See, manusia pandai sekali menyembunyikan rasa sakit atas luka di hatinya.

Gambar

“Sebagai sesama orang yang berjalan diatas api, kita berdua sama goblok nya ya?”
Lalu kami tertawa berdua.
See,
Manusia pandai sekali menyembunyikan rasa sakit atas luka di hatinya.
Meski begitu, kami berdua tak pandai menyembunyikan air mata.
Matahari bersinar kuning keemasan, hangat melingkupi pandangan.
Aku mengelus dadaku, berusaha meredakan sakit di dalamnya.
Matahari, tidak kah kau tahu aku menyimpan hati yang merepih kesakitan?
Angin bertiup tak terlalu kencang, tapi bunyinya di telingaku, berdesau seperti peluit kereta yang menghela penuh seluruh kecepatan.
Aku ingin bertanya pada angin, tapi mulutku tak sanggup terbuka.
Tidakkah angin perduli pada hatiku, yang diakuinya temannya?
Berdiri di bibir tebing, aku menimbang dalam melangkah kaki ke depan.
Jika ke depan, aku pasti jatuh entah utk berapa dalam.
Jika tidak kedepan, aku pasti jatuh kesakitan, karena luka yang berdarah darah.
Jika matahari dan angin tak menjawabku, lalu, harus kemana ku palingkan wajah dan tanyaku?

enyerawati 14052013

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s