Teori komunikasi 3 detik

karena buta warna dan pura pura buta warna itu, efeknya sama.

bahasa pojok kampungnya gini nih,
1. Orang yang cenderung jumping conclusion itu, karena dia buta warna. Dimana bisa jadi, dia menolak untuk ‘terus memandang melampaui masa lelah retina nya’ [yang di teori komunikasi adalah 3 detik].
Atau, ini yang sepertinya lebih banyak terjadi, dia terus memandang tapi hanya mengaktifkan salah satu sensor dari signal codernya.
(orang jawa suka menamainya, ndubleg-i)
2. Orang yang jumping conclusion untuk sengaja menolak mengerti, bisa jadi karena dia secara psikologis ia ‘sengaja mematikan’ sensor codingnya. Dan ini, hampir pasti berhubungan dengan ‘luka’ pada memori.

Coba lihat teori ini.
“Modern theories of colour vision include both these two schools of thought and recognise that colour vision is a two stage process. The first stage occurs at the receptor level and follows the Young-Helmholtz theory. The second stage occurs in the optic nerve and beyond, and follows the ideas suggested by Hering.”

Dimana, “Hering suggested that the light sensors in the retina merely absorb the light and that colour discrimination begins further back in the optic nervous system. Here the signal is coded into three parts – one coder differentiating black or white and hence sending a combined ‘grey’ signal to the brain, one coder relaying either a red or green signal and the third coder combining a blue-yellow signal.”

Maka, bahasa gampangnya,
Jika orang berhenti memandang ‘sebelum retina nya me-lelah’, maka dia bisa melihat warna sebagai warna itu sendiri. Namun jika seseorang terus memandang melampaui masa lelah retina nya, maka, dia mulai membangun ‘warna baru’ mengikuti teori Hering. Dimana coder warna terbagi menjadi 3 bagian. Black & White coder, Red signal coder. Dan Blue-Yellow signal coder.

So, it is understandable bahwa pesan yang diletakkan pada warna putih (sebagai generator ataupun sebagai stresser), akan terbaca lebih dulu, baik ‘sebelum retina lelah’ maupun ‘setelah retina lelah’.
Ketika di gabung dengan teori keberhasilan komunikasi visual ‘3 second message transmitance’ maka, …
begitulah … *berpikir time*

enyerawati 23.12.2013

Hering_Red signal coder Hering_blue yellow signal coder Hering_BW coder

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena, enyerawati, ilmu melihat, Kegiatan Pembelajaran, Photo Critics, photography phenomena dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s