Tugas Sekolah Terberat

Cerita anak sekolah
A session with my prof

Sekolah sambil mengajar aktif, lelahnya ndak umum. Kepala di clonning berapa kalipun, tetep akan anget. Kalau di prioritas, anak anak masih yang paling atas. Masa depan mereka dan kesuksesan pembelajaran dengan anak anak, masih menduduki prioritas utama. Kegagalan di kelas mereka, bisa membuatku stress tak ada obatnya. Perasaan bersalah yang tak bisa diatasi kecuali oleh Sang Pemilik Ilmu sendiri.

Sekolah dan mengajar aktif, kadang membuatku lelah hati. Kebiasaan membela kelas, terpacu untuk selalu mencari solusi, agar kelas bisa diajak berlari, kebiasaan itu kini, menyedot energiku sendiri. Lelah hati, siapa yang rugi manakala tak mahir memanajemeni energi? Tentu saja diriku sendiri.

Yang terberat dari semua tugas, yang tersulit dari semua assignment, adalah justru yang paling intangible, dalam artian setoran ketikan.

Tugas terberatku justru dari profesorku, yang tak bisa diketik. Bahkan tak bisa ditulis, karena akan memunculkan macam macam persepsi di benak yang membacanya. Manusia itu mahir menilai, tapi tak pernah mampu menjadi pemain yang sempurna memainkan piket perannya. Wanine mung dadi komentator thok. Tukang celathu (=tukang mencaci) mbarang.

Tugas tersulit itu adalah untuk HANYA MENILAI ORANG DARI KELEBIHANNYA SAJA. Tidak boleh melihat kekurangannya.

Bagi generasi yg menghirup udara dipenuhi bahasa celathuan ini, melakukan simple task seperti itu, lak wangel toh?! Sulit pake banget kan?!
Sik sik sik, saat membaca tulisan caps lock itu, apa yang ada di benak anda tentang saya?
Lak prejudice toh. Belum belum Anda sudah prejudice pada saya.

Tugas tersulitku ndak cuma itu. Ada lagi, sama intangibelnya jika parameternya adalah setoran ketikan tugas. Tapi kali ini, bisa ditulis. Another simple task, tapi susah sekali untuk kulakukan. Ini soal kepribadian, dan soal aku memang selama ini menghindar dari melakukannya.
Tugas itu adalah mengatakan pada komunikan (=orang yang sedang kita ajak berkomunikasi) untuk mengapresiasi usaha yang sudah dilakukannya dengan kalimat, “Kamu Hebat”.

Bagiku, dengan warna kepribadianku, butuh kejernihan sebening kristal untuk mengatakannya.
Bagiku, dengan warna kepribadianku, biar langit runtuh, kalau kalimat itu mengandung setitik saja alasan palsu, aku tak ingin mengatakannya.

Maka, tugas memberika pujian atau ‘pujian’ itu, adalah tugas terberat dari profesorku. Mengalahkan semua tugas tulisku yang bergunung-gunung itu.

Diujung subuh, saat aku bisa melihat diriku sendiri, aku menimbang nimbang hatiku.
Kata ‘hebat’ kan bukan pujian yang menilai fisik. Jika untuk bilang ‘tidak cantik’ saja kuganti menjadi ‘ganteng’ dengan mudah, lalu apa susahnya menganggap ‘kamu hebat’ sebagai sebuah kalimat doa agar dia yang sedang kukatai begitu menjadi hebat beneran.

Setiap kalimat muslim mukmin adalah doa.
Baiklah, aku akan sering sering berkata ‘kamu hebat’.
Jika bukan karena aku memuji, berarti karena aku sedang mendoakanmu. Begitu saja ya. Deal kan?!

Eny Erawati Munif,

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s