Pengajar yang Sekolah Mengajar

Menceritakan progressku yang insyaallah akan mulai meneruskan sekolah pasca pada tadz Juki (KH Marzuki Mustamar), beliau bertanya, apakah masih akan mengajar?

Insyaallah tetap ngajar tadz. Sekolah saya itu sekolah mengajar, tanpa mengajar, maka saya tidak memiliki laboratorium mengajar untuk kepentingan sekolah saya itu. Jadi, saya tetap mengajar, supaya laboratoriumnya tetap ada.

Hatiku terus bercerita, bahwa pasti akan sulit sekali bagi seorang yang belajar mengajar (menjadi guru) tapi tidak memiliki laboratorium mengajar.
Jika pengamatan dan analisis ajarnya berhasil, maka dia akan memberi kontribusi yang tidak sedikit bagi dunia pendidikan. Metode ajar yang diamati, diuji, atau dikembangkannya, akan membantu pendidikan generasi bangsa.
Jikapun hipotesanya gagal, maka catatan penelitiannya bisa dijadikan referensi untuk generasi setelahnya.
Intinya, dunia kependidikan, dalam hal ini, guru yang sedang sekolah, tetaplah membutuhkan laboratorium ajar baginya untuk melakukan pengamatan.

Kelas ajarku di Sidoarjo. Aku membutuhkan rata rata 3 jam untuk sampai di tempatku mengajar, dan another 3 jam untuk pulang.
One day ngajar, one day off, selang seling setiap kali dalam seminggu.
Biasanya begitu.
Sekarang beban itu akan bertambah.
Seminggu akan ada hari hari ngajar, dan hari sekolah pasca, tanpa day off.

At some point, aku merasa dunia kira kira akan menjadi persis seperti yang diceritakan kyai Masduqie jaman ngaji dulu.

Untung aku tidak lagi terlalu attached pada mall. Dan untung aku hidup di dunia serba pdf. Sehingga kira kira, aku tidak terlalu takut kekurangan buku meski tidak ke mall. Untung aku hidup di era banyak toko online, sehingga andai perlu belanja, tinggal klik klik, bayar, nanti barangnya datang sendiri.

At some point, mungkin, temanku nanti hanyalah mereka yang tidak lagi berniat berburuk sangka padaku. Meski mungkin jumlah akan makin sedikit. Tidak semua orang paham, bahwa sekedar untuk tersenyum, tubuh membutuhkan beberapa hormon yang harus dalam keadaan berfungsi normal. Jika daya tubuhnya tidak mencukupi, maka untuk senyumpun mungkin tubuh akan mengambil jatah ‘hidup’ organ yang lainnya.
Sangat mungkin, in the next 2 years of future, akan makin banyak orang yang menilaiku sombong, atau apalah.
What can i do? nothing.

Diantara ceritaku yang tak semuanya kukatakan pada tadz Juki itu, beliau tiba tiba berkata, “Mugi mugi diantara sibuk sibuknya ngajar dan sekolah itu, lalu nanti njenengan ketemu jodoh”

Dan semua orang yang berada di ndalem, yang separuh ruangannya adalah rombongan keluargaku, menjawab serempak dan lantang, “Aamiin!”

kiss emotikon

enyerawati munif, 19072015

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s