Bangsa yang mau saja diajari bodoh sepanjang hayatnya

Bangsa ini, telah terlalu lama diajari untuk meributkan hal kecil, dan abai pada esensi, soal apapun.
Seperti hidup di samudera dalam, tapi hanya di ajari untuk mampu melihat plankton yg melayang di bawah permukaan lautan, seperti makhluk yg hidup di air dangkal.
Abai pada kekayaan laut dalam, abai pada membaca dan memanfaatkan tekanan, pusaran, dan perubahan air samudera, gerakan air laut dari pasifik utara, atau dari pasifik selatan. Abai pada potensi dan masa, abai pada esensi dan hakikat hidup di keliling samudera.
Diajari menjadi bodoh, sepanjang hayat, kalau bisa.

Ada yang saling bunuh dan saling cakar, menghunus pedang, hanya karena planktonnya keduluan dimakan sesama ikan lainnya. Ada yang menghujam perang, mengatakan dengan teriakan, kenapa kalian para ikan, tidak berpakaian renang. Lha wong ikan, kok disuruh pake pakaian renang.
Seolah lupa bahwa dia sendiripun hidup di samudera, menjadi makhluk perairan.
Lha wong nyai roro kidul, kok disuruh pake jilbab.

Yang sebagian diajari munafik menolak jati dirinya, sebagian yang lain diajari munafik untuk diam saja melihatnya.
Sesama ikan, sesama makluk perairan, dilarang saling rebutan makanan di permukaan lautan.
Ide yang luar biasa.
Dan bangsa besar ini, tak kunjung menyadari nya.
Apa yang salah, sebenarnya? Siapa yang salah, aslinya?

“Bahkan untuk kuat menolak kemungkaranpun kita tidak bisa” kyai Jamal kemarin ndawuh di ngajinya.

Adalah mungkar untuk menyakiti saudara, apalagi sesama sebangsa, adalah mungkar untuk melaknati orang yang seiman se Tuhan dengannya, adalah mungkar yang diam saja pada korupsi dan ke dholiman pada aapa saja di depan matanya.
Dholim itu, tidak meletakkan masalah pada tempatnya, tidak melihat masalah pada esensinya, tidak menimbang masalah sesuai porsinya.
Pada kemungkaran saja, kita tidak kuat untuk menolaknya.
Adalah termasuk munafik, orang yang diam saja melihat kemungkaran di sekitarnya.

Dan karena bodoh, maka pemelintiran makna mungkar itupun, bisa di beli oleh orang bodoh lainnya. Dan sekumpulan orang bodoh ini, karena makin banyak, kemudian merasa lebih benar dari yang benar benar bisa membaca maknanya.

Seperti berada di masjid, dan masing masing orang merasa berkualitas utk menjadi imam. Saling mempersilahkan. Lalu, karena sibuk gegeran saling mempersilahkan, kemudian ada orang gila yang maju menjadi imam, dan masing masing orang yg berkualitas imam itu mendiamkan.
Makmum yang melihat ini lho, geregetan, sodara.

Do something.
Kalau tidak demi sesuatu sebesar negara ini, (karena kapasitas kita yang mungkin kekecilan), ya paling tidak, tepuklah pundak para ‘kualitas imam’ itu agar berhenti saling mempersilahkan. Keburu mimbar di colong orang gila yang mengincar dengan mata jalang.
Sholat jamaah dan menjadi makmum itu kan bukan cuma dalam rangka Ied atau jumatan duank kan?! Di langgar dekat rumah, kita juga jamaah kan?!

Look around, do something.
Mari kita benahi negara ini. Dari yang paling dekat dengan kita. Kampung kita sendiri.

enyerawati 04.08.2013

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, eny bicara Fenomena, enyerawati, ilmu melihat, Photo Critics, photography phenomena dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s