Pada yang suka bertanya ‘Apa Dalilnya’

“Aku iki dudu kyai, mulakno ngamukan” itu kalimatku pada diriku sendiri, tentang diriku sendiri.
Setiap kali membaca pertanyaan orang tentang agama, yang biasanya diawali dengan ‘apa dalilnya?’ atau diakhiri dengan ‘ada gak dalilnya?’, aku selalu geregeten setengah marah.
alasannya:

1. Referensi yg dipakai para ulama yang berijtima itu, ndak cuma satu hadis, ndak cuma satu kitab, dan yang pasti, ndak cuma satu pihak duank. Hukum Imam Syafi’i misalnya, selalu juga menimbang bagaimana pendapat dari ketiga imam yang lainnya. baru diputuskan mana yang lebih banyak kebaikkannya.
nyebut judul sumber referensinya saja, aku bisa kelempoken (=kekenyangan karena kebanyakan yg harus ditelan). apalagi harus menyebutkan dalilnya SATU PER SATU.

2. Orang yang berpegang pada satu hadis duank, kau bisa menamainya keukeuh alias keras kepala. Para ulama yg bermusyawarah itu, masing masingnya membawa puluhan ratusan sampai ribuan dalil, pake HAFAL. Cuma, ndak diumbar umbar kayak tukang jual jamu pinggir jalan.
Semua ulama, mengemas ilmu dalam packaging yang pas dan tepat untukmu. Iya, kamu. Karena kemasan untukku pasti beda. Dan kemasan untuk mommy juga pasti beda lagi. Kemasan untuk istri atau anakmu juga beda kok. Ndak usah saling ngiri.
Jika dirimu kebagian packaging yang jelek dan tidak juga kau mengerti, maka mari kita bercermin.
Simply karena itu berarti ‘cuma segitulah’ Allah melihat daya kemampuanmu mengenyam informasi lewat ulama itu.
Percayalah padaku, jika suatu saat kau dianggap Rabbuna mampu membawa dalil, maka di telingamu, seolah olah para ulama itu tak henti hentinya mengucapkan dalil yang harus kau catat, saking banyaknya. Seperti hujan lebat yang mengguyur kepala. Belum akan habis hingga kau benar benar terendam.
Tapi sebelum itu, ura usah ngeyel nanya dalil segala.

3. Setiap hadis itu, punya sanad. Referensi punya sumber referensi yang lebih tinggi kan?! seperti itu. Tapi hadis, each one of them, selalu punya sumber referensi yang validitasnya lebih tinggi, lalu diatasnya lagi, dan diatasnya lagi. Masing masing sumber valid, harus sudah tervalidasi oleh validator yang beneran.

Misal: saya ngomong sesuatu referensi dari mommy, mommy referensi dari nenekku, nenek referensi dari buyut, buyut referensi dari buyut syech, buyut syech referensi dari ayahnya, ayah buyut syech referensi dari kakeknya buyut syech … dan seterusnya. Itu cuma untuk memvalidasikan satu omongan saya. Runutan keatas itu, namanya sanad.

Sekarang, jika terindikasi nenek saya mendengar omongan itu dalam keadaan mengantuk misalnya, maka validator harus mencari orang lain yang berada pada majelis yang sama, yang sama sama mendengarkan apa yang diomongkan buyut pada nenek saya. May it be saudara nenek, atau tetangga, atau teman, atau pembantu. Masing masingnya masih harus dilakukan validasi lagi, apakah bukan tukang bohong? apakah bukan tukang ngantuk? apakah daya ingatnya keren? Itu perlu dilakukan jika terindikasi bahwa nenek saya agak mengantuk saat mendengarkan buyut saya bicara padanya.

Itu baru ngomongin satu dalil saja.

Kembali ke poin nomor satu, Referensi yg dipakai para ulama yang berijtima itu, ndak cuma satu hadis, ndak cuma satu kitab, dan yang pasti, ndak cuma satu pihak duank.
Para ulama yg bermusyawarah itu, masing masingnya membawa puluhan ratusan sampai ribuan dalil, pake HAFAL.

Lalu, dirimu mau menandingi mereka?

Aku?
Thanks but no thanks.

Mbegedud yo ben. Aku milih matengnya saja.
Enyerawati, 2 Ramadhan 1435H

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s