Catatan Pameran: pendapatku tentang katalog

Umumnya, yang disebut sebagai katalog, adalah cetakan atau katakanlah buku, yang memuat seluruh thumbnail dari sebuah pameran, dan ucapan terima kasih plus tulisan kuratorial.
Bukan salah, kan namanya katalog. Ilmiahnya, index. Tidak ada yg salah dengan itu.

Tapi jika ditanya padaku, atau ditawarkan padaku, katalog pameran yang ku-kuratori baiknya seperti apa, aku akan dengan rinci meminta rekaman seluruh proses kuratorialship tercantum disitu. Seluruhnya. Dari desain awal pameran, strategi pameran, keseluruhan proses seleksinya, dan rekaman data real dari ruang pamer. Hasil akhirnya mungkin bukan SEKEDAR index lagi. Tapi sebuah buku yang mencatat keseluruhan proses kuratorialship lengkap. Sampai ke respon viewer dan diskusinya, jika ada.
Kenapa?
Fungsinya.
Jika katalog yang sekarang ada, semata mata memudahkan orang untuk mengambil keputusan pembelian. (bukankah biasanya katalog yang ‘genah’ adanya di ruang pamer seni rupa?!)
Katalog di ruang foto, tidak ada fungsi yang ‘membawa manfaat bagi viewer’ jika cuma sakdermo index karya dan pemamernya.

Katalog foto baru berguna, jika memuat seluruh proses kuratorialship lengkap, down to detail. Sehingga dia menjadi data primer yang bernilai ilmiah. Bisa masuk ke ranah ilmiah juga. Dan, bisa dipakai sebagai dasar dari mahasiswa mana saja, sebagai sumber penelitiannya.
Sumber data apa lagi yang lebih akurat dari sumber data primer yang sudah tervalidasi oleh kurator?

Kemarin, saya mengajari whom-so-called-designer kami untuk menghitung ongkos produksi jika begini atau begitu. Tapi saya menyadari ‘lack of understanding’ diantara saya dan semua orang yg akan berinteraksi langsung dengan rencana katalog itu.

Saya menahan diri untuk membunyikan isi kepala saya kemarin. Walhasil … batuk saya menjadi jadi. Fisik saya, menurun lagi semalam. Bagaimana menjembatani jarak yang demikian jauh?

Masih memikirkannya sampai sekarang, dan dengan senang hati menerima urun pemikiran, by email.
07.02.2014 catatan hari diskusi pameran
eny erawati — bersama Eddy Susilo dan Fadli Rozi.

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s