Syekh Ibn Athoillah as Sakandary

Kitab yang aku beneran tamat, every single line of it, adalah al Hikam.
Dan kitab-nya, yang bertuliskan huruf arab, syarahnya pun huruf arab, berbahasa arab. Bukan cuma terjemahannya, apalagi kitab cantik cantik berbahasa indonesia yang sekedar berjudul ‘al Hikam’.

Kelulusan itu, adalah hadiah karena istiqomah. Orang lain bisa tamat satu kitab sekali jalan, aku menamatkannya dengan 2 kali sehari, terkadang 3 kali sehari.
Bukan demi mempercepat, tapi mengulanginya. Every single line of it.

Mengulangi 2-3 kali sehari, agaknya adalah ukuran pas bagi otakku untuk bisa memahami arti dan makna kitab itu. Bukan cuma sekedar ‘pernah mendengar’nya.

Ada 400an tulisan yang terinpirasi dari satu dua kata saja dari al Hikam, satu dua tulisan setiap harinya. Dengan kalimat yang super indah, dan kedalaman yang mencengangkan. Bahkan bagiku yang tukang nyinyir dalam mengkritik orang.

Kadang tulisan itu, muncul ketika di tengah ngaji. Tapi biasanya, begitu bangun tidur, satu tulisan mengalir begitu saja. Terinspirasi dari al Hikam, sama sekali tidak perlu merubah apapun dari ‘tubuh’ kitab nya, dan tetap ber-rasa sastra yang sangat indah. Aku sering menulis, bahwa tanganku cuma ‘kelewatan’ saja. Tulisan itu lahir sendiri, sudah ada dari sononya, dan aku cuma kelewatan melahirkannya saja dalam bentuk bahasa yang mudah dibaca oleh penghuni jaman.

Awalnya sih, aku mendengarkan pengajian. Suka dengan cara tutur pengajarnya, dan mendengar bahwa kitab yang dipakai, berjudul Al Hikam.
Kemudian aku ke toko buku untuk mencari buku berjudul al Hikam itu. Mahal, tapi aku membelinya karena covernya yang cantik dan kertasnya bagus. Aku membawanya ke masjid dan membacanya di masjid, sambil menunggu witiran malam. Saat itu memang ramadhan sepuluh terakhir.
Membacanya di masjid, meski buku itu secara estetika sangat memenuhi seleraku, but i can not read a single line of it. Tidak bisa memahami artinya, apalagi maksudnya. Padahal sudah teks berbahasa indonesia. Masalahnya dimana?
Aku mencoba metode mendengar sambil membaca. Mendengar pengajian sambil membaca. Tidak bisa.
Buku yang bukan kitab itu, tidak konek dengan kitab yang dibaca kyai. Dan otakku tidak bisa membangun jembatan untuk mengerti dan me-memori.
Mencari di lemari bukunya mommy, dan menemukan kitab pegon-nya.
Mengaji dengan metode yang sama, mendengar sambil membaca. Karena kitab pegon, maka aku juga membaca terjemahan bahasa jawanya. Tiga bahasa sekali jalan. Otakku gelagapan, dan jembatan pemahaman itu tidak bisa terbangun dengan pondasi yang baik.
Aku bisa membaca pegon (bahasa arab jawi), selain bahasa arabnya itu sendiri, masih tidak ada ‘masalah bahasa’ di sini. Kitab sudah dalam bahasa yang aku mengerti, guru sudah dalam bahasa yang aku mengerti. Dan ngaji itu, masih tidak bisa menetap di otakku.
Lalu aku mengganti metode. Mengaji dan Menulis apapun yang dikatakan guruku. Each and every word of it.
Kitabnya ku singkirkan dulu sementara. Aku konsen pada menyesuaikan kecepatan menulis tanganku, dengan kecepatan guruku dalam menerangkannya.
Begitu sudah bisa, aku mulai ke toko kitab, bukan toko buku. Membeli kitab al Hikam, yang asli. Pulang dan menceritakan kekagetanku ketika mengetahui harganya. Kitab itu asli, cetakan bukan Indonesia, artinya kitab impor, dan harnya lebih murah dari buku berbahasa indonesia, cetakan indonesia.
“Apa kita ditakdir untuk menjadi bodoh dengan membuat kita sendiri tidak mampu membeli buku, mom?”
Tapi aku tidak meneruskan protes soal itu lebih jauh. Aku konsen ke ngajiku. Karena entah di acara apa, Johan Budi Sava, pemilik toko buku Toga, tiba tiba muncul di FBku dan berkata bahwa memproduksi buku itu tidak murah. Dia yang bergelut di dunia buku saja tidak bisa menemukan metode membuat buku menjadi terjangkau utk dibeli, lalu apa yang bisa kulakukan jika aku meneruskan protesku? Dan aku berhenti menggumam soal itu.
Dengan berbekal kitab asli yang murah itu, dan kitab terjemahan yang kubeli di toko kitab yang sama, dua duanya super murah, aku mulai memakai metode 3M, mengaji membaca dan menulis.
Memahami, biarlah menjadi urusan nanti. Begitu yang terus berbunyi di kepalaku. Mengingat, sampai detik itu saja, sudah berapa kali aku mencoba membaca dan memahami, tapi tak kunjung paham juga.
Mengaji itu wajib, memahami tidaklah wajib. Karena pemahaman, adalah hadiah dari Rabbuna, atas nama ilmu. Itu suara al Hikam.
Maka, meski baru memulai ngaji, guruku sudah mewanti wanti, bahwa meski sudah tamatpun, bisa jadi, pendengar pengajian al Hikam tidak juga memahami isi al Hikam. Kok bisa? ya bisa saja. Hadiah bisa hilang bisa jadi karena penerima hadiah membuangnya, meninggalkannya dan lupa, atau hadiah itu ternyata di retur ke pemberinya. Boleh jadi pula, memang dia tidak terdaftar sebagai penerima hadiah. Pemahaman adalah hadiah Allah atas ilmu. Terserah yang memberi hadiah, dan tergantung adab (perilaku) penerima hadiah.

Dan begitulah. Aku yang pelupa saja, bisa ‘hampir hafal’ isi al Hikam. Terutama, tentang which of which nya. Mana yang mengajak, mana yang menyindir, mana yang menohok, meski seolah, kata yang dipakai adalah satu kata yang sama.

Al Hikam, meski sudah di hafal dan sudah berkali kali diajarkan pun, bisa hilang dalam sekejab, begitu ada setitik sombong dalam hati pembacanya.

Aku mbegedud, no doubt about it, juga pelupa, plus pemarah, dan mata yang masih jelalatan pada dunia.
Andaipun aku bisa super hafal, anything could happened –memunculkan sifat yang tidak boleh dimiliki para pembaca al Hikam– dan menghapuskan al hikam dari otakku, sama sekali.
Lenyap mak plas.

What do i get dengan tamat kitab al Hikam? A lot and yet too few to mention. Aku mendapat ilmu yang terlalu bagus untuk kusebut sebagai milikku atau lahir dari otak dan tanganku. Sekaligus, pemahaman, bahwa bukankah ilmuku itu cuma sebagian kecil dari ilmu penulis kitab yang sudah mewakilkan pengajaran dan metode transfer ilmunya pada guruku. Pasti ada reduksi, pasti ada distorsi. Yang pasti, kitab itu cuma satu dari kitab buatan Syekh Ibn Athoillah as Sakandary. Artinya, ilmu yang kudapat, yang terlalu bagus utk kusebut sebagai milikku itu, hanyalah sebagian kecil dari ilmu penulis aslinya, sudah tereduksi pula. A lot and yet too few to mention.

Maka aku kaget sangket begitu ada tulisan berjudul KESALAHAN AMAL DALAM PANDANGAN IBN ATHA`ILLAH.
Aku sangat patut menuduh penulisnya belum tamat al Hikam. Dan sangat patut menuduh bahwa penulisnya tidak membaca karya syekh Ibn Athoillah yang lain. Juga menduga bahwa penulisnya tidak membaca karya Athoillah dengan modal pengetahuan kebahasa arab an yang memadai. Lalu menduga, bahwa penulis artikel itu tidak memakai guru dalam membaca kitab kitab syekh Ibn Athoillah.

Plus, aku menduga, penulisnya lebih mbegedud dari aku. Adab murid adalah tidak ‘njambal’ dalam menyebutkan sumber referensi ilmu ngajinya. Adab pada guru itu sangat sensitif dalam adabul ilmu, apalagi terhadap pemilik referensi aslinya. Dan penulis artikel itu, bisa menulis judul dengan nama saja. Tanpa ‘syekh’.

“Andaipun aku bisa super hafal, anything could happened –memunculkan sifat yang tidak boleh dimiliki para pembaca al Hikam– dan menghapuskan al hikam dari otakku, sama sekali.
Lenyap mak plas.”

Dan penulis itu njambal. And what should i think about him?
Ini ilmu tasawuf bung!

Lebih geregeten lagi, jika Anda yang notabene temanku, lebih percaya pada penulis artikel itu daripada pada tulisan saya.

Whatever

Semoga dengan ilmu, kita semua terjaga dari hal hal buruk yang tengah melingkupi dunia dan menggelapkannya. Semoga Allah menyelamatkan kita semua. Aamiin.

enyerawati 09082014

 

btw, tulisan berjudul ajaib itu, sepertinya kumpulan twit seseorang deh. soalnya, di setiap awal kalimat sepapu ada ‘@’ nya

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s