Fadli Rozi, Komunitas Warkop Malang, dan Mindset Fotografi Indonesia

Yang dia ingat, adalah saat dimana pertama kali aku melihatnya, dan dengan telunjukku mengarah padanya, aku bertanya, ‘kamu siapa?’

Kemarin, saat terakhir kami ketemu sebelum dia menuju tempat mainnya yang baru, ia menceritakan setumpuk pertanyaan dalam rangka skripsian seorang teman yang memanaskan rambut kriwulnya, sambil menatapku ia berkata, ‘akhirnya, aku tahu aku itu siapa’.

Fadli Rozi bukan seseorang yang bisa duduk diam di tempatnya. ia usil, dan tingkat keusilannya bisa membangunkan macan tidur.

sebuah foto matahari menor membuatku terpana melihatnya, dan sebuah foto panorama 360 derajat membuatku kaget, dan masih kaget untuk waktu yang cukup lama.

Tingkat keusilan si kriwul, julukan kami padanya, mampu membuatku terpaksa memikirkan ulang bagaimana pendidikan fotografi yang seharusnya, atas nama jaman.
Ia membuatku terpaksa bangun dari tidur panjang keputusasaan.
Ia membuatku terpaksa menenteng kamera lagi, bersusah susah tidak tidur dari malam sampai fajar –no matter how tired i am– hanya untuk melihat fakta, bagaimana ia telah berhasil membawa banyak teman dalam satu kota, bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa, yang masih kularang utk dibuka, demi menunggu Indonesia siap untuk menghargainya.

“Indonesia bagian barat baru melek dengan apa yang sudah kami buat mainan sekian lama. Pusatnya fotografi Indonesia masih baru mempromosikan apa yang sudah menjadi makanan wajib kami di hampir setiap minggunya.” — aku membayangkan menuliskan kalimat itu suatu hari nanti, ku harap tak akan terlalu lama.

Keusilan si kriwul, menular pada teman teman yang bergaul bersamanya. “Have you ever considered about my feeling to Warkop? i live with them” padaku ia berkata dengan menahan semua perasaannya.

Jika tanganku bisa menunjuk padanya, among any other friends, ‘kamu siapa?’ pada saat pertama kami jumpa. Melihat apa yang sudah dibuatnya sampai sekarang, apa yang bisa menahanku dari berpikir, bahwa Tuhan memang telah menggariskan SK tugas padanya, bahwa ia memang harus mbabat alas utk membangunkan mindset dunia fotografi di Indonesia.
(dia, yang untungnya bukan saya. secara, SK semacam itu pasti berat)

Ia memang gila. Seseorang yang gila dengan kameranya. Bukan gila pada kamera, tapi gila With cameranya.
Masalahnya cuma satu, ia mengajak ratusan orang dari kami, untuk gila bersamanya.

Fotografi Indonesia memang harus bangun, mulai kemarin.

enyerawati 23022013

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, Photo Critics, photography phenomena dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s