Hal hal yang Katanya Absurd di Fotografi

Setiap kali ada yang bertanya atau bergunjing tentang metering, atau metering nol, atau tentang ‘hal hal absurd’ yang saya omelkan, saya selalu teringat pada foto ini.
Tentu saja selain gambar kriwul mlumpat di depan jeep merah. ‘

Tidak ada gunanya indah jika belum benar — begitu kalimat saya setiap kali,

Tapi jika Anda atau kalian tidak mau percaya, ya sudah. Silahkan tinggal di gua jaman batu, dan tunggu sampai teknologi meninggalkan Anda, sejak bertahun tahun lalu.
Well, jika itu keputusan Anda sih, monggo saja.

Permintaan saya cuma satu, dan satu saja.
Jangan mengajari anak anak yang baru lahir, baru pegang kamera, atau malah masih termimpi mimpi punya kamera, untuk berpikir seperti anda.
Pemikiran obsolete itu, adalah hak anda untuk tetap memakainya. Namun jangan menularkannya pada generasi di bawah Anda.

Ada kami, orang yang mati matian mengajarkan mindset anak anak generasi muda. Menggonta ganti metode, strategi, dan mencari cari cara untuk mendidik mereka. Untuk tujuan yang mungkin Anda tidak merasa perlu untuk perduli. Mengajar itu perlu terlebih dulu belajar menjadi pengajar. Bab ini saja, masih banyak yang mindsetnya perlu dirapikan. Belum lagi standar pendidikan yang masih … ya begitulah.
Saya paham jika Anda tidak punya waktu, atau daya untuk perduli. Hanya paling tidak, ‘jangan mengotori jalan’ lah.

Mari kita memahami tujuan masing masing dalam memegang kamera. Jika hanya untuk sekedar FUN, maka carilah fun itu. Konsentrasilah ke sana. Fun untuk semua orang, yang bisa dinikmati oleh semua orang.
Jika untuk mencari uang, maka konsentrasilah agar mendapat uang. Bertindaklah agar Anda dibayar pantas, dan membawa kepantasan bagi semua orang yang seperti Anda.

Dan yang sedang piket mengajar, bukankah tujuan menjadi pengajar adalah mengajarkan kebaikkan, agar bisa membawa peserta didik berjalan menuju pada kemajuan?!

Saya tidak pernah melarang Anda untuk menertawakan saya dan atau pemikiran saya. Jika pemikiran Anda lebih baik bagi bangsa ini, silahkan saja dilakukan.

Asal jangan lupa bahwa tingkah kita ada itung itungannya. Sesedikit apapun niat buruk terbersit di hati, Tuhan sudah menghitungnya.

Mungguh saya sih, lebih mudah untuk mengaku, dimana kita meletakkan diri. Sehingga bisa memahami tindakan kita maupun orang lain.
Dan kita bisa kembali menikmati masa masa dengan kamera kita masing masing, dengan tenang. Tanpa gontok gontokan.

ps: Ini fotonya Fadli lho ya. Jangan aneh aneh.

eny erawati 27042015

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s