Cara Nasruddin memukul kepala orang di era Kriwulism Fotografi

cara cerdas memukul kelapa orang
::
kalian tahu bagaimana aku dan kepribadianku kan?!
makhluk paling sombong sedunia.
aku merasa, tidak ada yang lebih pintar dari aku, dan tidak ada yang lebih benar dari aku. karena aku memegang semua buku yang memuat tentang aneka kebenaran itu. cuma aku yang memegang status bergelar akademis di bidang itu.

suatu hari, antara akhir tahun 2008 atau awal 2009, seorang pemuda berambut cepak muncul di tengah tengah kami.
mempresentasikan gambar kuburan dengan matahari menyembul diantara pepohonan. lalu gambar berikutnya, adalah gambar daerah pantai dengan matahari beserta langit birunya.
gambar yang biasa saja, menurutku. tidak istimewa.

dia memutar slidenya sampai sekian kali hingga aku hafal gambar nya, baru tersadar. itu matahari bukan?! matahari menor dengan bilah bilah sinarnya, pada langit biru yang biru nian, dan, detail foreground yang lengkap. seperti mata memandangnya, andai aku ada disana.

schock? tentu saja.
Tuduhanku filter, tapi filter berapa tebal bisa mendapatkan matahari segitu rupa. Dugaan berikutnya masih filter, tapi filter model apa yang bisa mendapatkan warna langit segitu naturalnya.
plus, detail foreground, berupa apa saya yang ada menjadi pengisis frame bawah, masih dengan detailnya. Lengkap pula. MASIH dengan warna yang membuatku mau tak mau justru meragukan adanya filter didepan lensanya.

Kami bertanya, dia menjelaskan. Guess, butuh berapa jam baginya untuk menjelaskan?! Lebih dari dua jam.
Bukan kami bodoh, at least, aku tidak sudi dibilang bodoh. Bukankah style-ku seperti di awal paragraf, adalah, aku si manusia paling sombong sedunia. Aku tidak sudi dibilang bodoh.
TAPI, faktanya, tidak ada satupun dari kami yang mendengarkan ceritanya, yang mudheng alias paham 100% apa yang dikatakannya. Meski dia sudah menjelaskannya selama lebih dari dua jam.

Aku pulang masih bertanya tanya, apa yang sebenarnya dia katakan. Dan masih memikirkan how to nya, bahkan masih memikirkannya hingga sekian bulan kemudian. Bodoh.

Bulan September, jauh setelah sesi itu, sekian tahun setelah ‘sesi terkaget kaget’ itu, aku sudah mulai bisa melipat udelku. Aku sudah mendapatkan tempat bagi diriku, dan ‘pride’ku. Barulah aku sanggup mencerna apa yang dia coba jelaskan pada otakku, selama lebih dari dua jam itu. It took about a year just to admit that it was me, who wasn’t listening.

Saya yang terlalu bodoh. Cukup bodoh untuk bersikap menolak pada metodologinya, duluan. Meski saya tidak mengakuinya waktu itu, pada akhirnya, saya harus mengakuinya.

Jika tidak mau mengakui kebodohan diri sendiri, jangan berharap naik derajat di kehidupan.

Walhasil, saat ini, aku sudah ketinggalan jauh dibanding teman temanku sendiri. Saat mereka -para gerombolan si berat itu- sudah mainan, aku masih harus membiasakan diri untuk melakukan hitungan. Bonus otak tua. Makin jauh saja aku tertinggal dibanding teman teman.

Fakta bahwa keingintahuan mereka luar biasa. Sudah gerombolan si berat, keingintahuannya luar biasa pula, bisakah dibayangkan seperti apa mereka? Dari pertanyaan sederhana, mereka bisa membuat sesuatu yang tadinya, menurut pengetahuanku, tidak mungkin dilakukan ‘with bare naked gun’.
Mereka pergi sebentar, untuk kembali sembari membawa bukti di tangan, bahwa mereka, telah selesai membuktikan perkataan.

Berkali kali aku harus menelan air ludah, padahal tak pernah meludah. Berkali kali harus merapikan mulut, dan menanggung malu, karena teman temanku yang seangkatan, melakukan atau mengatakan sesuatu yang ‘memalukan’.

Aku yang sumpek karena menanggung malu atas apa yang orang lain katakan. Orang lain itu, adalah teman temanku seangkata, yang menghuni di era jauh sebelum era gerombolan si berat ini dilahirkan. Aku harus menanggung malu, hanya karena dimata teman temanku, ‘kesalah pahaman’ itu menunjukkan betapa jadulnya si temanku itu dengan perkataannya. Atau sederhananya, betapa belum levelnya temanku itu, dengan jaman. Tidak pake bilang, tapi seperti tertulis di udara, ‘betapa jadulnya teman temanmu itu mbak’.

Aku ingin marah. Terkadang, ingin menjumpai temanku itu face to face untuk mengatakan padanya, betapa bodohnya kalimatnya. Tapi, aku ingat temanku yang dulu cepak itu pernah menjelaskan dengan sabar. Dua setengah jam, dan menunggu dengan another kesabaran, selama berbulan bulan, hanya demi menungguku untuk MAU paham.
Kupikir berkali kali sekalipun, krasa, bukan piketku untuk membenarkan mindsetnya temanku yang kadung ketinggalan jaman. Biarkan saja lah.

Nanti, suatu saat, toh mereka akan sadar, jika memang sudah rejekinya untuk sadar.

Temanku, si rambut cepak itu, sempat sampai kriwul, selama masa menantiku mudheng tentang apa yang dia katakan. Sekarang cepak lagi dia.

Aku ingat caranya membuatku tidak terlalu marah padanya, cara cerdasnya untuk membuatku rela mendengarkannya, meski tidak sudi mengaku bodoh di depannya. Cara Nasruddin, pada era kriwulism, nama yang kuberikan padanya.
dia bilang,

“Diriku lho ndak tahu bagaimana caranya membuat foto silhouette. diriku malah ‘waw’ jika melihat foto silhouette. Karena sejak pertama bawa kamera, diriku tidak pernah diajari untuk membuat foto silhouette. Diriku diajari bahwa foto yang benar itu, ya yang seperti bagaimana mata memandangnya. Dan diriku diajari dengan pemikiran itu sampai bisa. Buktinya bisa kan?!”

Coba pikir, hape paling bodoh saja, begitu diarahkan ke matahari, pasti silhouette bukan?!
Trus dia bilang, dia tidak tahu bagaimana caranya membuat silhouette.
Dalam rangka ingin membenturkan logika yang mendengarnya bukan?!

kriwul memang kriwul sejati.
meski butuh bertahun tahun untuk bisa menyadari ini,
and again, thank you was never been enough

enyerawati 23032012

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, eny bicara Fenomena dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s