Pameran APFI Malang 03052015

pameran APFI 2015 Malang photo by enyerawati

pameran APFI 2015 Malang

Diundang datang di pembukaan pameran. Foto dari Jakarta. Saya berniat datang, meski tadinya tidak berniat datang pas pembukaan. Lalu whatsap bertruing truing. Ada alasan utk datang ke pembukaan. Baiklah. Saya datang ke pembukaan. Nawaitu terlambat 5-10 menitlah. Lets see mereka on time apa tidak.
Lima belas menit. Acceptable. Eh, atau should i say, good ya?! Lima belas menit belum dikategori telat lah ya.
Prosesi, cerita, pengantar, bla bla bla, bisa dibaca dikoran lah laporannya. Pengunjungnya wartawan semua. Kalau pemberitaannya salah atau offside kan mereka bisa menjitak temannya sendiri. Saya tak perlu melaporkannya di tulisan ini.

Tibalah saat pembukaan ruang pamer.
Orang berkerumun di pintu masuk.
Hati saya berdegup. Ada kerinduan pada momen seperti itu. Melihat kerumunan orang memasuki ruang pamer. Saya rindu suasana itu.

Begitu pintu masuk agak lengang, saya mulai memasuki ruang pamer dan mencari kuratorial teksnya.

Super serius membacanya. Dan hati saya membuncah. Bahasanya indah. Tulisannya runut. Saya mengenali kerinduan pada suasana itu. Hanya tidak siap mendapati ternyata segitu besar kangen saya pada pameran.

Teks kuratorial itu indah sekali. Saya seperti tak perlu terlalu serius keliling membaca satu persatu foto di ruangan itu. Cukup memahami satu karya yang ditulis di teks itu, dan selesai. Saya bisa mendapatkan seluruh esensi pameran dalam sekejab mata.

Waktu di paragraf bawah, wartawan tv memakai sudut itu utk syuting. Saya minggir. Harus minggir-lah. Saya tidak melihat penulis teks kurasinya siapa. Selama crew TV syuting, saya keliling ruang pamer dengan anak-anak warkop.

“Kurasinya bagus. Sapa yang tulis?” saya bertanya pada teman panitia dari PFI pusat.
“Oscar gitu lho”
“Pantesssssssaan”

Teringat pernah menulis kritik tentang pameran Bang Oscar. Judulnya Romantisme yang … apa gitu. Lupa. Intinya di tulisan saya itu saya jabarkan bahwa romantis dan romantisme itu berbeda. Bang Oscar menyampaikan romantismenya akan Kamboja dengan bahasa visual yang indah dan halus. Tidak seperti tampilan fisiknya yang metal banget.

Foto-foto di ruang pamer perpuskota tampil dalam format besar besar. Flatbed printing direct ke acrylic susu. Frame aluminium polos yang mungil sekali.

Saya menyukainya karena fotonya buwessar-buwessar. Dan flatbed printing. —i wonder berapa orang yang menyadari itu ya. Artinya, fotografi yang ke kota kami adalah fotografi yang berdiri diatas jaman. Dan melihat itu, hatiku menjadi riang. Viewers kota ini, dihargai. Begitulah perasaan saya saat melihat pameran itu.

Pameran foto direct print to media, sudah bisa dilakukan di kota ini, setelah ini. Kan sudah pernah. Harusnya viewersnya sudah tidak kaget lagi. Good.

Andai saya sendirian, mungkin saya akan lebih tahan membaca caption foto satu persatunya.
Tapi dinding pertama dan kedua saja, saya merasa ‘selesai’ dengan membaca fotonya tanpa membaca teksnya.
Selebihnya saya mulai mlumpat mlumpat dalam melihat foto. Masih terlalu crowded.
Essai foto pertama dan kedua membuat saya skip melihat essai berikutnya.
Tapi sangat menyukai cara menampilkannya. Baik media essainya, maupun captioningnya, cara desainer pameran mendesainkan caption. Sungguh, saya sangat menyukainya.

Di dinding terakhir saya mulai membahas aroma ruangan. Bau cat. Ruangan baru di cat.
Hemmmm …
Coba setiap pameran disini, ruangan dalam keadaan bersih begini ya. Pasti indah.
Dan yg nempel pake dobel tape ke dinding di denda suruh tumbas cat tembok plus mbayarin tukang catnya sekalian. Ruang pamer pasti awet bersih.
Dobel tape itu bahaya. Barang berbahaya yg harusnya diharamkan masuk ke ruang pamer manapun.

Fotonya gimana? Beli saja bukunya. Di jual kok di pintu masuk. Ada harga harganya. Kali ini, saya sedang tidak membahas foto fotonya.

Tapi satu hal yang saya harap anda melakukannya jika masuk ke ruang pamer di perpuskota Malang kali ini.
Baca teks kurasinya, sampai paragraf yang paling bawah. Minimal, lunaskanlah membacanya sampai tuntas.
Saya jamin, Anda akan bisa melihat pameran dari sisi yang sedikit berbeda. Bahkan mungkin, Anda akan bisa memahami apa apa saja yang kira kira saya baca di ruang pamer itu, dalam sekali putaran. Caption foto dengan teks kurasi mengandung perbedaan jarak kira kira bumi ke bulan lah. Sama sama riilnya. Tapi style agak jauh bedanya.

Photonya buwessar, direct print to media, kurasi yang indah, captioning yang menyenangkan (essai), dan buku katalog yang dijual juga di depan. Saya merindukan pameran yang seperti itu.

Selamat untuk pamerannya. Saya lebih setuju foto bukan orang utan yg ditaruh di pintu masuk.
Tapi andai foto cover katalog yg ditaruh di pintu masuk maka mungkin rani-rani yang menghuni ijen dan sekitarnya akan berkumpul juga diruang pamer itu.
Foto ibu pengungsi yang menangis meratapi anaknya mungkin lebih acceptable untuk dipasang dipintu masuk, tapi mungkin juga akan memberi kesan membosankan karena ‘terlalu mainstream’.

For short, sepertiga ruangan berisi foto yang “moment” banget. Foto yang jika telat njepret, momentnya ilang, lewat. Seperempat ruangan berisi foto essai yang … uhmmm … ehmmm … Sisanya, berisi foto yang menjadi catatan sejarah buatan para pewarta foto, plus citizen photo journalist. Foto yang dibuat oleh citizen non fotografer media.

Ruang pamer jadi berasa sempit karena fotonya buwessar-buwessar.

Tapi saya lebih suka foto seukuran itu. Viewers bisa lega membaca foto foto yang dipamerkan disana.

Sekian laporan pameran foto di perpuskota.

enyerawati 03052015
Selamat datang di Malang. Selamat menikmati kota. Have fun.

Eny Erawati binti Munif. 03052015

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s