Cara Warkop Malang Mengajar dan Mengontrol Pengajaran

Dengan nada bercanda, adalah Fadli Rozi yang membuat kurikulum pengajaran dan menyusun tata organisasi komunita.
Dia melakukannya out of the blue, yang artinya, dia telah memiliki susunan itu di dalam hatinya jauh sebelum dia menuliskannya.

Di kurikulum tersebut, tertulis, Fadli Rozi sebagai guru tata kriwul (semacam itulah)

Sebutan guru bagi nama nama di situ, adalah karena memang ada pendidikan penyadaran untuk berbagi pengetahuan. Dan itu adalah tentang pendidikan fotografi, bukan sekedar mengajarkan fotografi. Kesadaran komunita utk menyelenggarakan pendidikan fotografi, bukan sekedar pengajaran fotografi. Apakah anda sadar perbedaan diantara keduanya?

Begitupun, ‘sekedar’ mengajar dan mengontrol pengajaran pun bukan hal ringan. Hal sesederhana pemahaman tentang exposure triangle, hukum dasar yang paling esensiil dari fotografi, diajarkan dan dikontrol terus menerus. Kenapa? ya karena dia adalah hukum dasar. Artinya, jika tidak paham hukum dasar itu, maka teknik apapun di bidang fotografi akan dia ‘kuasai’ sebagai either ‘kira kira’ atau ‘a mere of luck’. Menghasilkan karya karena kebetulan pas saja. Lalu jika ada masalah, berlindung di pemikiran, kan bisa di olah di processing tool, atau malah di post pro nya juga.

Tata kriwul, yang paling membahana, adalah metering nol. Istilah yang dibuat Fadli untuk menggambarkan ukuran bahwa what you see is what you get. Dimana ukurannya benar dan tidaknya adalah mata fotografernya. Jika tidak sama dengan mata melihatnya, maka, artinya, salah itungan, atau, karena pasrah pada hitungan kamera (alias tidak ada hitungan). Pemahaman penguasaan atas Exposure triangle itu dinamai ‘metering nol’.

Pengetahuan processing dan post processing itu perlu, tapi bukan dilakukan demi bisa mengebiri dan mempoles foto menjadi tidak sama dengan saat pemotretannya. Dari jaman seluloid, fotografer juga tidak mungkin memberikan negatifnya untuk di pamerkan di ruang pamer kan?! Fotografer yang pameran, memberikan Print nya. dan itu Post Processing namanya. (processing itu dari negatif masih belum didevelop, menjadi negatif yang sudah bisa di lihat di terang matahari, misalnya).

Ranah cognitif yang dilakukan dan di sebut tata kriwul itu, salah satu contohnya adalah apa yang terjadi di grup FB ini

metode pengajaran dan mengontrol pengajaran warkop malang

Mengajar dan mengontrol pengajaran. Fadli mengajar, dan mengontrol pengajaran pramono. Bahasanya masih guyon, tapi konten pengajarannya super serius.

Saya pernah menulis tentang berandai andai, jika saja standar terendah pengajar fotografi adalah pemahaman akan hukum dasar exposure triangle. Maka boleh jadi, ujung akhirnya adalah, tidak ada fotografer bule yang perlu di bayar oleh pemerintah dan production house Indonesia. Daya kita melebihi mereka. Andai saja kita mau memperjuangkannya. Komunitas kecil bernama Warkop (wadah apresiasi dan komunikasi fotografi) ini, sedikit demi sedikit, telah membuktikannya.

enyerawati 28.07.2013

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, Kegiatan Pembelajaran, Photo Critics, photography phenomena dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s