Aku dan kopi

Itu semacam kisah romantis yang tak bisa kucari gantinya.
Pernah, at my peak seasons, saking keritingnya otakku, aku perlu sampai 7 gelas kopi instan dalam seharinya.
Dan itupun, tidak ada hubungannya dengan kantuk. Kalau ngantuk, ya tinggal selonjor, langsung tidur deh.
Ada juga cerita aku pernah harus menelan obat tidur, hanya untuk bisa tidur. Jadi, ketika kopi dan kantuk tidak lagi berhubungan di badanku, maka rasa syukurku makin bertambah.

Kopi itu, teman yang sangat setia. Kemanapun aku pergi, sachetan kopi hampir tak pernah ketinggalan. Aku cuma perlu teko, dan colokan. Aneka tumbler pun jadi koleksi dan kebanggaan. Kubawa dengan hati penuh kebahagiaan.

Aku tidak punya tumbler murahan. Semuanya mahal. Ada yang beli sendiri, sebagian besarnya, hadiah dari sahabat, dan saudara saudaraku. Mbak yang di seberang benua, dan adik iparku yang juga penyuka hal yang sama.

Sederhananya, romantisme aku dan kopi, adalah sesuatu yang tak bisa kucari gantinya.

Lalu datanglah hari, dimana mommy mulai benar benar tidak suka pada aku dengan kebiasaan ngopiku. walhasil, ke UGD menjadi ‘jalaran’ untuk tubuhku menolak kopi. entah suntikan apa waktu itu. yang pasti, penurun panas, dan antibiotik utk radang faali dalam.

sejak itu, aku tidak bisa minum kopi. ganti chocolate.
manis sih, tapi tidak romantis. tidak seromantis kopi.

dan yang paling menggangguku adalah, jika harus ngumpul, hang out, atau ‘ngopi’ dengan teman temanku, para gerombolan si berat itu. aku tidak bisa ngopi. aku pegang susu coklat.
itu semacam sesi mejeng, tapi tidak ganteng. tidak seganteng aku biasanya.

*sighs*

semalam, aku mulai curhat ke mommy. ‘aku benar benar tidak sanggup lagi menghabiskan segelas kopiku sendiri, meski cuma segelas sehari’ Maksudku, supaya injin ngopi itu turun lagi. Pengalamanku, apapun yg aba dan mommy boleh, prosesnya tidak akan berat lagi utk kulakukan.
Mommy diam, dan kemudian memberikan jawaban.
‘berarti badannya sudah mulai bener’.
Jelas saja aku protes.
‘Kopi itu ndak pa pa lho mom. Kopi itu ndak haram, ndak syubhat. Kopi tuh malah ada baiknya juga. Buktinya boleh. Dari dulu juga boleh kan?!’ aku beralibi.
‘Kalo beneran boleh, kenapa sekarang anak anak (maksudnya crew), tidak boleh ngopi ama dokter?’
Aku terdiam.

Tersudut dan tidak bisa membantah. Aku membayangkan sticker Line Naver, gambar karakter yang melambai lambaikan saputangan, waving good bye, dengan berlinangan air mata.

Gut bye kopi. Posisimu ganti hot chocolate di dalam tumbler-tublerku ini.GambarImage powered by Naver

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s