Do not ever underestimates your viewer

“Cakep? Coba lu puter 180 derajat”
tulisan itu menempel pada sebuah foto dengan seorang model cantik yang sedang pose dan diambil dengan middle shot. Gambarnya seperti apa? tidak penting. Cuma gambar gitu duank.

Bertahun tahun aku meneriakkan kalimat yang sama,
Do not ever under estimates your viewer.

Demi sopan santun, seorang viewer bisa berkata, “bagus”, atau “keren”, atau “cakep” pada sebuah foto. Tapi itu semata mata ‘demi sopan santun’.

Viewer selalu bisa menemukan cara utk mengkonfirmasi hati mereka sendiri, dalam memberikan apresiasi. Dan cara mereka membuktikan demi meneguhkan hati atas apresiasi mereka bisa sangat sadis di telinga yang membuat fotonya. Maka, viewer biasanya, menutup mulutnya utk melanjutkan komentarnya. Dan itulah kenapa aku selalu duduk di tengah ruangan demi mempelototi orang yang tampak siap memberikan apresiasinya tapi menahan dirinya, terbaca dari gestur dan raut mukanya, di ruang pamer. Dari merekalah sesungguhnya sebuah pameran bisa diukur kesuksesannya. Dari orang orang yang menahan apresiasinya. Menahan pujiannya. Atau menahan cibirannya.

Cibiran yang mereka bawa pulang.

Ada juga viewer yang asal mencibir. Supaya si viewer tidak di’rendahkan’ oleh para pemamer yang dalam kasus pengamatanku, adalah pemamer yang masih muda muda. Bahkan pasti ada yang bener bener baru bergabung dengan kami di komunita. Bisa dikatakan, frame pertama mereka dari hunting bersama.
Mencibir karena gengsi saja.

Mereka juga tidak lepas dari pengamatanku, karena dari cibiran itu, aku mengukur, batas terendah skill yang harus di capai oleh anggota baru. Yang mencibir, belum tentu bisa menandingi skill si anggota baru itu, dalam 3 bulan ke depan. Biasanya, melihat dari pameran sebelumnya sih begitu.

Pameran terakhir kami, full  moon berwarna merah darah. Tentu saja warna yang salah. Dan asosiatifnya sungguh merusak. Gambar buatan si Ragil waktu itu. Tapi gambar itu, ada di paragraf terakhir dari dinding pamer. Gambar si Ragil, di paragraf terakhir dari ruang pamer.

Hanya yang biasa berpameran dengan kurator yang paham bahasa itu. Hanya yang biasa berpameran dengan kurator yang mengerti maksud kalimatku itu. Aku tidak ingin menjelaskannya padamu disini, atau dimanapun.

Benar, ukuran pameran adalah pesan yg dibawa pulang oleh viewer. Apakah pengunjung ingat gambar di pameran itu, atau lupa. Aturan 5 second rule pun berlaku.
Pameran terakhir kami itu, aman. Sangat aman. Tidak ada yg mencibir. Yang ada justru amat sangat banyak yang ingin ditemani membaca foto itu satu persatu.

Bagi viewer yang adalah fotografer, parameter pengamatanku tentang pameran tentu tidak sama. Dan hanya fotografer yang terbiasa mengamati kerja kuratornya yang paham maksudku itu.

Viewer yang sekaligus fotografer, punya pertanyaan yang jauh lebih sadis dari sekedar kalimat di awal tulisan ini. “Coba putar (gambar itu) 180 derajat. (masih cakep gak?)”

Do not ever underestimate your viewer.

enyerawati 24.07.2013

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, enyerawati, Kegiatan Pembelajaran, Photo Critics dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s