Heterogenitas Yang Dipaksa Homogen

Prinsip homogenitas
::
Salah satu hal yang mengusik otak saya hari ini adalah homogenitas. Bahwa homogenitas memiliki syarat utk diterima dan valid disebut sebagai homogen, seperti kelaziman yang malah membuat duduk saya tidak jenak.
Murid, adalah agen agen heterogen yang dipaksa homogen. Sebuah hipotesa yang tiba tiba menyeruak mendahului kalimat lain.
Saya pernah berbincang dengan dosen sebuah universitas mengenai ini. Bahwa apapun bagaimanapun masukannya, keluarannya harus sama. Apalagi ada standar kompetensi yang ditetapkan disana.
Apapun masukannya, keluarannya harus sama. Pengajarlah yang harus jadi ‘tukang sulap’.

Fotografi adalah mata kuliah yang sangat mudah membuat saya geregetan jika harus diperlakukan begitu.

Das Seins dan Das Solent nya sudah jelas terlalu jauh berbeda antara saya dengan kepala pendidikan di tempat saya mengajar. Apalagi antara saya dengan kepala bagian standarisasi nasional.

Masukan kelas saya tidak mungkin dihomogenkan. Ada yang masuk kelas karena passion, ada yang masuk kelas karena last option.
Keluarannya lebih tidak mungkin untuk dihomogenkan terutama karena waktu praktek yang terlalu sedikit. Apalagi harus dibagi dengan sejumlah penghuni kelas. Alat belajarnya bisa sama, tapi waktu belajar per anaknya terlalu sedikit. Waktu utk belajar mirip dengan waktu utk ujian. Tidak pingsan saat praktek saja sudah bagus.
Maka menghomogenkan keluaran kelas saya terutama di bidang fotografi? Nonsens.

Ego saya berkata begitu.

Know yourself dan kau akan tahu Tuhanmu.

Tetiba saya merasa melupakan sesuatu. Ilmu apapun, ada pemiliknya. Ada sang Ilmu yang menjadi pemilik aslinya.
Saya kembalikan saja pada pemiliknya.
Saya hanya tahu bahwa metode ajar yang kemarin saya pakai, tidak efektif. Metode lainnya bagaimana? Lha itu. Saya tanyakan pada pemilik ilmu nya saja lah.

I need some time to think it over again.

Yang pasti. Yang saya sangat tahu. Penghuni kelas matkul fotografi saya kemarin, memiliki terlalu sedikit waktu untuk memegang kamera. Bahkan utk sekedar memegangnya.
Maka mereka tidak bisa dihomogenkan dengan teman teman peserta workshop yang pernah mengundang saya menjadi pembicaranya, misalnya. Apalagi dihomogenkan dengan teman teman di komunitas fotografi. Nonsens.

Sedikit banyak saya merasa berdosa karenanya.
Berdosa pada orang tua dari murid murid saya.

Homogenitas itu, sesuatuh sekali.
😦

enyerawati, 14082015

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s