Permata di tanganku ini bukan milikku

Bisa dianggap permata, harta sangat berharga. Bisa juga dianggap senjata, sesuatu yang bisa sangat berguna, tergantung kebijaksanaan pemakainya. Inilah harta yang sedang dititipkan padaku, di telapak tangan.

Sekumpulan teman, yang bisa membuatku merasa sangat bahagia, hanya karena bersama mereka. Sekumpulan teman, yang membuatku merasa hidup dan ilmuku, ada yang membutuhkannya. Sekumpulan teman yang membuatku merasa, fotografi ini, memiliki masa depan.

Dari awal, aku memposisikan diri sebagai kurator. Galak dan letterlech. Kurator memang harus bisa menjadi orang yang dituju, demi referensi, atau dasar dari teori teori, minimal, sebagai teman diskusi. Karena kurator, yang memegang data penelitian tentang viewer, data karakteristik viewer di tempat pameran akan di selenggarakan. Aku, tidak pernah memposisi menjadi direktur, apalagi raja atau ratu, dari sebuah kerajaan.

Aku galak, suka menendang dan istilahku, ‘melempar sepatu’ pada siapa saja yang tidak perduli pada tata pikir keilmuan. Kenapa? ya karena aku satu satunya yang sekolah fotografi. Nanti, jika sarjana fotografi sudah lahir dan menetap di kota kami, bebanku terangkat, mustinya. Anggaplah, itu sebagai doa dan harapan.

Somehow, yang master mayornya fotografi kok tidak membuat bebanku berkurang ya?! aku juga tidak mengerti.

Intinya, dari tadi, hatiku terus berkata.
Permata ini, benar ada di tanganku, tapi bukan milikku. Senjata ini benar ada di tanganku, tapi dia tidak di desain demi diriku. Dia di desain menurut fungsinya sendiri sendiri. Yang aku tidak tahu.

::
Gusti, saya sudah berkali kali matur ke semua orang, silahkan menjadi orang terkenal. Silahkan menjadi jagoan. Silahkan menjadi apapun yang diangan angankan. Termasuk, jika berangan angan menggantikan posisi saya. Menggantikan saya mengemban tugas yang Rabbuna berikan pada saya. Monggo. Saya tidak merasa terancam. Saya tidak kemilikan kedudukan. Toh, jadwal pulang kan bisa datang kapan saja. Dan kekayaan ilmu ini, membuat saya takut utk pulang, demi membayangkan pertanyaan pertanggung jawaban.

Tapi, saya kok susah rela pada anggapan, bahwa saya seperti kemilikan, dan kepengen tenar. Buat apa tenar di kota sekecil ini? Saya bisa lebih menggigit di kota yang jauh lebih besar. Apa si tukang stempel itu tidak memikirkannya ya?
Saya juga susah rela pada anggapan, bahwa saya marah marah jika posisi saya terancam. Marah karena ada saingan. Kalau dia sarjana saja. Sama sama sarjana fotografinya, maka beban ulil albab saya diskon 50% toh. Lalu, kenapa saya musti menganggapnya saingan? Baik buruk kota ini, menjadi tanggung jawab ulul albab yang ada di kota itu. Kalau ada satu saja sarjana fotografi, maka beban saya diskon 50%. Andai ada 10 sarjana fotografi di kota ini, maka beban saya akan diskon besar besaran sampai 90%.
Otak matematika mana yang tidak menyukai diskonan beban sebagai ulil albab?

Saya suka mendongeng. Tapi, jika tidak perlu, jika tidak ada perlunya, jika tidak ada gunanya, dan cuma akan memberatkan pertanggung jawaban saya nanti, saya nyuwun Gusti, agar di hilangkan saja daya cerita saya.
Saya lebih takut siksa Njenengan, daripada sekedar cibiran dari orang orang. Toh yang bisa saya ceritakan adalah ilmu Njenengan Gusti. Jika bukan saya, pasti Njenengan sudah siapkan pengganti saya.
Saya tidak bisa rela dianggap kemlinthi kemilikan kedudukan, pangkat, dan pujian orang.
Sekaligus saya tidak rela jika harus berdiri membela diri saya, atas cibiran.
jika manusia mau mencibir, biarlah, terserah pada pilihan sikap mereka.
saya hanya tidak rela dianggap kemilikan pada kedudukan, pangkat dan pujian.
::

Permata ini di tanganku, dan otakku selalu bilang, ini bukan milikku, maka aku tak boleh mengenakannya di leherku.
Senjata ini di tanganku, dan otakku selalu bilang, desain senjata ini bukan untukku. Jika harus menggunakannya, maka aku harus paham tujuan fungsi desain senjata itu, satu persatu.
Jikapun harus memakai atau memajangnya di rak kamar, semoga tidak pernah ‘terserah padaku’. Semoga selalu ada SK dari Rabbuna demi tata laksana pemakaiannya, meski di tanganku.

Dan saat ini, aku sedang kesulitan menata hatiku.

enyerawati 06062013

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, eny bicara Fenomena, enyerawati, photography phenomena dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s