Anak tanggaku menuju keimanan

Aku butuh lulus al Hikam, untuk paham
Guru yang tepat dalam menerangkan, untuk membangunkan kesadaran
Dan itupun, aku tidak diantar langsung pada al Hikam di hadapan

Aku terlebih dulu diantar berusaha keras, mencari seseorang yang menilai agama dengan akal
Memahami kisi kisi agama, menyuapi bilah otakku yang seperti kehausan, dan telah lama menahan nafas
Jakarta sempat menggeser nilai nilai hidupku, dan membuatnya hampir terlepas
Dan tidak bisa kembali aku ke rumah besar, kecuali di cuci dulu, mulai dari atas

Setelah isi kepala terisi, dan hati nurani masih belum puas
Aku mulai berpikir, apa yang lewat dan tak sadar ku abaikan, hingga menjadi seolah bebas

Rasa dan nilai atas rasa

Saat itu, aku baru ke masjid, untuk menekuk udel, mengecilkan ego, meruntuhkan rasa ke-‘aku’-an yang membuncah lepas
MEnikmati suara pilot, menghafalkan suara yang nadanya aku suka
Menikmati kebersamaan dengan jamaah sepuh yang menyadarkanku untuk memahami mereka
Menikmati usaha dan teguran, memahami fakta bahwa niat baik pun, masih akan diuji dengan teguran, jika dalam berusaha, tidak memakai ilmu dalam melaksanakannya
Berusaha dan ditegur, menikmati usaha, lalu menikmati teguran atas usaha
Jika lulus, maka hadiah, akan diterima kontan, jika Anda percaya

setelah udelku lunak, bisa ditekuk, dan bisa ditutup tanpa merasa sumuk minta pengakuan,
maka saat itu, baru aku diantarkan menuju al Hikam
lengkap dengan penerjemah, selama aku membutuhkan
lengkap dengan teman seperjalanan, selama aku membutuhkan
dan lengkap dengan media ekspresi untuk menceritakan, selama aku dibutuhkan

memahami itu, aku tidak lagi pernah meragukan pengaturan Rabbuna atas rejeki untukku
untuk dan dalam bentuk apa saja

aku sering pasang tampang mengeluh, demi mengukur respon atau reaksi teman temanku
mengamati, apakah mereka laki laki sejati dan melindungi perempuan di sekelilingnya
apakah mereka memiliki kualitas teman yang patut untuk dipertahankan
cukup ganteng untuk kusebut sebagai teman

aku sering tersenyum , kadang kadang geregetan, tapi lebih sering bahagia, melihat respon mereka
Aku bukan malaikat penguji, tapi masih memiliki kewajiban untuk berhati hati
Dalam memilah mana teman, mana yang ‘cuma’ kenalan
Minhajul Abidin dan Bustanul Arifin punya beberapa butir yg membahas tentang keduanya

Jadi, melalui berapa anak tanggakah aku, sampai detik ini?
dan masih terkategori golongan lingkar luar, jamaah kelas pintu, bukan shaff depan
faktanya, aku tidak kebagian shaff tiga atau delapan, seperti tahun tahun sebelumnya
aku jamaah pintu, sampai ramadhan babak penutupan
degradasi besar besaran

Maka aku tidak percaya, jika seseorang bergamis dan bersurban, pasti ahli surga
Karena ujian itu tiap detik, dan selalu berupa apa saja,
menguji lapis demi lapis ke-shaleh-an, menipiskan iman, atau menebalkannya
Sekedar surban duank, tidak akan mampu menyembunyikan kualitas iman seseorang

aku mendengarkan suaranya, dan merasakan magnetnya,
setiap hati, orang per orang,
setelah aku mengetahui, sampai mana magnetku sendiri saat aku hendak melakukan penilaian
fokus mataku memang terbatas, tapi telinga dan radar rasa, melampaui kemampuan mata
meski sedetik kemudian, boleh jadi, aku langsung lupa

tidak akan dendam, orang yang mudah lupa
demikian aku menghibur diriku sendiri, yang amat sangat pelupa

yang pasti, aku harus melalui sekian anak tangga, hanya utk paham
belum sampai di titik iman yang ihsan

perjuangan perlu dilanjutkan
perjalanan perlu diselesaikan
dan kita tahu, dimana garis penghabisan perjalanan kehidupan bukan?!
pulang, ke rumah besar

selamat berperjalanan
be safe, enjoy the ride
🙂

enyerawati, 1 Syawal 1434H, 08.08.2013

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, eny bicara Fenomena dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s