Ra si dewa matahari

Ra bisa dibilang nama tengahku, Eny eRAwati. Di cerita yunani, Ra adalah dewa matahari. Dalam cerita perwayangan, Erawati adalah nama yang mengandung makna petir. Seminggu ini, nama RA itu menggantung seperti awan di atas kepalaku.

Aslinya aku takut. Dan merasa tidak mampu berdiri tegak dan gagah, seperti biasanya aku. Tapi karena tidak cantik, maka aku sering menyebut diriku ganteng. Dan konsekuensi ketika aku sedang ‘tidak ganteng’ adalah, merasa bersalah dan ‘malu-maluin’.

Fardhu kifayah itu ada padaku. Kotaku tidak besar. Penghuni fotografinya juga tidak terlalu banyak. Tapi selama lulusan fotografi di kota ini cuma aku, maka fardhu kifayah itu jatuh padaku. Dulu aku cuek dan berlindung pada kalimat, ‘kami sedang berproses mentrasnfer ilmu’. Malaikat akan mencatat proses, begitu caraku meyakini niatku. Faktanya, kami diberi sesuatu yang bukan cuma memukul jidatku, tapi juga merobek hatiku.

‘Orang yang lapar, tapi salah makan, perutnya akan makin tidak karu karuan’ begitu kata temanku. Aku menangis membacanya. Segala yang kubisa sudah kukerahkan, termasuk sabar dan aneka jenis pendekatan. Dari diskusi, mengamati satu persatunya teman, merayu, menunggui mereka berproses dengan sesamudera sabar, sesekali mengusik ego, sampai melempar sepatu atau menendang. Semuanya sudah kulakukan. Dan teman temanku masih ‘lapar’.

“Apa seorang aku menjadi tanggung jawabmu?” tanya satu temanku. Aku tidak kuasa menjawabnya. Aku hanya ingat bahwa fardhu kifayah jatuh pada ulil albab di daerah itu. Jika salah, maka yang ditegur duluan, adalah ilul albab yang ada di daerah itu. Dan itu, adalah hukum yang sederhana saja. Tapi aku tidak sanggup menjawab ‘iya’. Karena tafsirannya dan tafsiranku tentang fardhu kifayah dari keilmuan fotografi ini, pasti berbeda. Aku berbatas pada keilmuan fotografi, sementara responnya adalah, “jika iya, maka aku minta uang kuliah”. Dan itu adalah tentang hidupnya. Bukan sekedar tentang keilmuan fotografinya semata.

“Ketika fotografi sudah menjadi terlalu berat untuk dinikmati” status temanku yang lain tampak dari beranda. Dan aku segera menyarankan untuk melipat kameranya. Menggantinya dengan sesuatu yang kecil. Sehingga ia tak perlu memikirkan apa apa ketika memotret apa yg ada di depannya. Hanya demi menyenangkan hatinya. Aku mengatakan itu padanya, karena aku yakin, sesuatu yang lebih kecil dari kameranya, justru akan membuatnya putus asa dan kesulitan untuk menyampaikan kegundahannya. Dia harus turun ke hutan atau naik ke puncak gunung dan mendongak, seperti yang biasa dia lakukan. Jika kameranya terasa berat, dia bisa tidur telentang, sambil memandang bulan dan bintang. Tidak harus memotret, tidak wajib memberikan setoran. Bahasa yang aku yakin, dia paham.

Kami di satu kota ini menjalani proses bersama sama. Ketika melihat seorang teman jatuh, mempermalukan dirinya, kami tidak serta merta mentertawakannya. Kami mengulurkan tangan, menawarinya bantuan. Jika ia perlu sembunyi, agar perbuatannya dalam memperbaiki dirinya tidak ketahuan, kami menyediakan pertunjukkan lain, agar perhatian orang teralihkan. Dan si teman bisa berkesempatan belajar secepat cepatnya, agar bisa tampil sama gagahnya dengan kami yang sudah berjajar di depan. Pura puranya, menunggu giliran panggilan tampilan. Saat dia tampil, yang lain menyiapkan bahan, agar tampilan si teman tidak hilang tertelan awan. Menemani tampilannya, agar tampak sejajar. Dan itu membutuhkan strategi. Itu perlu energi dan bahan. Juga perlu pengetahuan progress dan update perkembangan semua orang.

Itu seperti peran pengasuh dan penjaga kota, yang aku mendeskripsikannya sebagai TEMAN.

Jika karyamu biasa biasa saja, maka jangan tampil sendirian. Tampillah bersama sama. Sehingga yang biasa itu pun menjadi tampil luar biasa.

Gus Ali pagi ini mengirimkan twit paginya.
Agoes Ali Masyhuri@gusali_bsh 3h

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad. Bagian hidupmu yg tlh berlalu tak dpt tergantikan,dan apa yg kau petik drnya tak ternilai harganya

Dan dengan menghela nafas yang kutahan selama beberapa detik itu, aku berkata, ketakutanku yang terbesar adalah ketika aku ditanya, apa yang sudah kulakukan ketika berteman.
Kenapa aku membiarkan teman terus nekat dengan apa yang dilakukannya misalnya, atau
Kenapa aku membiarkan teman yang tidak mau berusaha berkembang?

Agoes Ali Masyhuri@gusali_bsh 3h

Waktu adalah nikmat, jangan sampai waktu kita hilang secara percuma, karena umur yg sebenarnya adalah waktu yg digunakan hidup bersama Allah
*sighs*
Bahkan meski namaku RA, entah dimaknai dewa matahari ataupun petir, aku tetap saja takut dengan sesi pertanggungjawaban itu.

Makin mbundel yang kuhadapi, makin takut aku pada pertanyaan di sesi pertanggung jawabanku nanti.

Jika aku gemas melihat seseorang, dan aku tidak boleh melempar sendal, maka, aku mencubit teman yang duduk disebelahan. Mencari teman yang pengertian.

Itu satu hal yang tidak bisa dilakukan, bahkan oleh Ra si dewa matahari.
Matahari kan tidak boleh gemas.

enyerawati 13042013

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s