Catatan Mengajar #10012015

Masalah Karakter:

1. Fakta, muridku sekarang, lebih banyak cowoknya
2. Fakta, muridku sekarang, sudah kelas 3 SMP. Tidak ada yang kelas dibawahnya.
3. Anak anak tidak bisa mengikuti kelasku, alasannya cuma satu dari dua hal ini (a) laptop yang speknya tidak mencukupi, atau (b) tidak sungguh sungguh ingin ikut kelas belajar menggambar/desain
4. Murid yang setia di kelasku, termasuk anak anak outstanding di luar kelasku. Maka, jika ada lomba, maka yang berkemungkinan hilang duluan dari kelas ekstra, ya penghuni kelasku.
5. Penghuni kelasku, biasanya, sangat gigih untuk bisa belajar. Tidak rela membiarkan keadaan tidak bisa belajar -apapun wujudnya- menjadi penghalang belajar mereka. Anak anak yang pantang menyerah. Mereka berusaha keras untuk berlari secepat cepatnya demi mengumpulkan tugasku yang memang tidak terlalu sulit, untuk kemudian, bisa bebas menggunakan sisa waktu. Aturan kelasku memang begitu. Pokok sudah selesai mengumpulkan tugas, sudah ku upload, mereka bebas melakukan apapun di kelas. Rewardsnya dua hal itu. Asal mereka mau ‘berlari’, mereka akan mendapatkan rewards itu.

Masalah Kelas:

1. Install uninstall reinstall. Aku selalu stress menghadapi laptop anak anak. HAmpir tidak ada laptop yang tidak bervirus dan/atau bermalware. Game download nya itu lho. Malware itu, selalu membuat laptop mereka kehabisan RAM. Masih ditambah jutaan icon di desktopnya. Plus mouse yang pake acara mlungker mlungker kuwi. Stress melihat laptop anak anak.
Demi alasan kabel listrik, mereka memilih duduk di deret belakang. Sehingga aku kesulitan melihat laptop mereka. DAn tidak kapok kapoknya, mereka menginstalasi software sambil konek internet dan curi curi main game atau facebook an.
Ini soal attitude yang entah bagaimana mengatasinya.
Yang pasti anak anak ini tidak bisa dilarang. Makin di larang, makin heboh curi curinya.

Masalah paling pelik di kelasku adalah menghadapi anak yang tidak atau belum memiliki software. Instal di kelas = bohong. Jarang berhasil kecuali mereka benar benar mendengarkan perintahku step by stepnya. Sekali meleng, sedetik saja, pasti gagal. Dan kegagalan instal itu, selalu menghabiskan waktu. Belum lagi soal OS yang berbeda, sehingga berbeda pula cara installnya. Plus, jangan lupa, kebiasaan untuk konek internet dan curi curi main game itu.

Untuk instalasi software hari ini, aku menyiapkan tutorial berupa pdf, video, dan kuawasi langsung.
50% sukses, 50% gagal total.
Dari yang gagal itu, 25% unistall reinstall dua tiga kali, 25% salah step by stepnya, berbeda pada setiap anak sehingga aku harus menganalisa penyebab kegagalannya satu per satu, step per stepnya, 25% pasti karena tidak konsen mengikuti instruksiku, 25% memang sama sekali tidak mendengarkanku.

“Videonya kepanjangan, kaaaak!” suara protes dari kalangan putri. Yang cowok santai, karena tahu video itu memang jelas dalam menjelaskan step by stepnya. Mereka terbiasa melihat step by step video tutorial, rupanya. Lebih biasa dibanding putri. (padahal kalau nonton film, yang putri lebih tahan).

2. Instruksi manajemen laptop itu harus dituliskan, dan diberitahukan pada orang tua mereka, SEBELUM mereka ke kelas dengan membawa laptop.
Masalah ini sangat pelik. Karena melibatkan managemen isi laptop, yang belum tentu dipahami orang tua siswa, padahal disitulah kontrol orang tua bisa diberlakukan. Orang tua dan guru, tinggal memeriksa daftar folder di setiap drive. Drive apa tempat menyimpan apa, drive apa tidak boleh ada apa, drive apa tempat sementara laptop (ruang bernafas).
Jika manajemen itu diatur dan disepakati orang tua, maka, anak akan tahu batas apa yang boleh dan bisa dilakukannya. Mereka akan mengerti prioritas dan memanajemeni keinginan mereka.

Memanajemeni respon ketika terjadi SALAH MANAJEMEN laptop SETELAH mereka sudah di kelas itu, seperti mengatur langit, kapan langit boleh hujan, kapan langit harus panas. Cuma malaikat yang bisa melakukannya, itupun jika Tuhan menyuruhnya.

Intinya, manajemen laptop yang salah (baca: tidak pakai manajemen) hampir pasti membuat alat gambar tidak punya cukup ruang untuk bergerak dan mengeksekusi perintah atasnya. Padahal, software gambar selalu membutuhkan ruang yang lega dalam prosesnya.
Dan ini, bukan soal spek yang tinggi. Ini soal MANAJEMEN ISI laptop.
Drive laptop sebaiknya cuma 3 [misal driveC: driveD: driveE:], karena menurut pengalaman toko laptop, partisi yang 4 drive cenderung membuat laptop tidak stabil dan rawan rusak. Tidak stabil itu sesuatu, rawan harddisk error itu teramat sangat sesuatu.
Syarat komputer yang bisa masuk di kelasku juga tidak terlalu banyak, sebenarnya. Saat ini, syarat yang paling visual adalah monitornya minimal 14″, karena membicarakan deskripsi sekian kali sekian terlalu rumit untuk diingat. Pokok monitornya 14″ biasanya resolusinya mencukupi. Ada beberapa laptop yang bisa dipasangi alat gambar meski cuma 10-12″ tapi errornya menjadi dua kali lipat. Plus, kebiasaan manajemen isi drive yang amburadul, bisa terbakar itu laptop.
Saran saya, anak anak jangan diberi laptop yang touch screen. Motorik halus mereka tidak mencukupi untuk disuruh memaintain piranti dengan sensitifitas yang berlebih seperti layar touchscreen. Geradakan + monitor touchscreen = monitor error.

3. Murid yang usrek aja. Ini agak susah bagiku untuk menjelaskannya. Setengahnya adalah aib, karena secara teori kitab, anak adalah cermin tingkah orang tuanya. Setengahnya lagi adalah soal kemampuan komunikasi guru dan anak. Dan kedua faktor itu, ada pada satu badan, yaitu si anak. Apakah bisa untuk tidak saling mempengaruhi?

Eny Erawati, S.Sn

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s