Untuk yang protes soal lomba lombaan

Teralamilah cerita olehku, dulu, di jaman lalu.
Syahdan, penanya adalah seorang arek tanamera sejati yang disebut sebagai master di kerajaan Dhoha.
Dia menunjukkan foto yang sorry to say, bukan cuma jokel, tapi bener bener ndak mutu, dan ndak ada pesan apa pun di situ. (Dan aku jarang banget mengomentari foto sebagai foto jokel, tapi itu memang kebacut).
Dia bertanya padaku dengan bahasa sopan. Bagaimana bisa, foto itu, menjadi pemenang lomba foto level internasional?
Hasyem. Hatiku mengerutu tak ada habisnya. Aku berusaha berpikir keras secepat cepatnya, untuk mengatakan sesuatu yang bisa diterima akal, kira kira pemikiran apa yang melatar belakangi juri menentukan foto (jokel, berteknik biasa dan tidak ada pesan apa apanya itu) sebagai pemenang. Agak lama aku berusaha memikirkannya. Dan akhirnya menyerah.
Seingatku, aku mencoba mengatakan banyak kalimat positif padanya. Tapi cuma menyulut kemarahannya menjadi makin menjadi jadi. Dan percayalah, itu foto yg benar benar tidak bermutu.

Lalu, karena putus asa, aku berkata padanya, “Jika kau telah melihat bahwa panitia lomba dan atau jurinya tidak bisa obyektif dalam menilai, ya jangan ikutan lomba.”

Kalimat itu adalah satu satunya kalimat yang bisa diterimanya, sekaligus bisa kuterima untuk keluar dari mulutku, sebagai pemikiran yang paling masuk akal.
Track record juri, dan panitia, kemudian menjadi pertimbangan utama, sebelum melihat pada hadiahnya.

Percayalah, aku mampu membuatkan formulir untuk penilaian lomba, jika di dasarkan pada metodologi penilaian. Itu, karena aku sekolah. Fotografi dan visual komunikasi. Tapi sungguh, aku tidak berminat menjadi juri. Aku menulis ini karena aku yakin, pasti ada yg akan bertanya padaku soal lomba lombaan lagi.

Aku menjadi kurator saja lah ya. Yang menerangkan pada viewers agar membuat mereka mengerti, jika mereka belum mengerti atau belum bisa menikmati. Atau menarik fotografer bangun, jika fotografernya terlena dengan anggapan bahwa viewers nya tidak cukup pintar untuk mengerti. Memberi cap sepatu kalo perlu, manakala fotografernya songong memaksakan pendapatnya pada viewers.

Yang mau protes soal lomba, baik yang dulu dulu, seperti ceritaku itu, ataupun yang sekarang, kusarankan jangan. Ndak guna.
Kalo ndak setuju, ya jangan ikut lomba yg mereka selenggarakan. Gitu aja loh.
Mari kita mendahulukan ukhuwah antar umat berkamera.

Pada panitia lomba, makin besar hadiah Anda, makin besar kemungkinan Anda teledor dan digugat orang karena keteledoran Anda. Jadi, bertanggung jawablah. Jelaskan point per point dari keputusan Anda. Jangan asal tulis, keputusan juri tidak bisa di ganggu gugat.

sekian,
terima pancake.
eny erawati

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, eny bicara Fenomena, enyerawati, ilmu melihat, Kegiatan Pembelajaran, Photo Critics, photography phenomena dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s