Adab pada orang tua

“mustine yo gak usah takok. nek pinter iku gak usah takok. nggawe insting ae mustine wes ngerti. (=mustinya tidak perlu ditanyakan/di konfirm segala. kalau pintar, tidak perlu bertanya segala. pake insting saja harusnya sudah bisa mengerti)”
::
itu bahasa orang tua pada anaknya.
dikatakan atau tidak, –percayalah, mendengar kalimat diatas secara langsung di telinga itu terasa seperti ditampar api– dikatakan atau tidak, hampir semua orang tua berpikir demikian atas anak anaknya.
semua orang tua berharap anaknya cukup pintar untuk mendengar dan pintar mengerti apa yang dimaui orang tua tanpa perlu mendengar orang tua mengatakannya.

‘dukun bekne’, seringkali si anak nggerundel demikian. entah kalau anak jaman sekarang bisa seberapa sadis nggerundelnya. tapi intinya si anak biasanya menganggap itu sesuatu yang absurd.

turn back time if you have to.
tapi mengertilah, bahwa persis seperti itulah yang ada di pikiran orang tua kita.
mereka berharap bahwa kita, anak anaknya, bisa mengerti orang tua tanpa mereka yang sudah sepuh itu perlu mengatakannya.

bukan hal yang nonsens, karena sebenarnya itu sudah berlaku umum, jamak dan berlaku sama di belahan manapun di dunia ini. Bisa dan sudah dilakukan banyak anak anak yang memiliki orang tua yang sudah sepuh.

kalau kita belum bisaa melakukannya, itu karena kita yang belum bisa. bukan ‘hal’ permintaannya yang nonsens.

harusnya, seorang anak, bisa paham apa yang diinginkan orang tuanya, sebelum orang tuanya memintanya.
harusnya, seorang anak bisa menebak atau membantu mendefine apa yang diinginkan orang tuanya, memilihkan dari banyak hal yang mengganggu pilihannya, tanpa si anak menjadi bersikap menggurui atau terdengar sebagai menyuruh atau melarang.

tidak mudah. tapi dari dulu orang orang tua kita selalu bisa melakukannya.
kenapa kita bilang ‘nonsens’ pada apa yang ‘sudah seharusnya’ itu?

“nek pinter, mustine gak usah takok (=kalau memang pintar, mustinya tidak perlu bertanya/mengkonfirmasi)”

kalau tebakannya salah, ya kena marah.
tebakannya benar pun, jika cara menebaknya salah atau tidak sesuai metodologi orang tua, juga bakal kena marah.
setelah nada atau timingnya tidak tepat, juga kena marah.
jangan khawatir, salah benar, bakal kena marah juga kok.

yang wajib adalah usahanya.
yang wajib adalah belajar mendengar dan mengembangkan empati pada orang tua. kalau channelnya sudah paired, koneksinya super cepat karena pada dasarnya shared folder di satu network.
jangan putus asa untuk pairing sinyal dengan orang tua.
kewajibannya cuma itu kok.

jangan kuatir dengan memar hati yang akan kita dapatkan sebagai anak.
catatannya abadi dan langsung ke Tuhan kok.

do not say ‘ah’ atau ‘uh’ apalagi ‘no’ to your parents ya bro.
no matter what.
karena itu bisa menutup pintu surga kita sendiri.

enyerawati 11082014

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s