Suara Dari Kota Malang Untuk Kemenparekraf

*mendengar cerita antar teman di sebuah kota nun jauh dari kotaku*
A: Acara itu pembicaranya bagus. Aku usahakan datang deh.
B: Ya monggo. Sekalian setor foto untuk pameran, mumpung ada mbak Eny.
A: Kalo setor foto aku masih ndak berani je mas.
B: Lho, kenapa?
A: Aku takut fotoku di oret oret.

::
Padahal, sedunia juga tahu, yang kulakukan adalah mencoreti screen capture-an fotonya. Dia tetap memiliki foto aslinya, pun olahannya, termasuk foto aplotannya, tetap pada tempatnya. Sedunia juga tahu, bahwa cuma dengan cara se visual itu, fotografer akan bisa membaca pesan yang kukomunikasikan padanya.
Entah kenapa, fotografer itu memang tidak terlalu suka membaca tulisan, betapapun sedikitnya. Maka, cara visual lah satu satunya metode komunikasi kami.
Cara visual yg seperti apa? ya mencoreti fotonya kuwi.
Pesannya langsung terbaca olehnya, dan siapapun yang sedang menyaksikan adegan komunikasi kami.
Yang agak membuatku njelu, aku tidak menjadi kurator dari pameran itu. Tapi karena aku yg datang menjadi pembicara, maka image nya adalah, aku kuratornya.
Ketakutan tak beralasan itu, menjadi berlipat lipat, melampaui ambang teratasnya.
Sisi positifnya satu,
Yang merasa cara pamerannya kurang tepat (tidak memenuhi metodologi kurasi pameran), kemudian menjadi minder, dan katakanlah ‘takut’ untuk berpameran di depan mataku.
Dan itu artinya, masih ada harapan untuk membenahi mental bangsa ini. Masih ada yang ditakuti. Itu titik penting dalam membenahi sesuatu.

Ada bapak, yang dengan lembut selalu mengajak siapa saja untuk memotret tanpa jeda. Menemani setiap orang untuk melatih hati dan rasanya.
Ada kang Ray yang terus keliling nusantara, hanya untuk mencontohkan satu hal sederhana, fotografer itu harus punya dan tahu bagaimana memiliki sikap, atas perubahan jaman.
Dan,
Ada saya, yang tidak pernah bisa kemana mana, membagikan cap sepatu pada siapa saja dalam batas daya lempar saya, yang sembarangan dan nyelowor dan tidak bertanggung jawab dalam tingkahnya dengan kameranya.
Meaningless ya?
Ya biarlah … piketnya cuma segitu kok.
Jatim aja baru 3 kota.
Nanti ketika jadwal piketnya lebih di perbesar, pasti kan perlengkapan untuk memperbesar dayaku juga di perbesar.
Bukan lagi perjalanan pembelajaran yg dibayari kriwul, tapi dibayari pemerintah, misalnya.
ah, ngayal …

Bu Mentri Parekraf pernah menjanjikan portal kurasi untuk Indonesia.
Portalnya sudah ada, saya nya yg belum di kasi space untuk itu.
Bu, saya meminta space untuk itu bu.
Saya meminta space portal kurator untuk Indonesia
Dan Lepi spek luamayanan, untuk bisa menerima setoran foto dari siapa saja, fotografer se indonesia, dan memposting bahasannya untuk menaikkan kapasitas fotografer kita.
Lepi yg bisa dipake untuk membuat materi mengajar fotografi. Artinya bisa untuk editting foto, dan video. Lepi dan biaya speedy, serta admin akses ke portal kurasi itu.
Dan capacity building itu bisa dilakukan dengan lebih massive ke seluruh penjuru nusantara.
Permintaan yang terlalu muluk kah?

enyerawati 19.10.2013

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di enyerawati, Kegiatan Pembelajaran, Photo Critics, photography phenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s