Kematian rasa di dalam dada

oleh Eny Erawati (Catatan) pada 13 November 2009 pukul 4:40

Terima kematian rasa mu saat ini, agar nanti , sang rasa itu bisa memiliki hidup baru kembali

Menerima kematian, ternyata tak semudah menuliskan
Menepiskan harapan, ternyata begitu membutakan penglihatan
Memahami rasa ditinggalkan, ternyata pedihnya begitu memilukan
Aku ingin berteriak pada siapapun yang pernah menyuruhku
Mengistirahatkan hati, sejenak saja, katanya

Ini terlalu menyakitkan!

Bayangkanlah sebuah kematian
Terbujur diam, tak berkehidupan
Dimandikan, disholatkan, dikafankan, diantarkan, dikuburkan
Didoakan, jika dia beruntung dan ada yang mau mendoakan

Begitulah diriku sekarang, at least bagi seseorang
Aku terbujur diam tak berkehidupan
Didiamkan, diacuhkan, ditinggalkan, dikecilkan, dihilangkan
Keberadaanku nisbi, tak berarti, tak layak menjadi teman

Kenyataan yang sungguh menyakitkan

Aku ingat guruku cerita tentang asal muasal keberadaan syetan
Cerita tentang Rabbuna yang katanya menciptakan syetan dan segala keburukannya
Syetan terbuat dari api
Rabbuna menciptakan api, bukan menciptakan syetan
Syetan adalah pilihan ‘profesi’
Sesuatu yang begitu mahir dilakukan oleh se’orang’ raja api
Profesional api sejati

Si raja api, beserta segala kesejatian desain penciptaannya
Sebenarnya adalah lambang kesempurnaan sebuah penciptaan
Rabbuna mampu menciptakan apa saja, runut sistematikanya, terdesain begitu sempurna
Menciptakan yang mampu kita pandang sebagai kebaikan
Pun yang kita tak mampu melihat sisi kebaikan sebuah keberadaan

Api diciptakan, demi menyempurnakan sebuah sistem makan-memakan
Api diciptakan, demi kesempurnaan sebuah peradaban jaman
–dari jaman batu hingga jaman fusi nuklir seperti sekarang
Api tak akan padam dengan panas sejenisnya
Ada air yang telah lebih dulu diciptakan stabilitasnya
Ada atmosfer void yang tidak membutuhkan apa-apa
Ada banyak elemen yang bisa meredam keberadaan api, betapapun panasnya
Elemen yang lebih dulu diciptakan Rabbuna
Api itu menjadi syetan bukan karena tujuan penciptaannya
Api menjadi syetan karena ‘ditinggalkan’ oleh Rabbuna
Dia merasa didiamkan, diacuhkan, ditinggalkan, dikecilkan, dihilangkan
Keberadaannya menjadi nisbi, tak berarti, tak layak menjadi hamba

Bagaimana bisa Rabbuna meninggalkan ciptaanNya?
Sebuah Perasaan, begitulah awal masalah ini tercipta

Ia, si raja api, telah merasa ditinggalkan
Karena melihat seorang manusia diciptakan
Seorang karakter dimunculkan
Pasti bukan saudara
Karena si karakter baru memiliki tulang belakang
Sementara sang Pencipta tak bisa diibaratkan dengan apapun jua
Api tak suka keberadaannya mendapat saingan
Dan ia marah, tak hendak menghormat pada seorang manusia, seperti yang diperintahkan

Rabbuna maha Penyayang
Meski marah dan begitu tak suka
Rabbuna tak menghukum tingkah buruknya
Belum, tepatnya
Rabbbuna tak menghukum perilakunya
Ia hanya mendiamkannya
Dan si api makin kelimpungan
Perbuatannya, pemikirannya, rencananya bahkan doanya, makin menggila
Ia bertingkah ngawur, menembaki siapa saja yang ada didepannya
Si api menciptakan ‘kalimat kalimat’ buruk, lalu mengajarkannya
Si api menciptakan atmosfer buruk, dan selalu mempercepat gerak sebarnya

Bahkan sang raja api yang di’diam’kan Rabbuna pun kelabakan
Sungguh tak dinyana

Perasaan, begitulah awal semua masalah ini tercipta

Jika si raja api, yang merasa didiamkan, diacuhkan, ditinggalkan
Bisa berubah menjadi syetan
Maka aku si manusia, yang merasa didiamkan, diacuhkan, ditinggalkan
Bisa berubah menjadi apa ya?

………….
…………
………
……

Aku ingat sebuah gambar
Telapak tangan yang menggenggam tanah dengan sebatang kecil tumbuhan
Sepertinya ada tulisan, ‘mari menanam sebuah harapan’

Aku menangis melihat diriku sendiri
Aku didiamkan, diacuhkan, ditinggalkan, di’mati’kan
kehidupan yang dinisbikan
Bagaimana aku bisa menanam sebuah harapan?

Nur Aini Erawati 131109

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s