Adab Berdoa

“Mulo, wong iku kudu nampilno sikap butuh dudu nampilno isine kebutuhan.” — ngaji kyai Imron tengah malam.
::
Ini jawaban pertanyaan masa awal udelku mulai dilipat duluuuu sekali.
::

Syeikh Abu Nasr as Sarroj bertanya pada banyak ulama: ‘Berdoa itu kan harus menyatakan kebutuhan, padahal menurut org yang ahli menata hati, kita tidak boleh ngeyel minta minta terus, harus memperbanyak sikap pasrah. Jadi berdoa itu mustinya bagaimana sih?’
Dijawab oleh para ulama ulama:

Berdoa itu bisa dilakukan dengan 2 cara:
1. Hias hiasilah dirimu, perbaguslah dirimu dengan doa. Bahasa gampangnya, menyuarakan doa seperti membuat puisi dan membacakannya. Gitu aja.
Sadarilah bahwa kamu yg awalnya tidak bisa ngomong apa apa, kemudian bisa membunyikan doa, berbahasa puisi, itu saja pun sudah membuat dirimu lebih mulia dibanding yg bisu, atau tidak bisu tapi tidak bisa bicara.
Sarjana profesor, utk bisa membuat robot bersuara saja butuh dana yg tidak sedikit.
Utk membuat dirimu bisa membunyikan doa, itu saja pun sudah pemberian yg banyak dan mahal.
Kamu menjadi bisa membunyikan doa saja pun sudah mulia.
Maka, hiasilah dirimu dengan doa. Tampilkan doa dengan keindahan.

2. Antad du’a min ittimarot. Berdoalah karena kamu memilih untuk tunduk dan patuh terhadap perintah Tuhan untuk berdoa.
Tidak semua makhluk diberi kemampuan untuk berdoa. Padahal sekedar mengucapkan doa saka sudah membuat seseorang menjadi tampak mulia.
Tukang mengumpat dengan tukang berdoa lebih mulia siapa?
Padahal, tidak semua orang diberi kemampuan untuk berdoa.
Berdoa itu, hakikatnya adalah seperti diberi tahu berapa nomor telpon Tuhan. Seseorang diberi nomor telpon itu org yg kenal apa org yg tidak dikenal? Org yg kenal. Lha sudah dikenal Tuhan kok masih sibuk aja pada wujud hadiah, tidak lagi aware pada yg memberi hadiah, apa ya sopan?

Berdoa itu menampilkan indahnya sikap butuh, bukan menampilkan isi kebutuhan.

::
Al Hikam. Tentang adab berdoa. Penjelasan KH Imron Jamil.

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di al Hikam, filosofi islam, filsafat islam, islam phylosophy dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s