Mimpi dua hari

Bukan lupa pada pelajaran agama tentang mimpi,
Bukan percaya mitos tentang mimpi,
Bukan asal berangan angan dan bicara hal remeh, seremeh mimpi.
tapi Tuhan hanya bicara pada manusia bebal yang tidak mau mendengar bahasa tampak mata, dengan ‘berbicara’ lewat mimpi.
well, so does syetan, atau hawa nafsu lawamah.
tapi intinya, jika dhohirnya tidak juga ‘terdengar’, maka mimpi yang mengambil peran.

Agama melarangku untuk membicarakan mimpi selain pada orang tua dan orang alim, guru yang membimbing jalan agama kita. Ada banyak alasan, silahkan tanya pada ustadz terdekat dari tempat tinggal anda. Menanyakan hal sepele tapi fundamental seperti itu, bisa anda jadikan ukuran, apakah ilmu si ustadz memang kualitas ‘patut didengar’, atau si ustadz patut diajak ngopi barengan ‘duank’.

Mitos menuliskan banyak cerita tentang mimpi. Sampai perlu perlunya dibuat primbon, bahkan begitu ‘perlu’nya hingga manusia merasa butuh menemui orang yang mengklaim dirinya ahli tafsir mimpi.

Bukan pula meremehkan mimpi. Psikolog dan para ahli kejiwaan tau benar, apa efek dan manfaat dari mampu mengendalikan alam mimpi manusia. Ukuran kesadaran dan kemampuan mengendalikan kesadaran seseorang, dinilai dari kemampuan mengendalikan atau terkendalikan, oleh mimpinya sendiri.

Intinya sama, jika pada kehidupan nyata (dhohir) manusia sudah mampu mendengar pesan dari langit, maka, bahasa mimpi akan mulai mengambil peran.

Aku mimpi, dua hari ini, berturut turut. Scene mimpi yang sama, tokoh mimpi yang sama, dan kalimat yang diucapkannya dalam mimpi pun, sama. Aku ingat tokohnya, karena bagiku, dia ganteng dan memang patut untuk diingat. Dua hari berturut turut maka aku lebih punya waktu utk melihat detail cerita. Karena somehow, begitu aku mampu merasa dengan cepat, bahwa yang diucapkannya sama, pengadeganannya sama, maka, aku mulai melihat detail per detail dari scene di dalam mimpiku itu. Seperti jika aku memotret di kehidupan nyata.

Impiannya apa, tidak penting. Tingkat ke-alim-anku tidak cukup ‘indah’ untuk dianggap sebagai seseorang yang impiannya penting.

Tapi mimpi, baru berperan, dan penting untuk di analisa, jika dan hanya jika, pesan-pesan Tuhan di kehidupan nyata, sudah terbiasa untuk terdengar.
“… wa sama’, wal abshor, wal af’idah” (=dan pendengaran, penglihatan, dan pemahaman).
Jika sudah mahir memakai pendengaran, maka artinya, sudah waktunya belajar untuk ‘memperhatikan’. Kemampuan melihat, akan sangat mengejutkan. Maka manusia perlu dibiasakan untuk membedakan, mana mimpi yang patut didengarkan, dan mana mimpi yang patut segera untuk dilupakan.

Jika bermimpi, tanyalah pada diri Anda terlebih dahulu, sudahkah terbiasa memakai pendengaran untuk mendengar pesan Tuhan di kehidupan nyata?
Jika belum, maka mimpi kita itu, tidak ada artinya.

Mendengar suara Tuhan. Maksud loe?

Saat ini adalah saat adzan subuh, apakah anda terbiasa mendengar suara Tuhan?

enyerawati 23042013

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s