Adabul Ilmi dan Menutup Udel

Penghuni langit ada ribuan, butuh kegelapan, atau kemampuan keluar dari bumi, untuk kita bisa melihat seperti apa dan bagaimana salah satu penghuni langit yang paling dekat dengan kita.
Bisa keluar dari atmosferpun, daya pandang kita pun, masih ada batasnya.

Jika, tidak ‘menggelapkan’ atmosfer kita, maka penghuni langit tidak akan kelihatan.
menggelapkan atmosfer, bisa menunggu matahari terbenam, tapi yang pasti harus dilakukan adalah mematikan semua sumber cahaya buatan manusia, di sekitar kita.

makin gelap atmosfer kita, makin ‘bisa’ lah kita melihat penghuni langit.

sekarang convert keadaan itu dengan kalimat ini.

ilmu adalah milik al Ilmu (coba baca asmaul husna)
ilmu adalah cahaya dari sang Pencipta (menerangi qolbu manusia dari tidak tahu menjadi tahu)
Apapun yang dari Allah, pasti ‘diturunkan dari langit’ (salah kita berdiri di bidang yang bulat bundar, andai kita percaya plato, maka, bisa jadi, ada rejeki dari Allah yang dinaikkan dari langit bagian bawah. Kan Plato percayanya bumi itu dataran seperti kertas.

Untuk melihat cahaya ilmu, maka kita harus menggelapkan atmosfer keilmuan kita terlebih dulu.
Tidak akan bisa melihat cahaya ilmu, orang yang merasa sudah bersinar dan menyinarkan ilmu.
(tidak percaya, coba berdiri dibawah tiang lampu seribu watt yg mengarah ke badan Anda untuk membuat Anda tampak bersinar, si lampu terletak satu meter diatas kepala Anda.
Lalu, mendongaklah dan mulailah mencari bintang, yang terletak di belakang bola lampu Anda. apakah bisa?)

Jika sudah merasa bisa bersinar, maka, anda tidak akan bisa melihat sinar lain diatas Anda. Apalagi, sinar dari para penghuni langit.

Oke, anda bilang matahari adalah sumber sinar Anda. Katakanlah, Anda sedang menghadap pada matahari, bisakah Anda melihat gemintang yang ada di belakangnya?
Apakah Anda percaya bahwa pada langit yang membiru, atau, pada langit yang putih memplak itu tidak ada sumber sinar lain yang lebih terang dari matahari?

Sebelum Anda lupa, para gemintang itu, sebenarnya adalah ‘semacam’ matahari seperti matahari kita. Satu bintang yg kita lihat, adalah galaksi juga ‘semacam galaksi kita ini’. Hanya saja, letaknya teramat sangat terlalu jauh dari kita, untuk bisa kita amati secara kasat mata. Yang bisa kita amati, paling jauh, cuma lewat kamera dari satelit yang kita buang ke planet sebelah. Bahkan untuk mendekati matahari kita sendiripun, kita belum bisa.
Semua pengetahuan kita tentang tata antariksa, hanyalah dari daya lihat kita dibantu alat buatan manusia juga.

Aturannya sama, jika kita ingin melihat penghuni langit, baik pada para ilmuwan antariksa, maupun pada kita yg orang biasa. Bahwa untuk bisa melihat penghuni langit, maka, yang bisa kita lakukan hanya 2 (dua):
1. Menunggu matahari terbenam (menunggu giliran rejeki atmosfer kita “digelapkan”)
2. Menggelapkan atmosfer di sekitar kita. (aktif mematikan cahaya buatan, atau memisahkan diri dari segala jenis sumber cahaya buatan).

menunggu matahari terbenam dan menggelapkan atmosfer kita, dalam soal ilmu, dinamakan adabul ilmi. Silahkan cari kitabnya. judulnya itu kok, Adabul Ilmi.

Aturan paling pertama dari adabul ilmi adalah menata hati, menata niat, menutup sangka bahwa kita sudah memiliki pengetahuan, membuang pemikiran bahwa pengetahuan kita lebih terang = mematikan semua cahaya buatan di sekitar kita.
Istilah ndeso yang kubuat, biar gampang, adalah ‘menutup udel’.
Udel (=pusar) adalah bagian dari tubuh yang adalah bagian dari aurat. Jadi, adalah wajib untuk menutup udel, terutama saat ‘ingin melihat ilmu dari arah langit’.

Lalu, ada seorang anak desa, berdiri ditengah lapangan Gajahyana di suatu sore, pada langit yang baru mulai berwarna jingga, dengan tangan terlipat pada perutnya, ia mendongak ke arah langit sambil lantang berkata, “Aku sudah menutup udelku, kenapa aku tak juga bisa melihat bintang. Tidak satu bintangpun!”

Haruskah aku merasa bersalah karena menyuruhnya menutup udel untuk bisa melihat ilmu dari arah langit?

Dan pahamlah aku, kenapa kyai sering tampak geregetan melihatku dan lompatan pertanyaan di dalam otakku. Meski aku tidak mengatakan apa apa di hadapan beliau.
Kadang, otakku, sama ndesonya dengan si anak ndeso itu.

outstanding, heh

enyerawati 17.01.2014

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, enyerawati, ilmu melihat dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s