Aku rada sombong

Aku itu rada sombong.
Setiap kali ada tawaran ndongeng di depan (be it workshop, atau moderator, atau pemateri apa saja), aku selalu berhitung.
Bukan soal tiket pesawatnya, tapi soal meminggalkan berapa orang demi berapa orang.

Begini. Manusia dihitung dari seberapa banyak dia migunani marang liyan, memberi manfaat bagi orang.
Bisa memakai makna hakikat, bisa memakai makna matematika.

Kelasku yg sabtu, isi kelasnya cuma 8 anak. Tapi speednya jauh lebih cepat dibanding yg mahasiswa. Sehingga aku sering menghitungnya sebagai 1:2
Satu anak SMP banding 2 mahasiswa.

Meninggalkan 8 anak SMP progresif jika demi 16 orang seumuran mahasiswa utk diajari, artinya impas.
Rugi adalah jika yg ditinggalkan 16, cuma demi 14 orang apalagi jika kurang dari itu.

Yang rada susah adalah jika mendongeng, mengajar atau apalah namanya utk fotografi.

Saat poster atau undangan disebar, orang ndak ngereken, meski namaku terpampang disitu.
Tapi saat pulang, orang bergunjing, kenapa tidak diumumkan terbuka dan menampung lebih banyak orang? Metode dan bahasannya kan tidak sama, alias beda jauh dengan materi orang pada umumnya.
Dan aku suka membatin, Reffot!

Aku bisa menghandle sampai 50-100 an orang asal alat presentasinya lengkap. Sound ulem di minimum 250watt utk ruangan 9x9mtr, lcd yg soundnya nyambung ke sound. Kalo ndak ada kabelnya, bilang-o. Tak gawakke kabel audio. Bagus lagi kalo lcdnya 2 utk dipake demo (kamera). Dan papan tulis atau flipboard. Aku suka yg flipboard alias kertas. Alat demo bisa kubuatkan atau kucarikan solusinya.

Satu hal lagi.
Pebelajarnya, kalo fotografi, metodenya pendampingan. Maka grouping. Satu group ditemani 1 anak warkop. Karena anak warkop hafal apa bagaimana untuk setiap hal yg dikatakan ‘orang depan’.
Kebanyakan anak warkop tdk mahir bersuara. Tapi bisa melakukan pendekatan. Maklum, warkop kan sekumpulan orang orang romantis.

Kalau model pembicara tunggal, panitia yg menggantikan posisi anak warkop itu, minus pemeraga. Yg pasti kuminta adalah setoran karya awal. Membacakan karya mereka yg hopefully disetor dengan daya tahan malu yg tebal. Saya biasa membacakan foto sebelum kenalan dgn yg membuat fotonya. Biar tidak subyektif.
Pemateri ngoceh tanpa tahu background yg diajak ngomong, bagiku, semacam menuduh peserta sesi sebagai org yg lebih bodoh dari pematerinya.
Aku tidak lebih pintar, cuma menang duluan tahu aja. Dan kebagian piket mempelototi detil. Gitu duank.
Pemateri memegang parameter.
Pemateri tanpa parameter, itu pendongeng namanya. Tidak salah. Tapi ya itu. Cuma mendongeng. Itung itunganku yg berkemungkinan merugi.

Jika menjadi moderator, pastikan saya sudah punya data tentang siapa yg saya moderatori. Anak anak baru lahir, hampir pasti saya tidak punya datanya. Susah mengendalikan angin jika saya tdk paham siapa pengetahuannya seberapa yg saya moderatori itu. Moderator sekalipun, jika saya moderatornya, tetap berfungsi mengendalikan angin.
Gak perlu ditandem, mau sepi partisipasi atau rame, pokok lcd siap dengan data, saya siap.
Tapi ya itu. Itung itungannya ninggal 16 orang harus minimal impas. Kalau pesertanya kurang dari 50 utk sesi yg aku cuma jadi moderator, itu namanya rugi, bagiku.

Sombong, bukan di soal uangnya.
Tapi soal itung itungan ninggal migunani marang berapa orang demi migunani marang berapa orang.

Malaikat itu ndak kenal duit. Maklumlah, malaikat ndak perlu bayar cicilan komputer dan ndak perlu beli tiket pesawat apalagi bayar paket data. Maklumkanlah.
Tapi karena malaikat ndak kenal duit itu, maka dia ndak bisa disogok utk memalsukan data hitungan yg harus dilaporkan ke atas setiap harinya. Laporan yg disetorkan dua kali sehari. Sebelum subuh, dan sebelum maghrib.

Si eny binti munif sabtu tgl sekian ninggal 8 murid equal to 16 adults untuk cuma sekian orang.

Manusia boleh jadi tidak paham laporan statistik model begitu itu. Aku juga ndak pernah melihatnya dengan mata kepala sih. Cuma, membayangkannya saja, aku ngeri je.

Babahkono lah kalo kalian menganggapku sombong karena itu.

nur aini erawati/enyerawati binti munif 07042015

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s