Catatan Pameran: Keterbacaan dan Legibility

Hubungan antara kurator dan tukang desain memang super dekat. Background keilmuan keduanya, harusnya sama. Pertimbangan dan yang ‘dibela’ dari keduanya, harusnya sama. Pada kedua orang itulah komunikasi ruang pamer dibebankan. Jika kuratornya berkemampuan Desain, lalu ditemani tukang desain grafis yang cukup skill dan patuh pada desain kurator, maka kemungkinan besar, komunikasi sebuah ruang pamer akan berlangsung dengan sangat lancar dan sangat berkemungkinan berhasil. Kepatutan dan dasar kerja keduanya sama, yaitu HARUS dan HANYA bekerja berdasarkan data, BUKAN cuma tentang selera.
[catatan yg tidak usah di besar besarkan: Satu satunya hal yang membatasi Desain dan produksi sebuah desain, manakala keduanya patuh pada hierarki dunia Desain, hanyalah soal duit saja.]

Waktu menunjukkan jam 11an, perut mulai bergerak ke arah demo.
Kami bergerombol, mojok di meja samping gedung, memotong kertas. Menyiapkan press kit, dan memotongi alas utk kuesioner.
Delapan set yg kami siapkan ternyata berhenti di dalam utk waktu yg sangat lama. Sementara tamu terus mengalir. Jadi, kami harus menyiapkan spare kuesioner set sampai 15an, minimal.

Saya membahas 25 lembar pertama kuesioner dengan whom-so-called desainer dan penanggung jawab produksi cetak mencetak. menjelaskan padanya, apa pointnya kuesioner itu bagi strategi desain.
Apa hubungan isian kuesioner yg mana, yang sangat dipengaruhi oleh desain. Bagaimana sifat hubungannya.

Pada malam instal, H-1, saya menjelaskan padanya di depan teman teman, bagaimana menentukan eksekusi pasang. Apa parameter yang dipakai untuk standar rata ratanya; realnya, standar itu yang bagaimana.

“Kalo satu garis, untuk pemasangan, ambil eye levelnya rata rata atas. Bukan si jangkung, tapi si rata rata tinggi, yaitu si Bayu yoga. Sementara untuk ukuran keterbacaan, ambil rata rata pendek, yaitu si Black” — dua si Bayu yang beruntung menjadi parameter ukuran pamer malam itu.

‘Keterbacaan gambar’ itu berarti berapa jauh si black harus mundur dari panel gambar untuk bisa menikmati gambar down to detail.
Sementara ‘keterbacaan desain’ adalah seberapa jauh orang berada utk diharapkan masih bisa membaca informasi yg kita tempelkan pada gambar.
Dua masalah berbeda, pada satu frame, satu gambar, satu istilah=keterbacaan.

Karena informasi nama, pasti melihat dan mengukur pada keterbacaan. Pilihan font yg dipakai desainer, dan dipilihnya menjadi branding pameran ini, adalah pilihan font bukan type display. Sehingga, sangat riskan untuk soal keterbacaan. whom-so-called desainer itu harus mengetahui apa yg sedang diletakkannya dalam batas membahayakan kuratorialship.

Masalah lain yang tidak disadari semua orang adalah tata letak penanda bab. Jika diletakkan sedikit saja terlalu tinggi, tidak dibaca orang; kerendahan dikit saja, tidak akan dibaca orang juga.
Dan hanya kami berdua lah yang meributkan soal tata letak itu. Menentukan apa parameternya dan apa yang menjadi noise yang mengganggu dari keputusan penataan itu.
Apakah stand frame dianggap ‘noise’ yang mengganggu, atau tidak?
Dinding di daerah bocor dan berayap yang harus kami pasangi sketsel itu menambahi beban di masalah pemasangan. Dan dinding itu, tetap menjadi masalah karena dia harus menyangga 3 bab dalam satu dinding.
Parameter keterbacaan, dan ‘noise’ level nya menjadi sangat sensitif.

Engkel engkelan, akhirnya padanya saya berkata. “Ambil 6 bab yang lain, kecuali bab 7. Coba saja memakai metodemu itu pada 6 bab yang lain. Tapi bab 7 harus ikut desainku, sesuai mauku” si kurator ini masih bisa bertanduk meski kelelahan.

Hukumnya tetap. padaku, hukum Rabbuna masih tetap. Bahwa makin ingin aku mengatakan sesuatu (artinya bukan karena rejekinya yg bertanya padaku), makin kesulitan aku mengatakan mauku.
Makin aku punya mau, maka makin jauh si orang yg ada didepanku ini, dari rejekinya atas ilmu.
jadi, aku harus diam, seleh sejekan sembari memberinya waktu utk mencoba idenya itu, dengan tetap memakai satu hal lain, sebagai pembanding untuknya.
agar jika dia kembali memakai ideku, dia masih ada data standarnya.
seperti menjadi memory penyimpan data jika meng-undo sesuatu.

Setelah dia mencoba idenya, dia kembali padaku sambil berkata, “kok gak enak yo mbak?”
padahal, itu adalah idenya sendiri.
Tapi satu hal tentang desainer satu ini, kita harus selalu menyediakan ruang dan waktu baginya untuk mencoba coba. Plus ruang di dalam hati untuk memaafkan tingkahnya. Dia masih muda. Dia perlu ruang untuk mencoba coba, sebelum bisa benar benar memahami sesuatu.
Bukan dalam rangka kritis. Masih dalam rangka memahami sesuatu saja, dia selalu butuh ruang dan waktu untuk bisa mencoba coba.

Maka memberinya dateline bukan ide bagus. Metode yang bagus dan paling tepat baginya adalah menungguinya selama ia mencoba coba. Lalu jika sudah sampai pada keputusan, menjagai langkahnya dalam produksi. Keputusan produksi pun harus tetap ditemani. Apapun metode menemaninya.
Lalu terakhir, membacakan padanya, apa hasil dari semua parameter yang kita pakai kemarin itu. Dimana parameter itu bisa dibaca. Dan bagaimana mendapatkan data itu lagi untuk pameran berikutnya.

maka saya yakin, majelis ini adalah majelis ilmu.
sementara dia belajar sesuatu, aku belajar menemukan metode mengajar pada orang berkepribadian begitu.

06.02.2014 catatan pameran tahunan
enyerawati

photos by Hari Lazuardi

1655295_10202088686312963_55109361_o 1537746_10202088684512918_1579124908_o hari lazuardi_2

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s