotografer”, adalah dengan mengklaim keras keras bahwa pameran ini ada kuratornya, dan kuratornya memilih karya rata rata bawah untuk tampil dalam bentuk print. Jika ia sebagai pengunjung pameran belum juga mengerti maksud foto yang dipamerkan, maka, silahkan membiasakan diri untuk menghampiri fotografer atau kurator pameran, dan mulai membicarakan tentang karya.

Bahasa kurasi tersebut harus saya gunakan, karena karakteristik penghasil karya maupun profil pengunjung pameran yang sebelum sebelumnya, relatif bisa dilacak.

Kurator sebagai jembatan, harus bisa mempertanggung jawabkan apa yang dilakukannya. Yaitu dengan melakukan analisis dan pelaporan dari kuesioner dan pengamatan atas pameran yang dikuratorinya. Baik pengamatan atas penghasil karya (fotografer), maupun pengamatan atas behaviour pengunjung.

Andai pameran dari satu fotografer saja, maka branding yang ditampilkan hanyalah image branding seperti yang diinginkan fotografernya saja.

Tapi karena saya mengkurasi pameran barengan, maka saya harus menjembatani pesan baik pada fotografer maupun pada pengunjung pameran, dengan menggunakan jembatan yang sama, yaitu ruang pamer dan karya foto yang terpasang disana. Masing masing karya, memiliki 2 fungsi. Yaitu sebagai penghantar pesan ‘barier’ bagi fotografer, dan sebagai pengantar pesan persuasi untuk mengupgrade kebiasaan sebagai pengunjung pameran.

Jembatan itu, saya sebut sebagai bahasa kurasi.

Sebagai pribadi, pesan saya tetap, dari dulu sampai kapanpun juga. Jika cukup punya uang, adakanlah pameran tunggal. Pameran Anda sendiri. Carilah kurator yang bisa membuat Anda merasa nyaman dengannya, dan bisa mempercayakan ‘pembungkusan’ pesan agar menarik dan dibawa pulang oleh pengunjung pameran.
Tidak harus saya, karena saya tidak bisa berbahasa halus, apalagi obral kata pujian. Saya super sulit memuji.

Kurator itu semacam Event Organizer dari penyampaian pesan atas karya Anda pada pengunjung pameran. Carilah siapa saja yang membuat Anda bisa percaya seratus persen padanya. Lalu adakan pameran, dan amati apa respon pengunjung pameran, atas gaya Anda berkarya.
Saran ini, tidak ada hubungannya dengan profesi. Saya memberikan saran yang sama baik pada fotografer kelas wahid, maupun fotografer tingkat paling pemula.

Mungkin bukan bahasa yang mudah dicerna. Yang pasti doa saya hanya satu, semoga menjadi ilmu.

eny erawati 05022013

Desain Poster Pameran PESTA Photo 2013 Komunitas fotografi Warkop Malang

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, eny bicara Fenomena, enyerawati, ilmu melihat, Kegiatan Pembelajaran, Photo Critics, photography phenomena dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s