Macam macam orang

Ada yang suka berkoar, menyuarakan pendapatnya, asal berkoar, apapun pendapatnya, pokok orang mendengar dia memiliki pendapat saja.
Fungsi ndak fungsi, benar atau salah, belakangan saja.

Ada yang merasa dia sudah menimbang pendapatnya, lama atau sebentar, pokok sudah dia timbang timbang, maka seluruh dunia perlu mendengar pendapatnya, menurutnya. Dia tak perduli apa penilaian orang atasnya.

Ada yang merasa, pokok jika dunia ke kanan, maka dia harus ke kiri. Dia tidak ingin disebut ikut ikutan. Pokok harus berbeda, dan harus menemukan reasoning pembedanya. Supaya tampak kesan pintar atasnya. Sembunyi dibalik ilmunya.

Ada yang suka diam saja, sesungguhnya dia punya pendapat, tapi dia sendiri meragukan pendapatnya. Dia merasa tak pantar bicara, karena menurutnya, alasan pendapatnya tidak terlalu membuatnya yakin dalam membicarakannya.

Ada yang suka bisik bisik dibawah meja.
Menggunjing pendapat seratus orang sedunia di setiap waktunya, seolah mau berkata, bahwa dia selalu bisa menemukan kekurangan pendapat orang, sesiapa saja yang berpendapat apa saja. Dia akan menemukan kekurangan dari pemikiran orang lain itu. Dia merasa lebih pintar dari semua orang, tapi sok cool. seperti diam saja, padahal bisik bisik di bawah meja.

Ada yang suka berstrategi, dan menggunakan bahasa sebagai strateginya. Yang dipikirkannya adalah membuat orang memahami dirinya. Dia tidak membuat istilah baru yang membuat orang tersesat memaknai maksudnya. Tapi malah memakai istilah yang ada, untuk menjelaskan lebih gamblang ide idenya.
Bahasa sebagai strateginya. Tidak membuat orang makin bingung dengan istilahnya, tapi malah memakai bahasa biasa untuk mempercepat maksudnya.

Orang ada macam macam bentuk dan jenisnya. Ada macam macam isi otak dan hatinya. Ada macam macam visi dan misinya atas kehidupan di dunia.
Aku tidak menyusun itu dalam rangka mengkotak kotakkan manusia.
Hanya mengingatkan, bahwa kita bisa semunafik itu, di setiap saatnya.
Kita bisa sama dengan orang yang kita tidak suka, tanpa kita sudi mengakuinya.
Kita bisa jauh berbeda dengan pengakuan kita atas diri kita.
Kita, bisa sedemikian munafiknya, di setiap saatnya.

Sebelum mengingatkan orang lain,
Please do this one.
Mengaca lah, bercerminlah, merefleksi diri, dan mendengarkan nurani.
Dunia tidak akan pernah menjadi seperti yang kita angankan, sampai kapanpun juga.
Sebelum menilai orang, berkacalah.
Tidakkah kita yang terlalu prejudice ketika menilai orang?!

enyerawati munif, 29112015

Iklan

About enyerawati

i am just an ordinary girl, who fall in love with al Hikam, i have a bit of phographic background from Institut Kesenian Jakarta, and having a class at Desain Komunikasi Visual Univ. Negri Malang at the moment. i am an old student, well, ... kind of :)
Pos ini dipublikasikan di eny bicara Fenomena. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s