Majelis ini dan itu

Kenapa kau membela majelis yg ini dan diam saja pada majelis yg itu?
::
Kau mau jawaban masuk akalmu atau jawaban yang benar benar dari hatiku?

1. Medan magnet itu bisa diciptakan. Majelis yang satu mencipatakan medan magnet. Majelis yang satunya terimbasi medan magnet tersebut. Keduanya saling menguatkan, jika dipetakan dari langit. Faktanya, majelis tidak cuma dua, tapi ada banyak dan menyebar. Medan magnet itu, disebut sebagai taman surga karena berisi orang orang yg berdzikir dan bersholawat dalam rangka demagnetisasi dirinya. Dari bulan pun, taman taman surga yg adalah majelis dzikir itu akan tampak bercahaya. Terang dan redupnya tergantung keikhlasan kesungguhan yg bersholawat dan berdzikir disana.
Medan magnet dan cahaya dari keikhlasan, tetap tampak meski diukur dari luar bumi.
Tinggal kitanya, sedang berada didalam taman, atau diluar taman.
Taman pun ada banyak kan. Di Malang saja, kita bisa milih. Taman tugu balaikota, atau taman alun alun kota? Meski selain dua itu masih banyak taman taman yg lainnya.

2. Khodim majelis itu bekerja sesuai piketnya. Ada yg ngopeni yang muda muda. Ada yang ngopeni yang tidak muda. Ada yg kebagian menemani para pemikir dan ilmuwan. Ada yang piket among mbegedudah. Ada yg piket menemani yg sudah sepuh, tiinggal ta’dhimnya. Ada yg kebagian ngancai orang orang dan dhodobnya. Ada yg kebagian daerah pedesaan. Ada yg kebagian among arema. Bukan membuatnya terbagi dalam strata vertikal. Tapi pembagian demografis. Tidak didesain oleh khodim majelis. Melainkan terbentuk ‘dengan sendirinya’, tampaknya. Padahal, selagi masih bicara ciptaan Rabbuna, mana ada yg ‘dengan sendirinya’?

3. Majelis yg satu majelis bib, majelis satunya ada gusnya. Sayangnya aku perempuan. Dan kemarin, meski berkamera dan bobot tasku belasan kilo, aku masih bisa ‘dilarang mendekati panggung, dan bahkan dilarang ke tenda multimedia/FOH’. Plus diomelin ibu ibu yg tdk paham esensi dokumentasi event. Selain mangkel, aku ada efek ke badan karena mangkel.
Yg ada gusnya saja melarang, gimana yg bib duank?
Siapa yg harusnya ngajarin mindsetnya orang orang ini ya?
Oh iya, saya sangat attached dengan stage dan bintang stage. Tentu saja. Kan intinya memang disana.

4. Magnet saya dari awwal, memang lebih ke suara. Dan yg bersuara, dari dulu, adalah gus Rochim. Sementara bib Rochman yg duduk disebelahnya (lidahku menjuluki beliau ‘Baraqbah besar’), sangat visual. Suaranya tidak merdu, tapi bibirnya sangat visual terus berbunyi selama sholawatan.
Masih dibonusi bib Taufik (lidahku menjulukinya ‘Baraqbah kecil’), suaranya enak, arabnya lebih enak dari bahasa indonesianya, dan ‘indah dimata kamera’.
Again, maaf jika berbeda. Tapi magnet saya, memang lebih ke suara.

5. Yg ini rahasia. Tidak ada yg mengamati ini, kayaknya.
Jaman gus Rochim, aku sangat hafal dengan gesture beliau. Harus menghafalkan tanda bebunyian (sebut saja begitu) yg menjadi penanda kapan mic gus Rochim akan berbunyi. Kapan gus Rochim akan bicara.
Masalahnya, setiap kali memakai mic, beliau pasti bersiwak dulu sedetik dua detik. Sangat cepat. MESKI YG DI UCAPKAN BELIAU CUMA SATU KATA.
Pokok bunyi pake mic, sedetik sebelumnya pasti bersiwak dengan gestur agak membelakangi kamera (seperti menoleh ke belakang). Meski sesi micnya cuma satu kata. Dan itu sesi aku tdk boleh mengarahkan lensa pada beliau.
Aku paham larangan mengarahkan kamera pd sesi itu dari nadanya. Aku mendengar kekhawatiran di dalam hati beliau. Tapi aku harus berada cukup dekat utk bisa mendengarkan signal lainnya.
Termasuk, kapan aku tdk boleh obah, atau kapan aku boleh munyeri arena.

Tidak semua kyai bintang panggung mampu berkirim sinyal nirkabel nirsuara seperti itu. Tapi pada yg bisa mengirim sinyal, aku insyaallah pasti bisa menerima sinyal itu.
Kapan motret dan kapan tidak. Kapan beloau berkata padaku dan kapan beliau berkata untuk umat. Kapan boleh melihat, kapan harus menunduk. Kapan penting main course, dan kapan garnish duank.
Ini yg kusebut sebagai komunikasi ‘bahasa kami’. Aku dan kyai.

Jika sinyal pemancarnya besar, itu tidak cuma berlaku saat aku pegang kamera. Itu bisa masih berlaku meski aku ndoprok di ndalem, berangkat sowan nunut ibu ibu muslimat. Atau saat aku di-encepi kyai.

Sinyal dari arah panggung, memang sinyal berpemancaran terkuat. Maka tentu saja, aku harus ke panggung, dan harus mengamati dengan konsentrasi penuh.

FYI, memotret majelis itu kelakuan yg menyenangkanku dan menyenangkan hati mommy. Ukurannya disitu. Berangkat jika menyenangkan hati mommy. Tidak berangkat jika tdk menyenangkan. Atau gedean khawatirnya dari menyenangkannya.

Ukuran senang dan tidaknya dimana?
Kalo aku, menyenangkan adalah jika berkamera, bisa konek sinyal berbahasa dengan bintangnya, dan konek sinyal dengan gsm di angkasa.
Kalo mommy, … … parameter aturan emak emak pada anaknya itu hanya Tuhan dan emak emak itulah yg tahu.
Demi sopannya, aku menyebut sesi minta ijin itu sebagai sesi berbahasa dengan pejabat pembuat visa.
Penerbitannya memang pake aturan. Tapi diterbitkan dan tidaknya tergantung subyektif pejabatnya. Dan itu insting yg diandalkan oleh pihak penjaga keamanan negara mana saja.

Jadi, kenapa aku tampak membela majelis yg satu dan diam pada majelis yg lainnya?
Ah, itu kan cuma perasaanmu saja.

enyerawati binti munif, 31122014

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s