bagaimana mengajarkan mimpi — part 1

“bagaimana aku akan mengajarkan bermimpi, jika aku hampir tak lagi pernah bermimpi”

::

fotografi adalah komunikasi visual kan?!

jika bukan demi rethoric (kemampuan cara bercerita) maka masuk ranah literasi (entah sebagai referensi, sumber, atau malah sebagai evidence).

rethoric, baru bisa beroperasi, jika diawali dari berempati atas apa yg dilihat. ini yg bapak maksud sebagai “dari mata”. berempati pada apa yg kita lihat, bukan sekedar melihat.

bagaimana berempati pada apa yg dilihat?

apa saja yang harus dirasakan kala melihat?

apa yang harus didengar kala melihat?

apa yang harus di proses sebagai rasa, ketika melihat?

apa yang dihukumi pendapat pribadi, ketika melihat?

apa yang dihukumi pendapat umum, ketika melihat?

dan seterusnya

misal:

melihat apa? milkiway.

apa yg harus dirasakan ketika melihat milkiway? kalah terang ama lampu taman di samping kiriku. atau kilatnya mbikin sumpek.

apa yang harus di dengar kala melihat? karena dekat dengan rumah penduduk, yg terdengar adalah suara truk, dan anjing jaga. ndak nyambung ama yg sedang kulihat. tapi, bikin kesulitan konsen menggambar.

apa yg dihukumi pendapat pribadi? secara teknis, udah dapet. diajari ciyus waktu nggambar. tapi hatiku, ndak patio sreg. misalnya.

hampir pasti, jika dibaca nanti, elemen gambar yg ada di frameku, mengandung ke’tidak nyambungan’ dan ‘ketidak nyamanan’.

karena hatiku berkali kali bilang, ada ketidak nyambung an antara mata, telinga, dan hati.

telinga, mata, hati. = sama’, abshor, aff’idah.

tapi, hampir pasti juga, frameku mengandung warna ‘tidak dingin’ dan ‘tidak gelap’, juga ‘tidak sepi’ (=berisik).

karena seperti itulah yang sedang kurasakan. begitulah kata hatiku, kala memotret gambar itu.

ada sempilan hati yang tidak kubahas.

waktu memotret itu, aku sedang pengen protes dengan cara motretnya orang orang serumah.

tapi, aku memaklumi mereka. aku juga pernah di titik itu.

mereka tidak dikasi tau bagaimana cara main dengan kita.

jadi, aku harus maklum.

::

tapi usahaku memaklumi ini, pasti muncul di gambar, entah berupa apa.

karena pikiran ini pun, adalah suara hati.

no matter aku berusaha menutupinya, pasti muncul di gambar.

segitu panjang proses selama aku melihat milkyway,

aku, hanya bicara tentang aku, hatiku, perasaanku, pendengaranku, pendapatku, rekamanku, presentasiku.

mana yang aku bicara tentang menceritakan pada viewerku, pemandangan milkyway dari bromo itu seperti ini lho gambarnya?

saat menggambar, aku tidak berempati pada viewerku. aku tidak menghitung mereka. aku tidak membayangkan, bahwa mereka tidak atau belum pernah melihatnya.

aku tidak membayangkan, bahwa mereka, ternyata sangat hafal dengan arm milkyway dari gambar gambar NASA misalnya. sehingga bisa membedakan, milkyway saat moonrise seperti apa warnanya. saat fullmoon kayak apa gambarnya, dan seterusnya.

saat menggambar, aku tidak berempati pada viewer.
tidak sah aku mengklaim kalo aku care ama viewerku, nanti.

berempati pada viewer saja tidak, gitu mau ngaku ngaku care ama budaya. pada produk dari olah otak dan norma kehidupan viewer kita.
lha wong menghitung mereka ‘ada’ saja tidak kok.

Gambar  photo by Hari Lazuardi

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s