I was trying to save you honey

“I was trying to save you honey”
“I knew that. (I knew that) You always do”
Suer.
And i didnt mean to opposed you. Hanya saja kecepatan responku perlu di rem, kesimpulan ‘sopan’nya begitu.

Itu pembicaraan riil. Aku dan temanku di kelas. Saat itu, aku sedang mencoba menyatakan ideku di depan kelas, dan temanku itu memberikan responnya.

Sejak awal mendengar responnya, berbagai suara bergemuruh memenuhi kepalaku, menuju pada satu titik.
Ada yang masih salah dengan komunikasiku. Aku menangkap nawaitunya, tapi tidak menangkap maksudnya. Whats on earth he was trying to say?

Aku menangkap maksudnya hanya dari suaranya saja. Aku menangkap maksudnya untuk menyelamatku, atau apapun istilahnya, apapun caranya, hanya dari suaranya saja. Aku sudah yakin intensinya hanya untuk menolongku. Hanya saja, konteksnya, saat itu aku sedang mencoba presentasi, tanpa modal visual. Ada yang missed.

Dan segera menyadari titik masalahnya ketika dia pada akhirnya menemukan kalimat, “jika pada kajianmu ketahuan bahwa itu bukan asli buatan Malang, apa ndak sayang idenya?”
Sepanjang kami seolah adu argumen, ternyata, dia sedang berusaha menghaluskan kalimatnya, atau merapikan maksudnya, demi menyampaikan satu kekhawatirannya.

Thats the case.

Kadang, atau ternyata masih, aku memaksakan diri bicara, pada orang yang jelas visual. Seperti melupa, bahwa tingkat probabilitas kegagalan komunikasinya sudah diatas 50%.

Audial yang memaksakan diri bicara pada orang visual = transfer pesannya buruk sehingga most likely komunikasinya gagal.

Orang visual lebih mahir membaca bahasa visual. Transfer pesan lebih baik jika kanal komunikasinya tampak mata. Bahasa tubuh saja, bisa dibaca dengan jauh lebih cepat. Sekedar dari bagaimana mata memandang, atau gerakan tubuh yang sedikit gelisah, orang visual akan by nature bisa menangkap konteks pesan dengan cepat.

Orang audial sebaliknya. Dunia akan lebih cepat dia serap manakala dia diam, menunduk, 100% all ears. Baginya, itu konsentrasi yang luar biasa. Dan kecepatan transfer pesan, bisa terjadi hingga ke pesan yang tanpa suara.

Kalau diingat, aku sering bercerita gus Ali berkata padaku begini begitu, yang kutangkap dari kalimat yang sepertinya biasa saja, atau malah tanpa kata kata.

Berbahasa tanpa suara. Orang audial bisa mendengar suara tanpa suara, jika ia dibiasakan utk melakukannya. Pada gus Ali, aku bisa melakukannya. Meski sebenarnya bukan aku yg bisa. Tapi beliau yang melakukannya, sementara aku cuma mendengarkannya saja.

Aku mudah menangkap maksud seseorang hanya dari suaranya saja. Dan menjadi seperti orang cacat visual manakala diajak berbahasa visual.
Itu sebabnya aku sekolah. Baik foto, DKV, maupun visual art seperti saat ini. Karena aku perlu belajar untuk mahir berbahasa visual. That’s where we R livin in.

Maka, saat temanku berusaha merapikan kalimatnya untuk mengatakan bahwa ideku memiliki kelemahan yang sangat mendasar, lalu aku njujug berkeyakinan bahwa dia sedang berusaha menolongku, bukan mendebat ideku. Aku segera sadar bahwa itu seperti memelihara sungai air tawar didalam samudera. Sama airnya, tapi tak mungkin terjadi transfer konteks. Dan itu berarti komunikasi yg gagal.

Harusnya aku menunggu sampai kalimatnya rapi. Sampai dia mengatakannya. The only way aku mudheng, adalah saat dia mengatakannya. Maka manakala ia sedang berusaha merapikannya, harusnya aku menunggunya. Bukan menjawab/meresponnya.

Dunia dimana kita tinggal ini, makin hari makin visual. Orang lebih mahir berkomunikasi secara visual daripada suara. Confirmity, juga dilakukan visual. Makin hari, makin visual.

Jika akan merespon dunia, do it visually.

Kegedean. Jika akan merespon teman, pastikan si teman sedang pada kondisi apa. Jika dia sedang berdaya visual baik, berkomunikasilah secara visual. Manakala audialnya yg lebih baik, komunikasikanlah dengan suara.

Yang sekampung denganku mungkin sering mendengarku bicara, “ngomong dunk. Kalau tidak diomongkan, bagaimana aku tahu? aku bukan dukun je”.
Itu adalah suara keputus asaanku atas orang visual yang sok yakin sudah mengatakan maksudnya, dan aku tidak mendengarnya.

Aku bukan dukun je.
Kalau kau tidak berbahasa audial, atau tidak memakai metode bebahasa audial, maka kemungkinan aku gagal menangkap maksudmu.
Meski satu dua kata, katakanlah. Biasanya aku segera paham jika aku mendengarnya.

Dan sebaliknya, aku harus mengingatkan diriku bahwa dunia ini, makin banyak saja orang yang lebih mahir bahasa visual. Maka jika sedang tidak punya visualnya, mending tidak usah memberi respon apa apa. Lambenya di rem. Otaknya dipakai. Do it in visual way.

Pelajaran sekolahku hari ini, itu.

Opo?
Yo ngunu kuwi lah 😀

enyerawati, 11092015

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s