Berharap ada yang

Dari jaman masih di Galeri Antara, aku sudah pengen bilang, ‘tidak adakah yang ingin jadi kurator foto Indonesia (selain kami bertiga) ?’

Tapi, makin hari, aku makin sadar, bahwa pekerjaan kurator itu tidak gampang. Dan pertanggung jawabannya memang ndak karu karuan.

Jika dia salah baca, maka pasti salah membacakan.
Ketika dia tidak paham, maka pasti gagal memahamkan orang.
Manakala dia memegang harapan, pada umumnya, malah dikecewakan.

Dulu, cuma mas Yudhi saja yang gajian, murni sebagai kurator.
Sekarang ada bang Oscar.
Selain mereka, kurator itu semacam pekerja parttimer, yang gajinya mengandung nilai yang ndak jelas.
Maka maklumilah, jika kuratorialshipnya sedikit berpihak, pada sebuah ‘kejelasan’ yang bernama rupiah, kadang dollar.

Dan, dimataku, makin hari, makin suram lah dunia per-kurator-an Indonesia.

Aku? Bayaranku pancake, teh, kadang kopi dan makan barengan (nasi liwet itu enak tenan). Kadang onde onde atau T Shirt bertuliskan macam-macam nama, rejeki rejekian. Fasilitasku antar jemput, dan kalo hunting, tripodku yang super berat itu, ada yang membawakan. Kalo ngantuk, ada yang memboncengkan.
lalu, saat mengkuratori, apa aku harus berpihak pada pancake, demi sebuah kejelasan?

Jadi, jika dibandingkan dengan mereka para kurator yang kataku ndak jelas itu, aku lah kurator yang paling tidak jelas, sedunia.

Aku sempat agak berharap, ketika melihat perkembangan teknis begitu menggila disini. Aku sempat berharap, sejalan dengan perkembangan teknologi, lahir pula anak anak muda yang hatinya jernih, otaknya cemerlang, tidak ribut dengan uang.
Untuk sejenak aku lupa, bahwa kita ini, bangsa Indonesia.
Dan bangsa Indonesia itu, … sedang begitulah warnanya.

Anak anak muda yang hatinya jernih, otaknya cemerlang, tidak ribut dengan uang.

kurasa, cuma bayi yang bisa begitu ya?!
aku salah harapan lagi, rupanya.

Tapi aku yakin, masih ada kurator di luar sana. Pasti ada orang orang yang tahu dan bisa melakukan proses kuratorialship sesuai dengan metodologi yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan keilmuannya. Dengan model kepribadian yang Anda bisa nyaman dengannya. Jika nemu, peliharalah hubungan dengan mereka. Sehingga saat tidak nyaman denganku, Anda bisa menemuinya.

Pokoknya, jangan pameran, apalagi menerbitkan buku, tanpa kurator yang menemani anda berkarya.

Sekian curhat pagi ini.
Matur nuwun telah sudi membaca

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s