Wali dan karamahnya

Jika ada seorang waliyulloh yg di buka (=ditunjukkan pada umat biasa) karomahnya, yang pada umumnya sering kita sebut sebagai sesuatu semacam keajaiban, di jaman ini, maka, aku lah yang paling sedih.

Keajaiban, aneka bentuk, sudah ada sejak jaman kaum sebelum kita bukan?! Ada tukang pengendali keajaiban hitam (kadang kita sebut tukang sihir, penyamun dan sejenisnya). Ada yang disebut tukang pengendali keajaiban putih (sering kita sebut paranormal, tukang sulap dan sebangsanya). Entah seperti apa klasifikasi jelasnya. entah dimana batasan pembeda keduanya. Ketiadaan klasifikasi ilmiahnya, tidak bisa menafikan keberadaan dan jumlah serta pengaruh yang mereka bawa.

Seorang wali yang ‘dibuka karomahnya’ untuk bisa dilihat, di saksikan, atau dibiarkan menjadi perbincangan orang orang, saat sang wali masih hidup, akan membuatnya –sengaja atau tidak– menjadi digolongkan sebagai salah satu dari pengendali keajaiban seperti tersebut diatas.
Meski hakekatnya, sangat jauh berbeda dari itu.

Manusia tidak diciptakan bodoh. tapi dengan daya tarik iblis, manusia bisa sangat menyukai kebodohan. Itu sebabnya ada perintah untuk terus berdzikir dengan pikir, dan menjaga pikiran kita. Karena tidak mau berfikir adalah ulah pengaruh iblis, sementara berlebihan dalam berpikir juga ulah pengaruh iblis. Dia bisa mencegat dimana saja, dengan sedikit pujian; merasa menjadi orang pertama yang menemukan sebuah pemikiran.

Soal karomah wali yang terlihat oleh mata biasa, mengandung statement Rabbuna yang menyedihkan, andai kita mau menelaahnya dengan perasaan.

Kapan sebuah tongkat harus diubah menjadi ular?
Kapan suatu kaum harus diubah menjadi kera?
Kapan sebuah sungai/laut harus dibelah untuk menyelamatkan satu kaum dan ditutup lagi untuk menenggelamkan kaum lainnya?
Kapan teknologi yg saat ini kita sebut sebagai fusi dan pemecahan inti atom, harus dipertontonkan pada suatu kaum sebagai manusia yang dibakar hidup hidup dengan kayu bakar setinggi gunung, tapi tidak terbakar bahkan masih hidup?
Kapan seorang bayi yang baru lahir harus dipertontonkan bisa bicara dan menerangkan kelahirannya?

Jaman jahiliyyah. Disebut juga jaman kebodohan. Jaman dimana meski nabi dan bahkan rasul diturunkan pada mereka, sebagian besarnya tidak mau menerima dan pura pura tidak mendengar seruan kebenaran. Jaman dimana kehebatan akal manusia dianggap lebih tinggi dari kehebatan Tuhan dalam mengatur segala sesuatu di semesta.

Maka, jika kita di jaman ini, menjumpai karamah wali yang dibuka dan bisa kita lihat atau bisa kita perbincangkan, senyampang si empunya karamah masih hidup, ITU SAMA DENGAN menyatakan diri secara terbuka eksplisit dan tanpa tedeng aling aling bahwa kita adalah kaum dengan kebodohan yang luar biasa. Sama dengan kaum di masa jahiliyyah itu.

Makin kau buka cerita tentang karamahnya, itu artinya makin keras kau meneriakkan kebodohanmu dan meneriaki orang lain sebagai sama bodohnya denganmu.

Karamah itu apa?
Baca lagi pelan pelah paragraf awal tulisan ini. Kali ini, pake basmalah ya.
Siapa yang potensial memiliki karamah?
Bisa siapa saja, yang pasti, ia adalah alim (berilmu), abid (tukang ibadah), perangainya baik dan bijak (jangan berpikirn sempit tentang kata ‘baik’ lho ya), dan tentu saja ia tidak memiliki tanda tanda kebodohan. Stempelnya langsung dari Tuhan.
Bodoh adalah … baca lagi paragraf diatas, usahakan dengan pemahaman atas makna tersirat dari kalimat.

Apakah masih ada wali yang dibuka karamahnya di jaman ini?
Wali wali Allah masih ada. Otherwise dunia akan berhenti berputar. Literally, dunia akan berhenti berputar jika mereka tidak ada. Yang memiliki karamah pasti juga ada. Selama para wali masih ada, maka karamah juga pasti ada. Karena karamah adalah salah satu perlengkapan penunjang penugasan mereka sebagai waliyulloh.
Apakah semua wali memiliki karamah?
Bukan hak saya untuk menjawabnya, karena saya tergolong manusia biasa. Tapi logikanya, seperti logika semua ninja pasti memiliki samurai tapi tidak semua ninja memiliki samurai yang sakti dan tidak semua ninja pemilik samurai memiliki kemampuan bersamurai yang mumpun; maka kalau boleh disederhanakan, semua wali memiliki karamah tapi tidak semua karamah bisa dipertontonkan. Dan wali yang memiliki karamah, jenis karamahnya adalah khusus by design hanya untuk satu orang itu saja.

Aturannya satu, hanya wali yang bisa melihat wali. Orang lain hanya bisa menduga duga. Kalaupun dugaannya salah, apalagi jika dugaannya benar, ia tak boleh mengumumkannya. As long as waliyulloh tersebut masih hidup.
Kalau orangnya saja tidak boleh diumumkan, bagaimana bisa ‘senjata’nya boleh diumumkan?!

Pernahkah memperhatikan lebah? Lebah tidak mati kelelahan meski bekerja non stop untuk jamaahnya. Tapi lebah akan mati, begitu ia telah menusukkan ekor tajamnya, menunjukkan ‘karamah’nya sebagai lebah pada makhluk lain yang mengganggu ‘jamaah’nya. MAkhluk pengganggu itu, biasanya bertujuan untuk mengambil madu yang mereka hasilkan.
Apakah yang di’tusuk’ lebah akan mati? tidak, kecuali ia penderita alergi sengatan yang imun systemnya mengalami kerusakan parah.

Jika engkau adalah saksi sebuah karamah dari seorang wali yang sedang ‘dibuka’, maka, ikat dan kuncilah lidah dan mulutmu. Seperti memanen madu yang bisa dilakukan oleh orang tertentu. Jadilah seperti para pemanen madu itu.
MEngumumkannya hanya akan menjadikan iblis sebagai panglimamu.

Maka, diam bukan selalu berarti tidak berfikir. Dan berfikir hampir selalu berarti disertai diam.

Menyukai kebodohan adalah menjadi pasukan dalam pengaruh iblis. Dan mengumumkan kebodohan adalah stempel pengesahan diri sendiri untuk menjadi pasukan iblis.

Semoga Allah melindungi kita semua. Aamiin.
enyerawati, 09072014

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena, enyerawati, ilmu melihat dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s