Perfectionist to Babahtionist

Bagaimana bisa aku begitu galak, berusaha keras, membantu orang lain untuk tampil perlente, tidak kacangan, dan tidak dengan mudah di sepelekan orang, hampir separuh hidupku?
Alasannya mudah. perfectionist.
Aku mau dunia seperti yang kubayangkan, atau seperti yang seharusnya. dimana ukuran seharusnya sudah ada di kitab kitab tua itu.
Tapi lalu aku kelelahan sendiri. Seperti orang gila yang kalap. Aku lelah.
Dan menemukan moment untuk pulang, melipat udelku sendiri.

Sekian tahun bertapa.
Si kriwul datang untuk memberikan racunnya.
Meski waktu itu sudah kujawab, jika aku tidak ada pun, seberapa rusak sih dunia
Dia gigih menarikku kembali ke permukaan untuk berperan

It takes the whole world untuk kembali memegang kamera
It takes the whole langit untuk meneguhkan hati kembali pada asalnya
Dan aku baru bisa bernafas lebih lega ketika pada satu titik aku bisa berkata
Babahin lah.
Apa susahnya bertanya, caranya bagaimana, atau salahku di sebelah mana
Toh, di sekitarku, sama sama manusianya
Babahin lah.

Pada akhirnya, dengan berbekal sikap babahinlah itu, aku bisa mengetahui, mana teman, yang menemani sepanjang perjalanan, dan mana teman yang cuma teriak teriak saja di pinggiran

Jika piketku bukan cuma satu kecamatan saja, maka aku yakin, semua piranti yang dilekatkan padaku, kelasnya juga bukan kelas kampung semata. pasti kelas atasnya. minimal, kelas kelurahan lah.

“Aku mengingatkan mereka agar tidak asal sinis. Be careful when you are being sinical” aku cerita ke mommy. Dan jawaban mommy menghempasku ke dinding.
“Yang mengajari mereka sinis kan kamu juga” aku terdiam, terhempaskan.

Aku yang being sinical itu, sudah sekian tahun berselang, tidak kah mommy mengupdate memorinya? hatiku bertanya.
Tapi kemudian menjawab sendiri dengan jawaban sederhana.
Karena bahagia memang tidak diciptak untuk meninggalkan bekas
Luka lah yang memang di desain untuk meninggalkan bekas, di memori, sampai waktu tak berbilang, agar manusia menjadi bosan dan jenuh pada dunia

Lalu, hatiku berkata, babahinlah.

Toh mereka yang mengukir sejarah hidupnya sendiri.
Kalo mereka berniat belajar sinis, sesinis aku, atau lebih ultimate dariku, ya babahinlah.
Toh, yang akan menuai badai juga dia sendiri, meski entah kapan masa panennya tiba

Aku, tetap di jalur yang seharusnya
Sikap babahinlah itu untuk pendidikan karakterku sendiri
Misi nasionalku tetap
Cita citaku juga tetap

Menjadi matahari bagi orang orang di sekitarku

tidak di lihat orang, ya babahinlah

enyerawati 17072013

 

Eny dan Mommy pada saat Ustadz Haryono ke masjid Jami MLG 2009

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, enyerawati, ilmu melihat, Kegiatan Pembelajaran, Photo Critics, photography phenomena dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s