Catatan Pameran H1: Kuratorialship terhadap viewer

Catatan pameran hari 1
Kuratorialship terhadap viewer
::
Harusnya, kurator itu di dalam ruang pamer. Menemani viewernya.
Tapi karena juru kuncinya tidak ada, si novan kerja, jadilah, kurator duduk di titik kunci pameran, di meja depan yang adalah akses masuk dan keluar semua orang.

wartawan datang paling pagi. itu yang kuingat betul dari data laporan pameran tahun tahun lalu.
maka, koordinasi malam di H-1, ditentukanlah siapa yang harus piket pagi, untuk menemani wartawan.
Sebagai kurator, tahun ini, saya tidak ingin tampil di media pemberitaan. Maka dari malam H-1, saya mengkoordinasi teman teman utk menentukan siapa yg menghadapi wartawan. “Pameran tahunan kali ini, saya tidak ingin tampil di pemberitaan”. Dari malam H-1, semua teman paham, bahwa saya akan datang paling pagi, tapi, saya tidak mau ketemu wartawan. Maka jatuhlah ‘piket wartawan’ pada yangn kuliah komunikasi (FISIP). Pengalaman, wartawan itu sangat tidak suka membaca. Aneh, tapi itu faktanya. PAdahal data selalu ada di tulisan. Maka, malam itu, aku menekankan bahwa si wartawan harus ditemani dan diceritani detail. Penyelenggara pamerannya apa dan siapa, pameran ini pameran keberapa, tentang apa. Terutama bahwa wartawan, harus membaca kuratorial. Harus. Kalau kuratorial sudah dia baca, baru temani dia membaca bab per bab. Temani dia mengeja kalau perlu. Tapi, cara menemaninya yang halus. Yang sopan.
“Jangan lupa menekankan bahwa inti komunitas ini adalah reboan, bukan cuma komunitas jejaring sosial.” aku spesifik perlu mengatakan ini. Branding pameran dan branding komunitas itu berbeda. Anak muda, biasanya melupakan yg inti, karena kagum pada yg paling dekat dengan matanya.

Ngotot akan membuat nista, tapi mempopulerkan diri saya sama sekali bukan tujuan seorang kurator mendukung sebuah pameran, dan saya tidak ingin ada satu makhluk pun yang berpikir ke arah itu. Artinya, kalau ada yg berpikir begitu, saya tetep tidak akan ngotot memprotesnya.

Saya parkir di pintu dari awal sampai tutup pameran, untuk mencegat orang yang keluar demi pertanyaan standar. Itu adalah sebagian proses kuratorialship yang biasanya dilakukan novan ketika saya harus menemani viewer. Saya tidak bisa merekam sebagus novan. Tapi saya memiliki pertanyaan standar kuratorialship, sebagai parameter.

Saya katakan pada semua teman, Novan biasanya, bisa melaporkan pada saya, pengunjung si A begini begitu dan bertanya begini begitu, ditemani si anu, dan menulis di kuesioner begini begitu, padahal dia berkata begini begitu (respon tapi tidak mau menuliskannya), sambil menunjukkan lembar kuesionernya. Bayangkan, sekian hari pamer, novan ingat dan bisa melaporkan pada saya, setiap viewer yang agak lebih dari biasa, lengkap sampai ke lembar kuesionernya. Dia melakukannya pada hampir semua viewer yang memang bergelagat tidak biasa.
Setiap kali tutup pameran, biasanya saya dapat laporan counting, berapa jumlah pengunjung, bagaimana trend jamnya, berapa kuesioner terisi, berapa yang tidak mau mengisi kuesioner tapi bergelagat tidak biasa (repetitive viewer, day one, day two, day three, misalnya. tapi tentu saja, dia hanya mau menulis satu kuesioner). dan laporan berapa media yang datang, serta apa yang mereka lakukan yang tidak saya tahu. Semua dilaporkan dari kursinya di meja depan. Kurator bekerja bukan berdasar kira kira atau selera. Kurator bekerja berdasarkan data. Dan yang diamati novan itulah data terbesar bagi seorang kurator.
Strategi pameran, harus didesain berdasarkan data itu.
Tinggal berdoa, semoga kebagian desainer yang bisa diajak komunikasi tentang strategi desain.
Strategi pameran, dan strategi desain, bedanya bumi langit lho ya.
Branding adalah hal yang beda lagi [branding pameran, dan branding komunitas juga beda lagi].
Dilarang gebyah uyah pokonya. Ketika ada masalah, ujungnya jadi salah sangka.

Kali ini, novan tidak bisa menunggui ruang pamer. Maka sayalah menjaga posisi kunci itu, Lelah, dan tidak ketemu nasi 2 hari penuh. Kok bisa?
kuratorialship instal 149 gambar di H-1 dari jam 13.00 – 24.00

Kami janjian ada di perpus lagi jam 08.00 wib. Yang piket wartawan baru datang jam 08.30an. Langsung membuka pintu dan memasang LCD dan menyalakan sound system. Kami sudah mengepel ruangan dari semalam dan menutup ruangan dalam keadaan wangi. Itu enak.

Pengunjung umum pertama, datang jam 08.50 wib. Saya tidak malu mempersilahkannya masuk, “belum dibuka sih mas, tapi monggo kalau mau lihat lihat”.
Dua wartawan kamera datang jam 9an. Radar dan Antara. Berdasar data pameran sebelumnya, mereka memang selalu yang paling pagi. Mereka keluar ruangan jam 9.20 wib setelah mengambil gambar. Black kembali dipasang sebagai model. Piket yg ditentukan dari semalam. Semua lampu ruangan harus menyala. Ayiep harus mengusahakan remote AC dan semprotan pengharum ruangan. Tidak terekam kamera sih, tapi mempengaruhi ekspresi bukan?!
Dua wartawan tulisnya datang jam 9.15, dan satu media online datang semenit kemudian. Belum keluar sampai jam 10.15 wib saat kami membuka acara meski tanpa prosesi gunting pita. Dua kali ke meja depan sambil berkata mau wawancara. Kembali dirayu untuk ke floor, bertemu anak anak yang piket wartawan.
Tiga press kit datang jam 09.18 langsung habis. Dan langsung diputuskan utk memproduksi press kit lagi utk hari ini. Penanggung jawab cetak mencetak itu, kembali dikirim ke tempat produksi.
Ayiep Hangga di pasang di dalam untuk menemani wartawan, sementara press kit di produksi.
Pengunjung umum berdatangan dan akhirnya ruang pamer yg belum dibuka itu pun penuh.
Acara di buka dengan semua wartawan dan pengunjung berada di dalam ruang pamer, sibuk bertanya pada yang menemaninya.
Bejo dipasang di mic untuk membuka pameran, ditemani slideshow karya.
Kuesioner pertama kembali ke meja depan jam 10.20, dan isinya membuatku terkejut. Membuatku seketika menarik 3 teman muda, spesifik menyuruhnya mengamati apa yg ayiep katakan pada viewer sehingga viewer mau mengisi kuesioner dengan jawaban seperti itu.
Pada yang lain, saya langsung menjelaskan apa parameter dari kuesioner. Sehingga mereka tahu, apa yg kita cari dan tunggu dari viewer, yang semoga tercermin di kuesioner tersebut.

Total pengunjung di hari pertama kami, seratus sekian orang (absen yang kami siapkan cuma 100 nama), lebihnya ada di kertas ‘inovasi’nya novan. Kuesioner yang kembali 96 lembar. Pemamer dan ‘panitia’ tidak mengisi buku tamu pun kuesioner.

Bagi Anda yang merasa sudah berpameran dengan mengupload karya Anda di jejaring sosial, ketahuilah, sesungguhnya, Anda sedang melewatkan sesuatu yang sangat besar dan hakiki dari proses Anda mengkomunikasikan karya Anda pada viewer.
Ruang pamer fisik itu, selalu awesome.
Lebih dari sekedar ganteng.

1622195_10151869142826302_278909842_n

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di cerita eny, eny bicara Fenomena, enyerawati, foto by eny, ilmu melihat, Kegiatan Pembelajaran, Photo Critics, photography phenomena dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s